Untuk kalian, wahai kakak-kakakku, yang dulu pernah mengulang mata kuliah dan sekarang mungkin sudah alumni serta sudah menjalani kehidupan masing-masing, juga untuk kalian, wahai adik-adikku, yang mungkin akan mengulang mata kuliah.
Halo. Aku mahasiswa semester 9. Pada 4 semester belakangan, aku sedang berusaha memperbaiki IPK yang semulanya 2.73, yaitu dengan mengulang mata kuliah dengan harapan aku mendapatkan ilmu yang kuinginkan serta nilai yang kubutuhkan. Aku ucapkan syukur dan terima kasih kepada Allah, kemudian kepada pihak-pihak yang banyak membantu dalam proses mengulang ini, karena akhirnya IPK-ku kurang 0.02 untuk mencapai angka 3.
Namun, tahukah kalian, wahai kakak dan adikku, bahwa ada beberapa pengalaman yang kurang mengenakkan buatku selama aku mengulang mata kuliah.
Terkadang, aku yang mengulang ini dipandang, khususnya oleh beberapa adik-adik dan terkadang juga oleh dosen, sebagai mahasiswa yang sembarangan mengulang. Terkadang, aku merasa terkucilkan ketika ada kerja kelompok, seperti dilupakan ketika ada pembagian tugas, tidak terlalu dianggap ketika menyampaikan pendapat saat diskusi, dan beberapa hal lain yang tidak perlu disebutkan.
Tahukah kalian, sejak awal perkuliahan, aku selalu berpikir bahwa berapapun IPK yang aku dapatkan, aku akan puas ketika ilmu yang aku dapatkan terasa manfaatnya. Aku tidak pernah berpikir bahwa IPK harus sekian dan sekian, selama ilmu yang kupelajari dapat mengubah cara pandangku terhadap aspek-aspek dalam kehidupan, ke arah yang lebih baik tentunya. Maka dari itu, ketika aku mengulang mata kuliah pun, aku anggap perbaikan IPK sebagai bonus yang sedang aku kejar karena aku butuh, tapi lebih dari itu, ada ilmu yang aku inginkan karena aku sadar betul bahwa pada mata kuliah terkait aku sama sekali tidak serius sebelumnya.
Aku mencoba mengamati, apa yang sebenarnya menyebabkan sikap adik-adik kepada kakaknya yang mengulang ini. Aku mendapati di antara sebabnya adalah sikap kakak-kakak yang sebelumnya pernah mengulang juga. Beberapa rekan yang mengulang menampakkan sikap "bodo amat" ketika mengulang. Tidak hadir di perkuliahan terlalu sering, tidak aktif ketika diskusi, tidak memperhatikan tugas-tugas, hal-hal ini banyak terjadi sebelumnya. Mungkin, ini menimbulkan stigma pada mahasiswa yang mengulang setelahnya, yaitu stigma bahwa mahasiswa mengulang itu cenderung tidak serius dan hanya ingin menumpang nama serta berharap mendapatkan nilai yang baik.
Pesanku, untuk kalian, wahai kakak-kakak yang dulu pernah mengulang dan tidak serius, aku tahu sudah bukan waktunya kalian memperbaiki situasi ini, tapi aku harap sikap seperti itu tidak terbawa ke kehidupan kalian saat ini.
Pesanku, untuk kalian, wahai adik-adikku yang nantinya bertemu dengan kakak tingkat di kelas kalian, jangan pernah segan terhadap kakak tingkat itu. Anggaplah kakak itu tidak lagi memiliki batasan selain usia untuk dipanggil kakak. Libatkanlah kakak ini dalam setiap perkuliahan kalian sebagaimana kakak ini adalah rekan setingkat. Sekiranya ada kakak tingkat yang tidak serius mengulang sehingga mengharuskan kalian melakukan backup, mohon camkan dalam benak kalian bahwa tidak semua kakak tingkat yang mengulang bersikap seperti itu.
Pesanku, untuk kalian, wahai adik-adikku yang nantinya mungkin akan mengulang juga, aku paham betul bahwa tiap orang punya tujuannya masing-masing, dan ini akan memengaruhi sikap tiap orang dalam melakukan sesuatu, sebut saja dalam hal mengulang mata kuliah. Apapun tujuan kalian, aku harap kalian untuk melakukan semua yang kalian inginkan dengan konsekuen, serta berusaha sebaik mungkin untuk tidak berpengaruh buruk pada rekan-rekan kalian. Sekiranya ingin bermalas-malasan, silakan tetap lakukan, tapi ketahui konsekuensinya dan bagaimana sikap kalian memengaruhi rekan kalian, begitupun sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar