Kamis, 10 Desember 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Pesan untuk Mahasiswa yang Mengulang Mata Kuliah

Untuk kalian, wahai kakak-kakakku, yang dulu pernah mengulang mata kuliah dan sekarang mungkin sudah alumni serta sudah menjalani kehidupan masing-masing, juga untuk kalian, wahai adik-adikku, yang mungkin akan mengulang mata kuliah.

Halo. Aku mahasiswa semester 9. Pada 4 semester belakangan, aku sedang berusaha memperbaiki IPK yang semulanya 2.73, yaitu dengan mengulang mata kuliah dengan harapan aku mendapatkan ilmu yang kuinginkan serta nilai yang kubutuhkan. Aku ucapkan syukur dan terima kasih kepada Allah, kemudian kepada pihak-pihak yang banyak membantu dalam proses mengulang ini, karena akhirnya IPK-ku kurang 0.02 untuk mencapai angka 3.

Namun, tahukah kalian, wahai kakak dan adikku, bahwa ada beberapa pengalaman yang kurang mengenakkan buatku selama aku mengulang mata kuliah.

Terkadang, aku yang mengulang ini dipandang, khususnya oleh beberapa adik-adik dan terkadang juga oleh dosen, sebagai mahasiswa yang sembarangan mengulang. Terkadang, aku merasa terkucilkan ketika ada kerja kelompok, seperti dilupakan ketika ada pembagian tugas, tidak terlalu dianggap ketika menyampaikan pendapat saat diskusi, dan beberapa hal lain yang tidak perlu disebutkan.

Tahukah kalian, sejak awal perkuliahan, aku selalu berpikir bahwa berapapun IPK yang aku dapatkan, aku akan puas ketika ilmu yang aku dapatkan terasa manfaatnya. Aku tidak pernah berpikir bahwa IPK harus sekian dan sekian, selama ilmu yang kupelajari dapat mengubah cara pandangku terhadap aspek-aspek dalam kehidupan, ke arah yang lebih baik tentunya. Maka dari itu, ketika aku mengulang mata kuliah pun, aku anggap perbaikan IPK sebagai bonus yang sedang aku kejar karena aku butuh, tapi lebih dari itu, ada ilmu yang aku inginkan karena aku sadar betul bahwa pada mata kuliah terkait aku sama sekali tidak serius sebelumnya.

Aku mencoba mengamati, apa yang sebenarnya menyebabkan sikap adik-adik kepada kakaknya yang mengulang ini. Aku mendapati di antara sebabnya adalah sikap kakak-kakak yang sebelumnya pernah mengulang juga. Beberapa rekan yang mengulang menampakkan sikap "bodo amat" ketika mengulang. Tidak hadir di perkuliahan terlalu sering, tidak aktif ketika diskusi, tidak memperhatikan tugas-tugas, hal-hal ini banyak terjadi sebelumnya. Mungkin, ini menimbulkan stigma pada mahasiswa yang mengulang setelahnya, yaitu stigma bahwa mahasiswa mengulang itu cenderung tidak serius dan hanya ingin menumpang nama serta berharap mendapatkan nilai yang baik.

Pesanku, untuk kalian, wahai kakak-kakak yang dulu pernah mengulang dan tidak serius, aku tahu sudah bukan waktunya kalian memperbaiki situasi ini, tapi aku harap sikap seperti itu tidak terbawa ke kehidupan kalian saat ini.

Pesanku, untuk kalian, wahai adik-adikku yang nantinya bertemu dengan kakak tingkat di kelas kalian, jangan pernah segan terhadap kakak tingkat itu. Anggaplah kakak itu tidak lagi memiliki batasan selain usia untuk dipanggil kakak. Libatkanlah kakak ini dalam setiap perkuliahan kalian sebagaimana kakak ini adalah rekan setingkat. Sekiranya ada kakak tingkat yang tidak serius mengulang sehingga mengharuskan kalian melakukan backup, mohon camkan dalam benak kalian bahwa tidak semua kakak tingkat yang mengulang bersikap seperti itu.

Pesanku, untuk kalian, wahai adik-adikku yang nantinya mungkin akan mengulang juga, aku paham betul bahwa tiap orang punya tujuannya masing-masing, dan ini akan memengaruhi sikap tiap orang dalam melakukan sesuatu, sebut saja dalam hal mengulang mata kuliah. Apapun tujuan kalian, aku harap kalian untuk melakukan semua yang kalian inginkan dengan konsekuen, serta berusaha sebaik mungkin untuk tidak berpengaruh buruk pada rekan-rekan kalian. Sekiranya ingin bermalas-malasan, silakan tetap lakukan, tapi ketahui konsekuensinya dan bagaimana sikap kalian memengaruhi rekan kalian, begitupun sebaliknya.

Rabu, 23 September 2020

Keresahan: Salah Menyalahkan

 Ada perasaan yang paling aku tidak suka: perasaan bersalah.

Merasa bersalah membuatku sangat terganggu. Menyebalkannya adalah perasaan ini bisa aku rasakan sekalipun aku tidak disalahkan. Aku bisa memikirkan tentang salahku sampai berhari-hari. Lebih menyebalkan lagi ketika aku merasa bersalah tapi tidak mengerti apa salahku. Lebih menyebalkan lagi ketika ada orang yang membuat seakan aku salah padahal aku belum betul-betul mengerti. Lebih menyebalkan lagi ketika aku disalahkan atas sesuatu yang aku sama sekali tidak mengerti.

Biasanya, aku akan berpikir tentang apa benar aku salah, apa salahku, kemudian entah mengapa aku merenunginya, lalu aku berpikir tentang bagaimana aku menyelesaikannya.

Terkadang, aku berhenti cukup lama pada saat aku memikirkan apa benar aku yang salah. Apalagi, ketika ada yang membuat seakan aku yang salah, aku akan berhenti cukup lama dan berpikir apa benar aku yang salah.

Aku selalu beranggapan, ketika ada masalah, maka tidak mungkin salahnya hanya di satu pihak. Bahkan, semua pihak punya kontribusi salahnya masing-masing.

Maka dari itu, aku menghindari menyalahkan orang lain. Aku terkadang masih tidak mengerti mengapa pada suatu masalah harus diketahui tentang siapa yang salah. Aku betul-betul berusaha memikirkan sebelum berkata-kata dan bersikap agar tidak sedikitpun terkesan menyalahkan orang lain. 

Keresahan: Keadilan

 Ada sebuah ungkapan yang masyhur:

"Dunia ini tidak adil!"

Semulanya, aku beranggapan bahwa ungkapan ini sepenuhnya tidak benar. Aku percaya betul bahwa Allah itu Maha Adil. Aku percaya betul bahwa di balik peristiwa di dunia ini yang tidak mengenakkan sekalipun, ada sesuatu yang sesungguhnya adalah kebaikan yang dapat mengimbangi akibat dari peristiwa itu. "Dunia itu adil!" Begitu pikirku saat itu.

Semakin aku berjalan jauh di atas umur, aku mulai merasakan hal-hal yang pada akhirnya tidak bisa aku temukan "adil" di dunia ini. Kecurangan menginjak-injak kejujuran. Air susu dibalas air tuba. Rakyat yang malas memikirkan pemimpin dan negara sembari mengangkat papan-papan bertuliskan "PEMIMPIN TIDAK BECUS", "RAKYAT TIDAK MAKMUR", sementara para pemimpin berusaha dengan segala keringat dan darah yang mereka punya. Begitupun sebaliknya, rakyat yang berusaha menaati pemimpin sembari berusaha dengan segala daya upaya untuk memakmurkan suatu negeri, sementara pemimpinnya sibuk menimbun pundi-pundi emas.

Aku mulai berpikir, "Memang benar, dunia ini tidak adil!"

Ya, dunia ini tidak adil! Jangan harap menemukan keadilan di dunia ini!

Aku masih betul-betul percaya bahwa Allah itu Maha Adil. Juga, hanya pengadilan Allah yang adil. Tidak akan kita merasakan keadilan sampai kita sudah selesai dari dunia ini.

Lantas, setelah mengetahui dunia ini tidak adil, apakah aku tidak perlu berusaha bersikap adil?

Jumat, 28 Agustus 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Siswa Caper

Sempat ramai di media sosial soal konten yang mengangkat cerita di sekolah. Maklum, para pelajar mungkin merasa rindu atau kehilangan suasana sekolah sehingga mereka menginginkan nostalgia singkat melalui konten. Ada yang mengangkat tipe-tipe siswa, tipe-tipe guru, kenangan di organisasi dan kegiatan sekolah, dan lainnya.

Ada satu rupa konten yang aku soroti akhir-akhir ini: peserta didik yang cari perhatian. Beberapa pembuat konten mengangkat cerita tentang tipe siswa yang umumnya tidak disukai, yaitu mereka yang banyak bertanya saat pelajaran, terkesan mencari muka di hadapan guru atau dosen, sering follow up mengenai tugas, dan sebagainya. Singkatnya, mereka-mereka ini dijuluki sebagai "siswa caper".

Rangkuman dari konten-konten ini menyatakan bahwa "siswa caper" ini identik dengan hal-hal berikut:

  • Berpenampilan rapih dan membosankan, kelihatan serba lengkap dengan tas ransel yang besar, yang disebut-sebut berpenampilan "culun".
  • Selalu menempati kursi paling depan di kelas.
  • Aktif di kelas, sering bertanya saat pelajaran, sehingga terkadang bisa mengulur waktu bagi yang lainnya.
  • Sering menanyakan tugas yang pernah disebut oleh guru atau dosen sebelumnya, di saat siswa lain berharap guru atau dosen lupa akan tugas itu.
  • Enggan bekerja sama saat ujian.
Sebenarnya, aku sendiri yang merasa tersindir ketika melihat konten-konten ini. Beberapa hal di atas ada pada diriku. Aku selalu berusaha berpenampilan rapih di kampus dengan menggunakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana serta selalu menyimpan pulpen di saku dada kemeja. Aku suka dengan ransel berukuran besar dengan kompartemen yang banyak karena aku hampir selalu membawa laptop dan botol minum berukuran 800 mL ke kampus. Aku selalu berusaha mendapatkan kursi depan, tepatnya di kursi yang bersebelahan dengan saklar lampu dan pintu, karena aku merasa nyaman saja. Aku selalu berusaha aktif di kelas dengan "menyeletuk" ketika dosen memancing keaktifan mahasiswa, karena mahasiswa di kelasku umumnya pasif dan aku pikir tidak etis membiarkan dosen bertanya tanpa dijawab sedikitpun. Sekalipun betul-betul tidak terpikirkan jawabnya, aku akan jawab bahwa aku tidak tahu. Aku paling benci bekerja sama dalam ujian, dan aku masih tidak bisa merelakan orang-orang yang mengintip jawabanku saat ujian.

Satu hal yang tidak ada padaku: aku benci tugas. Akupun bersyukur ketika ada tugas yang akhirnya dilupakan oleh dosen karena kemungkinan besar aku belum mengerjakannya.

Aku punya pandangan tersendiri mengenai cari perhatian:

Sebenarnya, apa salahnya mencari perhatian, atau lebih kasarnya disebut mencari muka? Aku mengakui kalau aku adalah tipe siswa yang senang mencari muka di hadapan dosen. Apa salahnya? Aku mencari muka karena aku tahu betul kemampuanku di bidang kuliahku saat ini sangat minimal. Dengan memiliki nama yang diingat baik di kalangan dosen, aku hanya berharap bahwa sekalipun nilaiku nantinya jelek, aku tidak jadi mahasiswa dengan predikat yang jelek juga. Akupun mencari muka dengan berusaha tidak mengganggu lingkungan sekitar. Misalnya, ketika jam belajar sudah akan selesai, aku tidak akan bertanya banyak ke dosen. Sekalipun aku punya pertanyaan, aku akan temui dosennya di luar kelas.

Terlebih, mengenai konten yang isinya menyinggung siswa yang tidak ingin bekerja sama saat ujian, aku kesal terhadap kontennya. Konten-konten ini umumnya memberikan gambaran bahwa siswa yang enggan bekerja sama saat ujian adalah siswa yang tidak layak ditemani. Sah saja untuk seseorang memilih dengan siapa dia berteman. Yang aku kesal adalah, konten ini bisa memberikan citra buruk terhadap kejujuran, dan kata-kata "buat konten saja" selalu jadi tameng. Entah bagaimana menjelaskannya, alasan aku kesal masih cukup abstrak, tapi aku hanya merasa konten seperti itu tidak baik dan tidak lucu sama sekali.

Ditambah, aku tahu cerita tentang temanku yang bersedih saat mendapatkan nilai yang rendah saat ujian, sementara rekan lainnya ada yang mendapatkan nilai yang lebih baik dan bahkan tinggi dengan jalan menyontek. Makin-makin aku kesal dengan kegiatan sontek-menyontek ini.

Pesanku, untuk rekan peserta didik, jadilah "siswa caper", tapi cobalah untuk tidak mengganggu sekitarmu. Pesanku, untuk rekan pendidik, kenali tipe-tipe peserta didik dan pelajari cara menanganinya.

Rabu, 05 Agustus 2020

Safar

Safar adalah bahasa serapan dari bahasa Arab. Di KBBI, kata safar memiliki 2 penggunaan: Safar yang merupakan serapan dari صَفَر (Shafar) yaitu bulan kedua dari tahun Hijriah dan safar yang diserap dari kata سَفَر (safar) yang artinya perjalanan.

Akhir-akhir ini, aku cukup banyak melalui perjalanan. Setiap hari Ahad, aku berangkat pagi dari Jatinangor ke Bandung, lalu pulang petang hari dari Bandung ke Jatinangor.

Untuk beberapa alasan, aku suka safar. Aku suka dua makna dari kata safar ini. Tapi, aku ingin cerita mengenai perjalanan. Ada beberapa hal yang aku syukuri dari perjalanan:
  1. Perjalanan adalah salah satu dari kondisi di mana doa mustajab. Artinya, doa-doa akan lebih mudah Allah kabulkan. Terlebih ketika kondisi perjalanan ini tergabung dengan kondisi doa mustajab lainnya, semisal hujan.
  2. Konon, perjalanan akan membuka sisi seseorang yang tidak kita lihat sebelumnya. Banyak yang mengatakan kalau kita ingin mengetahui sifat orang yang sebenarnya, bawalah ia ke perjalanan bersamamu. Aku pribadi kurang sepakat kalau menggunakan istilah "sifat sebenarnya", tapi aku pikir "sisi yang belum terlihat" akan lebih relevan. Aku jadi berpikir, sekiranya kelak aku mendapatkan pasangan hidup (baca: istri), pekan pertama kami ingin aku jadikan di suatu perjalanan.
  3. Bersambung dari poin sebelumnya, kalau kita bisa melihat sisi yang belum terlihat dari orang lain di perjalanan, aku mulai merasa kalau aku merasakan sisi diriku yang bahkan aku sendiri belum pernah rasakan sebelumnya di perjalanan, khususnya ketika aku melakukannya sendiri. Aku jadi lebih banyak mengenal diri sendiri.
  4. Perjalanan, khususnya ketika sendiri, memberiku waktu dan suasana untuk berpikir dan merenung. Cukup banyak ide dan pandangan yang referensinya adalah suatu peristiwa di perjalanan.
  5. Nabi Muhammad -selawat serta salam baginya- pernah mengatakan (hadis riwayat Al Bukhari dan Muslim), yang maknanya, "Safar adalah bagian dari azab." Dari hadis ini, aku selalu berharap bahwa setiap langkah dan penatku di perjalanan bisa menjadi penghapus dosa-dosaku.
Tulisan inipun aku pikirkan ketika aku di perjalanan. Khususnya mengenai sisi diriku yang belum terlihat, aku baru-baru menyadarinya ketika hari Ahad lalu aku berjalan pulang selepas mengajar di Bandung menuju Jatinangor. Ini menjadi kacamata baruku terhadap safar.

Minggu, 02 Agustus 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Keinginan Belajar

2 Agustus 2020

Belajar karena dipaksa memanglah epic, tapi pernah gak kalian...ngajar orang yang dipaksa belajar?

Sebetulnya, aku sudah paham dari sejak pertemuan pertama aku mengajar, bahwa peserta didikku belajar bukan karena mereka ingin. Ibu merekalah yang menuntun mereka untuk belajar mengaji. Bagaimanapun, aku paham bahwa ibunya menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya. Akupun ingin bisa menyiarkan Alquran kepada mereka.

Aku percaya, yang namanya dorongan untuk melakukan sesuatu itu bisa ditumbuhkan, sekalipun di awal tidak ada bibit keinginan sama sekali. Aku sendiri merasakan bagaimana aku habiskan sekitar 3 tahun untuk mempelajari sesuatu yang aku tidak inginkan (setengah tahun belajar untuk Ujian Nasional, 2,5 tahun belajar di perkuliahan), yang pada akhirnya aku merasa hampir tidak belajar. Aku merasakan bagaimana keinginan kuat untuk belajar itu muncul setelah 3 tahun dipaksakan, sangat kuat sampai aku berharap bisa mengulang 3 tahun yang sudah berlalu. Aku akui, belajar sesuatu yang tidak diinginkan itu berat. Yang aku lakukan? Hanya meyakini kalau semua proses ini akan ada manfaatnya. Tanpa aku duga, saat ini aku bercita-cita menjadi ahli dari sesuatu yang awalnya tidak kuinginkan sama sekali.

Tapi, mengajar peserta didik yang tidak ingin belajar? Ini aku akui lebih berat. Pasalnya, sebagai pendidik, aku harus berusaha untuk tidak ikut kehilangan motivasi mendidik. Aku harus memberikan dorongan kepada peserta didikku dan terus mencari cara dan celah untuk membuka mata, pikiran, dan hati peserta didikku. Beratnya lagi, ini bukan diriku yang bisa aku paksa-paksa semauku, tapi ini orang lain.

Menahan diriku saja perlu 3 tahun. Kira-kira, bagaimana ya kelanjutan privat mengaji ini?

Pada akhirnya, memang hanya Allah yang tahu dan yang mampu membalikkan hati mereka. Ya Allah, aku mohon, balikkan hati mereka, cerahkan pikiran mereka, agar mereka lebih terbuka untuk mempelajari kitab-Mu. Ya Allah, aku mohon, kuatkan aku sebagai pendidik, tabahkan aku ketika mendapati sikap peserta didikku yang terkadang tak acuh, mudahkan jalanku. Amin.

Selasa, 28 Juli 2020

Keresahan: Relativitas Waktu

TULISAN INI TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN TEORI FISIKA KUANTUM, TEORI EINSTEIN, DAN SEBANGSANYA.

Iya, bukan tulisan ilmiah ya. Hanya opini yang lahir dari pengalaman 😊

Ada ungkapan yang cukup akrab di telingaku:
"Waktu terasa lebih cepat kalau dinikmati, lebih lambat kalau tidak dinikmati."
Mungkin ungkapan di atas juga tidak asing bagi kalian.

Ceritanya, saat itu aku sedang libur. Aku lupa cerita ini terjadi setelah aku menulis "Menghargai Waktu Libur" atau belum, tapi ini sangat terkait. Aku ingat saat itu aku niatkan liburku untuk menjadi ajang menjadi lebih dekat dan lebih banyak membantu orangtua.

Saat itu, aku merasa waktu terasa sangat lambat. Sekitar 2 pekan aku berlibur di rumah, tapi rasanya seperti mungkin 3 pekan atau 1 bulan. Aku rasa-rasa, padahal saat itu aku menikmati hari libur itu, dengan sebisa mungkin lebih banyak dekat dengan orangtua.

Suatu waktu saat itu, ada sebuah diskusi yang dimulai dari ibuku yang berkata,

"Kalau kita nikmatin waktu, biasanya akan terasa cepet yah..." kurang lebih begitu kata ibuku.

Aku yang sudah menyadari sebaliknya, menjawab, "Nggak tuh, sekarang Jiyad ngerasa lebih lambat." Iya, panggilanku di rumah di antaranya adalah Jiyad.

Langsung ibuku menimpali, "Berarti kamu nggak nikmatin dong?" Ya tentu langsung kujawab, "Nggak gitu, ummiii." Aku takut jawabanku sebelumnya menyinggung perasaaan ibuku, tapi aku tidak ingin berdebat dengan ibuku. Ya sudah, aku diamkan saja, berharap bahasan itu tidak berlanjut.

Kejadian itu cukup mengganggu pikiranku. Bahkan, setiap aku teringat kejadian itu, itu selalu mengganggu dan membuatku resah. Ingatan itu selalu membuatku berpikir, "Apa iya aku tidak menikmati waktu itu? Apa benar perasaan cepat lambatnya waktu pasti terkait dengan perasaan kita yang menikmati waktu itu atau tidak? Lalu, apa perasaan yang muncul waktu liburan itu? Kenapa aku merasa senang dan waktu terasa lambat?" Ah, mengganggu sekali!

Hingga akhirnya, setelah cukup lama berpikir dan mengumpulkan pandangan, aku menyimpulkan suatu hipotesis, mungkin itu istilahnya ya, hehe 😐

Begini:
"Waktu terasa lambat ketika berkah, dan terasa cepat ketika tidak berkah"
Dari mana hipotesis ini?

Begini.

Berkah sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya "terus bertambah", "kebaikan" dan makna yang tidak jauh dari dua kata tersebut. Artinya, sesuatu yang berkah akan terasa cukup, bahkan terasa banyak.

Ada sebuah kisah tentang Nabi Muhammad -Sholawat dan salam baginya- dan sahabatnya, Abu Huroiroh -Ridho Allah baginya-, yang bisa mendefinisikan arti berkah. Kala itu, Abu Huroiroh sangat kelaparan, hingga akhirnya beliau mendatangi Nabi dan Nabi mengajak beliau dan beberapa sahabat lain untuk disuguhkan susu. Ketika itu, Nabi yang sudah tahu bahwa Abu Huroiroh kelaparan, terlebih dulu menjamu sahabat lain sampai kenyang, hingga tersisa Nabi dan Abu Huroiroh. Terlintas di pikiran Abu Huroiroh,

"Mengapa tidak saya dulu yang dijamu? Kalau begini, susunya akan habis duluan. Tapi ini tidak jadi halangan bagiku untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya."

https://www.freepik.com/photos/background'>Background photo created by freepik - www.freepik.com

Lantas, ketika tersisa Nabi dan Abu Huroiroh, Nabi menyuguhkan susu yang tersisa kepada Abu Huroiroh terlebih dulu hingga Abu Huroiroh kenyang, sebelum akhirnya Nabi minum susu tersebut.

Oke. Apakah Abu Huroiroh menikmati rasa lapar yang ia rasakan sebelum akhirnya disuguhkan susu? Sahabat juga manusia, tentunya rasa lapar bukanlah hal yang dinikmati. Tapi, ketaatan dan ketundukan beliau kepada Nabi melahirkan keberkahan pada suguhan yang beliau minum. Susu yang mulanya beliau pikir tidak cukup, menjadi terasa mengenyangkan.

Oke. Sekarang, think about it this way:

Mungkin kalian pernah merasa waktu lebih lambat dari biasanya. Coba ingat-ingat, saat apa itu? Apakah saat salat Jumat dan sedang mendengarkan khatib berceramah di atas mimbar, lalu kalian menahan kantuk yang berat? Apakah saat salat tarawih dan imam membaca surat yang tidak biasa dibaca sehingga terasa seperti bacaan panjang? Ketika berpuasa di bulan Ramadhan dan hari sedang panas terik? Ataukah ketika sedang membaca Alquran? Atau apa?

Cocokologi? Iya. Tidak ada bukti valid? Iya. Tidak sesuai dengan perhitungan matematis? Mungkin iya. Makanya aku sebut hipotesis. Percaya atau tidak? Silakan buktikan.

Minggu, 26 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Persiapan Mentah

26 Juli 2020

Seperti biasa, hari ini aku mengajar mengaji untuk dua peserta didikku. Pagi ini aku merasa lebih siap dari biasanya. Materi sudah selesai kusiapkan dari kemarin siang. Aku berpikir hari ini akan menjadi proses belajar yang baik.

Sampai...

Di tengah jalan, aku baru teringat kalau aku lupa bawa logbook dan buku catatan yang biasa aku pakai untuk peganganku. Tapi, ah sudahlah. Itu bukan hal yang esensial. Aku masih bisa merangkum di buku catatan kecil yang selalu aku bawa ke mana-mana. Logbook juga tidak seurgen itu.

Aku biasanya menggunakan media laptop untuk menampilkan presentasi di Powerpoint. Ternyata, lagi-lagi ada kendala. Di tengah proses mengajar, listrik di lokasi tiba-tiba mati, berdampak pada laptopku yang akhirnya tiba-tiba mati karena kehabisan baterai. Aku tidak menyiapkan media lain, jadilah aku hanya menerangkan. Untungnya, bahan presentasiku aku cetak dua buah dan masing-masing peserta didik memegangnya. Tapi, tetap saja aku jadi kaku dan gagap, mungkin karena cukup kaget dan tidak menyiapkan untuk kondisi ini.

Kejadian hari ini menyadarkanku, bahwa seorang pendidik perlu mempersiapkan semaksimal mungkin unutk semua kemungkinan yang bisa terjadi, baik-baiknya dan buruk-buruknya. Atau, mungkin memang begini proses untuk menjadi pendidik: melewati beberapa kejadian yang akhirnya harus dipelajari dan dijadikan patok-patok.

Sabtu, 25 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Gaya Belajar

Aku punya pengalaman tidak mengenakkan sebagai peserta didik.

Aku mengenali diriku sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan multitasking yang baik, sehingga aku merasa harus melakukan hal satu persatu. Begitupun dalam hal belajar, aku merasa tidak nyaman ketika harus menggabungkan lebih dari 1 kegiatan, misalnya mendengarkan sembari menulis, apalagi mendengarkan sembari menulis sesuatu yang terpampang di papan tulis atau proyektor. Dua kegiatan saja sudah membuatku tidak fokus, apalagi tiga.

Kejadian tidak mengenakkan itu terjadi saat perkuliahan semester 2. Aku mengikuti kuliah yang memiliki banyak detail. Aku ingat sekali saat itu bahasannya adalah tentang kandungan kimia dalam tumbuhan. Pengisinya adalah seorang ibu dosen.

Sebetulnya, rekan-rekan dari kelas lain yang sudah mengikuti perkuliahan beliau sudah mewanti-wanti untuk tidak melakukan hal-hal tidak baik di kelas beliau, karena jika demikian, beliau akan mengganti bahasan kuliah hari itu menjadi bahasan tentang kelakuan mahasiswa. Akupun mengusahakan yang biasa aku lakukan (dan menurutku sudah cukup baik sebagai seorang pelajar): duduk di barisan depan dan menyimak secara saksama materi yang disampaikan. Ada yang kurang? Ya, yaitu mencatat.

Aku akui, ada satu kesalahan yang aku lakukan: tidak menyiapkan alat tulis di atas meja. Tapi, sekalipun aku siapkan, aku bisa jamin saat itu aku tidak akan menyentuh satupun alat tulis itu, kecuali bolpoin untuk dimainkan karena aku butuh distraksi kecil. Kenapa aku tidak menyentuh alat tulis? Karena sepanjang perkuliahan, yang ibu dosen ini lakukan adalah terus menjelaskan sembari menunjukkan Powerpoint, otomatis aku hanya akan sibuk mendengarkan dan sedikitnya akan terbagi dengan melihat. Andaikata ibu dosen ini memberikan jeda di tiap halaman Powerpoint-nya, aku mungkin akan mencatat, mungkin.

Otomatis, posisi dudukku yang paling depan, lebih tepatnya di depan beliau berdiri, terlihat oleh beliau. Jadilah 30 menit setelahnya adalah beliau menegurku dan memberi wejangan. Terlebih lagi, beliau ini aku kenali sebagai sosok yang memiliki kata-kata yang to the point, bahkan terkadang menembus point itu sendiri. Jadilah pengalaman ini sebagai pengalaman paling tidak mengenakkan buatku selama perkuliahan. Sungguh, telingaku saat itu literally terasa panas.

Sebagai catatan, hal itu tidak menghilangkan rasa hormatku terhadap beliau. Sekalipun cara beliau menyampaikan teguran itu tidak mengenakkan, aku berusaha menangkap maksud beliau dan aku tetap mengakui beliau sebagai pendidik yang niat, bahkan cenderung bersikap mengayomi. Bahkan, tahun lalu aku bekerja sebagai asisten laboratorium di bawah bimbingan beliau.

Aku hanya tidak pernah mengerti sikap beliau hingga saat ini, yaitu sikap beliau yang seperti menuntut bahwa cara orang belajar haruslah sama. Jujur, setelah kejadian itu, aku mencoba untuk memperbaikinya, bahkan sekalipun bukan di kelas beliau. Aku menyiapkan catatan di tiap perkuliahan, hanya untuk mendapati pada akhirnya tidak ada catatan yang kudapat kecuali dosen terkait memberikan jeda khusus untuk menulis. Akhirnya, setiap kelas beliau, aku keluarkan catatan hanya untuk berpura-pura mencatat.

Ini menjadi poin penting yang aku masih percayai saat ini, bahwa tiap peserta didik memiliki gaya belajarnya masing-masing. Bahkan, kalau berbicara pendidikan formal, tidak semua peserta berniat untuk mengikuti kelas tertentu. Beberapa peserta didik hanya mengikuti alur yang disediakan orangtuanya tanpa berpikir sedikitpun sebelumnya untuk mengikuti kelas itu.

Solusinya?
Seorang pendidik, mau tidak mau, perlu memutar otak untuk menyiapkan metode pembelajaran yang semaksimal mungkin mengakomodasi berbagai bentuk dan karakteristik peserta didik.
 Aku tahu, ini akan jadi jalan yang panjang. Mempelajari karakteristik peserta didik mungkin seperti mempelajari susunan DNA: sepertinya tidak akan ada ujungnya. Sepertinya, begitulah takdir seorang pendidik: memulai sebagai peserta didik dan tetap menyandang gelar seorang peserta didik, sekalipun sudah menjadi pendidik.

Jumat, 24 Juli 2020

Keresahan: Harga Waktu

I will try to write this in English, because this writing iS nOt InDonEsiAn cUltURe, LOL.

Just kidding. I just want to hone my English writing skill. FYI (for your intermezzo), I spent most of my watch time watching videos in English, most of them are from Khan Academy, Nas Daily, and Pewdiepie. One day, I felt like I almost forgot how to speak Indonesian, maybe due to an excessive time spent on watching English videos LOL.

Now, speaking of time, I have something makes me anxious all the time, and it is about time.

I have a thought about time. I consider time as a precious thing. I value time more than I value wealth. I always try not to waste time, neither my time nor other's. I will feel angry if someone ruined time. Being late is a sin for me, like a big one. I hate when I am involved in something and then something comes all of a sudden without warning, because it will ruin my time.

Somehow, this thought about time is "not compatible" in Indonesia, THEY SAID. People just straightly say that "jam karet" is how Indonesian treat time.


Sometimes I understand that someone say this as a form of sarcasm, but I feel like I hate this kind of sarcasm, or maybe I actually don't like any kind of sarcasm. I don't want to be labelled as a person that cannot commit on time. So, I always try my best not to ruin time, not to be late at anything. No matter how much time I have to waste just to wait the others being late, I will not let that to ruin my commitment about time.

Unfortunately, I still have issues about this. I deal with procrastination all the time and still try to fight it. Everytime I lose a fight against procrastination, I will feel kind of stressed and angry to myself. I experienced a lot and lot of losing against procrastination, especially when it comes about assignment. Damn, I hate assignments.

Well, that's not important. The thing is, let's start to demolish this "jam karet" culture, starting by ourselves.

nb. Pardon my English, aight? ✌ Any kind of comments are welcome.

Senin, 20 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Mimpi dan Impian

Beberapa menit sebelum tulisan ini dibuat, aku sedang berselancar di Quora, to shower my brain and mind with thoughts. Ya, Quora adalah media sosial yang paling aku senangi saat ini karena Quora begitu kaya akan sudut pandang dan masyarakatnya sangat bertatakrama.

Muncullah suatu pertanyaan tentang hal yang kurang dari pendidikan di Indonesia. Salah satu jawaban mengatakan bahwa salah satu hal yang kurang dari pendidikan Indonesia adalah penanaman mimpi.

Kalau kita pernah mengenyam pendidikan di tingkat PAUD atau TK, mungkin ingat kalau di tingkat itu seringkali guru-gurunya menanyakan, "Apa cita-citamu?" dan sejenisnya. Mungkin bahkan di tingkat SD pun masih cukup sering muncul pelajaran yang berhubungan dengan cita-cita.

Aku sendiri mengalami proses bagaimana aku memiliki impian. Aku ingat saat masih kecil aku cukup sering bergonta-ganti cita-cita, dan biasanya alasanku memiliki suatu cita-cita pada saat itu sangat sederhana. Awalnya aku bercita-cita ingin menjadi astronot karena keren. Kemudian aku berubah, ingin jadi arsitek, karena aku ingin kelak membangunkan rumah dengan tanah yang luas dan di tanah itu aku ingin rumahku berdekatan dengan rumah orangtuaku dan rumah kakakku. Lalu berubah lagi, ingin menjadi ilmuwan, karena keren.

Kemudian, impian-impian ini pudar seiring aku mendewasa. Di masa-masa akhir SD hingga awal SMP, aku tidak ingat kalau aku punya mimpi yang jelas. Cita-cita yang aku mimpikan di masa kecil pudar begitu saja. Aku ingat mimpi itu, tapi entah mengapa tidak pernah aku bayang-bayangkan di masa-masa itu. Yang aku tahu hanya belajar, mendengarkan penjelasan guru tentang matematika, IPA, bahasa Inggris, bahasa Arab, Aqidah, Fikih, dll. Aku rasa, beberapa kita juga merasakan hal ini, pudarnya mimpi-mimpi kita.

Entah dari mana, suatu waktu di akhir SMP, aku bertemu dengan seorang guru di pesantrenku. Beliau seorang praktisi pengobatan tradisional. Aku kenal beliau karena kami sama-sama berlatih di ilmu beladiri yang ada di pesantrenku. Kemudian, beliau banyak menceritakan padaku tentang pengobatan tradisional. Entah mengapa saat itu aku terkagum dan akhirnya sering menghampiri beliau di waktu senggang untuk mendengarkan petuah beliau mengenai pengobatan tradisional.

Tidak lama sejak saat itu, aku memutuskan untuk kembali bermimpi dan bercita-cita menjadi seorang praktisi pengobatan tradisional yang kredibilitasnya diakui di tingkat internasional. Cita-cita itu bertahan sampai sekarang. Bahkan, di akhir masa SMA, aku bercita-cita untuk membuat suatu buku yang mengompilasi dan menyinkronkan pengobatan klasik dengan ilmu pengobatan modern. Bahkan, aku masih sangat ingat sampai sekarang, yang notabene sudah lebih 4 tahun sejak itu, bahwa nama buku itu dalam bahasa Inggris adalah Syncronization Between Traditional Medicine and Modern Medicine dan dalam bahasa Arab adalah Al-Muwafaqah. Walaupun mimpi tentang pembuatan buku ini mulai pudar, tapi mengingat bahwa aku pernah bermimpi seperti itu adalah hal yang gila (dan keren).

Mungkin jawaban Quora ini benar. Bahkan, aku kenal beberapa teman di masa perkuliahan yang seperti hanya tahunya bahwa ia hanya hidup di saat ini tanpa berpikir untuk punya mimpi. Awalnya aku cukup heran, karena aku memang sebelumnya tidak pernah bertanya-tanya tentang hal ini kepada orang-orang. Tapi setelah melihat jawaban Quora ini, mungkin salah satu akar dari permasalahan di Indonesia adalah masyarakatnya yang tidak memiliki mimpi yang jelas.

Mungkin bermimpi seperti ini bisa dianggap tidak realistis. Akhir-akhir ini aku sedang senang menonton anime, khususnya One Piece, di mana tokoh utamanya, Monkey D. Luffy, memiliki mimpi yang sangat tinggi, yaitu menjadi raja bajak laut. Padahal, Luffy ini hanya anak kecil yang masih berpikiran kekanak-kanakan, begitupun krunya. Kisah One Piece adalah fiksi, seperti halnya mimpi kita. Tapi, hei! Mimpi memang tidak pernah nyata sampai kita mencapainya. Lagipula, tidak ada yang melarang kita bermimpi. Walaupun mimpi itu tidak nyata, setidaknya kita akan tahu ada hal-hal yang kita bisa lakukan yang mengarah ke mimpi itu dan nantinya jalan hidup kita bisa terpetakan lebih jelas.

Jadi, ayo bermimpi, dan ajak peserta didikmu untuk bermimpi!

Minggu, 12 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Bersikap Sportif

Sebelum ini, aku pernah menyampaikan tentang pentingnya seorang pendidik menjadi role model untuk peserta didiknya. Jadi, apakah sewajib itu seorang pendidik menunjukkan sikap sempuran ke peserta didiknya?

Setelah dipikir-pikir, sebetulnya seorang pendidik juga manusia. Tidak mungkin ia menunjukkan kesempurnaan. Setiap pendidik pasti akan jatuh pada kesalahan tertentu, yang tentunya tidak patut ditiru oleh peserta didiknya.

Setelah dipikir-pikir, menjadi role model bukan soal menunjukkan segala hal dengan baik. Menjadi role model bukan soal menjadi sosok yang sempurna tanpa celah sedikitpun. Menjadi role model adalah tentang bersikap sportif.

Aku tidak yakin diksinya tepat, tapi kalau diibaratkan sebuah permainan, maka pemain yang baik adalah pemain yang sportif. Lebih kurang seperti itu maksudnya.

Seorang pendidik sangat mungkin salah. Seorang pendidik sangat mungkin menunjukkan sikap tidak baik. Seorang pendidik sangat mungkin keliru. Kembali lagi, ini soal sportivitas. Ada baiknya seorang pendidik mengakui ini dan tidak merasa benar saat ia memang salah. Sudah berakhir masa di mana aturan pertama adalah pendidik selalu benar dan aturan kedua adalah apabila pendidik salah maka kembali ke peraturan pertama.

Kamis, 09 Juli 2020

Keresahan: Persepsi Terhadap Media Komunikasi Daring

Media komunikasi daring sering disebut sebagai hal yang mendekatkan yang jauh. Aku akui, dalam berbagai konteks, media sosial sangat memudahkan komunikasi dengan orang yang jaraknya sangat jauh sekalipun.

Namun, sampai sekarang, aku masih tidak percaya dengan media komunikasi daring sebagai media pengantar emosi seseorang. Aku tidak bisa membaca emosi seseorang dari teks, dari suara telepon, bahkan video call sekalipun. Bukan tidak bisa, lebih tepatnya tidak percaya. Sampai saat ini, aku menganggap semua pembicaraan via media komunikasi daring adalah bentuk pembicaraan yang netral. Aku tidak ingin menyampaikan pesan-pesan yang bersifat emosional melalui media sosial, baik itu pesan semangat maupun belasungkawa.

Aku juga menganggap semua media komunikasi daring tak ubahnya surat. Aku seringkali heran, ketika ada orang menghubungi dengan hanya memanggil, "yad", kemudian sepertinya menunggu balasan dariku untuk melanjutkan pesannya. Aku lebih memilih untuk memperhatikan pesan yang bisa aku baca isinya terlebih dulu (semacam preview). Dengan itu, setidaknya aku bisa siapkan jawaban atau aku perkirakan sekiranya percakapan itu akan panjang, jadi aku akan siapkan waktu, atau sebaliknya, percakapan itu hanya membutuhkan jawaban pendek sehingga aku langsung jawab saja saat ada waktu, atau aku jadi tahu seberapa penting percakapan itu, atau banyak lagi guna dari preview itu. Aku sendiri berusaha agar kira-kira poin penting dari teksku kepada orang lain bisa dilihat via preview.

Entah kenapa, aku juga cepat merasa lelah dengan komunikasi via media daring. Aku lebih kuat mengobrol dengan seseorang selama 1 jam penuh sekalipun topiknya tidak begitu menarik, dibandingkan aku harus berkomunikasi via media daring selama 10 menit.

Pada akhirnya, slogan "jarak tidak lagi memisahkan" tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, jarak tetap memiliki pengaruh terhadap kualitas komunikasi.

Disclaimer: Tulisan ini adalah keresahan dari pengalaman pribadi tanpa mengetahui ilmu komunikasi.

Tujuan Bersama vs Sama Tujuannya

"Ayo, kita lulus bareng-bareng!" kata sekelompok mahasiswa baru.

Pernyataan di atas berarti mereka punya tujuan bersama, kan?

Belum tentu.

Memiliki tujuan bersama dan memiliki tujuan yang sama belum tentu sama. Ketika suatu kelompok memiliki tujuan bersama, mereka akan mencapai tujuan itu bersama dan tidak meninggalkan satupun anggota kelompoknya. Ketika sekelompok orang memiliki tujuan yang sama, ada kemungkinan tujuan mereka hanya kebetulan sama, namun pada akhirnya mereka akan mencapai tujuan itu sendiri-sendiri tanpa begitu peduli bagaimana kondisi rekannya yang sama tujuannya itu.

-Hasil diskusi malam ini dengan rekan yang sama tujuannya-

Senin, 06 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 4

5 Juni 2020

Hari ini aku tidak mempersiapkan bahan ajar secara maksimal. Takdir Allah, aku sakit diare 2 hari ke belakang. Ya, mau bagaimanapun, pendidik juga manusia. Akhirnya, aku hanya melakukan latihan lebih lanjut dari ilmu yang sudah kuajarkan di pertemuan sebelumnya. Aku baru ingat, kalau pertemuan sebelumnya aku tidak mengajak peserta didikku untuk mempraktikkan contoh dari tiap bahan satu per satu. Ternyata, setelah dicoba hari ini, mereka masih belum lancar bahkan dengan contoh-contoh yang sudah diberikan sebelumnya. Aku jadi bersyukur karena tidak memberikan materi baru hari ini. Seharusnya, setiap materi diberikan, peserta didikku harus aku pastikan mampu mempraktikkannya, setidaknya dengan contoh-contoh yang aku berikan.

Sabtu, 04 Juli 2020

Keresahan: Prolog

Setiap kita pasti pernah merasa resah. Rasanya seperti ada hal yang mengganjal, seperti ada yang salah, seperti tidak menenangkan hati.

Setiap kita mungkin pernah berpikir bahwa setiap hal yang kita resahkan itu artinya ada yang salah pada hal tersebut. Keresahan tersebut akhirnya akan mengeluarkan respons yang berbeda-beda dari tiap orang: sebagian orang akan langsung tergerak untuk mengubahnya dengan rasa yakin bahwa hal tersebut salah, sebagian lagi akan berpikir lebih lama atau bahkan berdiskusi untuk meyakinkan adanya galat pada hal itu, dan sebagian lainnya hanya akan memendam keresahan itu karena sama sekali tidak yakin atau sebab lainnya.

Apakah salah untuk resah? Tidak. Keresahan lahir ketika kita melihat peristiwa tertentu, lantas peristiwa tersebut berlainan dengan prinsip atau pendapat pribadi kita. Sebagaimana wajar seseorang punya prinsip tersendiri, merasa resah juga wajar.

Apakah salah untuk merespons keresahan? Belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Aku ulangi, keresahan lahir dari pendapat pribadi. Tentunya, tidak semua pendapat pribadi bisa kita wujudkan, apalagi ketika sangkut pautnya dengan sesuatu yang bersifat publik. Juga, belum tentu hal yang kita resahkan adalah hal yang salah. Bahkan, mungkin saja pendapat kita yang justru salah. Bentuk-bentuk respons yang aku sebutkan sebelumnya bisa jadi tepat ketika diberikan pada situasi yang sesuai, dan bisa jadi tidak tepat ketika diberikan pada situasi yang tidak sesuai.

Aku? Aku memilih untuk menceritakan keresahan, lalu berpikir, hingga akhirnya memilih respons. Aku menceritakan keresahan agar setidaknya aku merasa lebih lega, karena menyimpan keresahan membuat hati tidak nyaman. Aku berpikir untuk meninjau dari sebanyak mungkin sudut pandang, yang barangkali aku akhirnya menemukan bahwa keresahanku salah atau tidak ada artinya. Ketika aku sudah merasa yakin akan posisi keresahanku di lain mata, aku akan memilih; aku tindaklanjuti keresahanku atau aku akhiri keresahan itu di hatiku.

Inilah salah satu sebabnya aku merasa tidak akan cocok berada di posisi pengambil keputusan ketika keputusan itu dibutuhkan cepat. Aku merasa lebih tenang ketika aku diminta berpikir dengan waktu yang cukup (ini adalah bagian dari keresahanku).

Selanjutnya, aku akan menjadikan tulisan ini sebagai wadah penampung keresahanku. Hatiku seperti sudah tidak cukup untuk menampung keresahan-keresahanku. Jadi, aku akan bagi saja ke wadah ini.

Minggu, 28 Juni 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 3

28 Juni 2020

Hari ini hari ketiga aku mengajar. Hari ini sebenarnya berjalan biasa saja. Adik balita yang pekan lalu ikut duduk bersama kami masih ikut seperti pekan lalu. Tapi, hari ini membuatku menyadari hal-hal yang masih perlu aku pelajari sebagai calon pendidik profesional:
  1. Aku masih saja bicara kurang lancar dalam proses mengajar. Padahal, materi yang aku sampaikan aku pikir sudah sepenuhnya aku pahami, bahkan aku praktikkan sehari-hari. Kerangka pemikirannya pun sudah aku coba susun untuk memudahkanku menyampaikan materi secara sistematis. Setelah aku renungkan, ada beberapa hal yang menyebabkan bicara kurang lancar ketika mengajar: bisa jadi aku masih kurang yakin dengan apa yang aku sampaikan, bisa jadi aku sangat kurang latihan, bisa jadi karena memang pengalaman yang masih sedikit sehingga masih kaku. Ini tentu tidak baik bagi peserta didik secara khusus. Kalau pendidiknya saja tidak yakin dengan yang disampaikan, bagaimana peserta didiknya akan yakin?
  2. Aku masih tidak bisa tegas mengatakan kalau keilmuan dan kemampuan peserta didik dalam bidang keilmuan yang aku ajarkan masih di bawah rata-rata. Karena bentuk pengajaran yang aku berikan memiliki porsi praktik dan latihan yang banyak, kemampuan peserta didik sangat terlihat. Tapi aku selalu berpikir untuk menutupi kesan ketidakmampuan peserta didik karena khawatir peserta didiknya merasa rendah diri. Padahal, setelah aku pikir lagi, justru pendidik harus transparan akan penilaiannya terhadap peserta didik agar peserta didik bisa mengevaluasi diri. Aku harus betul-betul belajar bagaimana menyampaikan evaluasi secara netral sehingga peserta didik dapat menangkap evaluasinya. Sepertinya aku akan coba melakukan asesmen terhadap mereka tentang bagaimana mereka menerima kritik atau evaluasi. Aku juga harus banyak membaca psikologi pendidikan.
  3. Aku menyadari kalau ada suatu titik di tengah-tengah profesionalitas penuh dan keakraban sebagai keluarga untuk menjadi seorang pendidik. Aku mencoba untuk memosisikan diri sebagai "kakak" bagi peserta didikku, tapi tetap saja salah satu peserta didikku memanggil dengan panggilan "Pak". Ya sudahlah, sepertinya porsi panggilan sebagai pengaruh dalam perspektif peserta didik ke pendidik tidak sebesar itu. Pokoknya, aku akan selalu memosisikan diri sebagai "kakak" bagi mereka.
Apapun itu, demi menjadi pendidik profesional, aku harus terus menempuh jalannya. Aku jadi berpikir ulang. Awalnya, aku berniat untuk bekerja di industri farmasi setidaknya 2 tahun karena aku berniat menjadi dosen di bidang teknologi farmasi dan perindustrian farmasi. Tapi, kalau aku melakukan itu, kira-kira apakah aku masih bisa menggali lebih tentang dunia pendidikan? Aku tidak mau jadi seorang dosen yang pintar sendirian dengan berpuluh-puluh publikasi. Aku merasa lebih baik menaruh fokusku pada peserta didik. Aku juga masih bertanya-tanya, kenapa dosen seperti dituntut untuk melakukan penelitian? Maksudku, tentu untuk mengembangkan keilmuan, tetapi terkadang aku merasa sebab penelitian itulah peserta didik jadi terbengkalai. Aku tidak berasumsi apapun saat ini, hanya bertanya-tanya. Tapi, aku akan berusaha sebagai pendidik untuk menaruh peserta didik pada prioritas paling tinggi, insyaallaah.

Rabu, 24 Juni 2020

Banyak Jalan Menuju Roma (?)

Ini adalah sebuah pepatah yang sangat populer.
"Banyak jalan menuju Roma."
Maknanya, jalan untuk mencapai suatu tujuan itu ada banyak, maka jangan merasa gagal ketika suatu cara tidak berhasil. Lebih kurang seperti itu maknanya.

Setelah dipikir-pikir, kalau mengibaratkan kita akan menuju Roma, yang mana adalah suatu tempat, tentu kita akan membutuhkan peta. Walaupun kiranya benar bahwa banyak jalan ke sana, kalau kita tidak tahu jalannya, bagaimana kita akan ke sana?

Sebelumnya, aku memahami pepatah ini secara kurang dalam. Awalnya, aku pikir pepatah ini maknanya hanya sampai "jangan merasa gagal." Ternyata, ada makna tersirat lainnya, yaitu "kalau ingin ke suatu tujuan, petakanlah sebanyak mungkin jalan menujunya."

Senin, 22 Juni 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 2

21 Juni 2020
\
Hari ini hari kedua aku mengajar. Awalnya berjalan seperti biasa, berangkat pagi, menunggu siang, dan mengajar sore. Hari ini, aku berinisiatif menggunakan laptop untuk memutarkan beberapa video motivasi.

Di tengah-tengah proses mengajar, ada balita datang ke tempat kami belajar. Seperti balita pada umumnya, dia bermain-main ketika kami sedang belajar. Awalnya, jujur, cukup mengganggu. Dia terus mencoba mengikuti setiap yang aku katakan sehingga agak berisik. Bahkan, dia sempat tersandung layar laptopku. Untung saja laptopku masih baik-baik saja.

Tapi, setelah aku pikir-pikir, aku jadi kagum dengan balita ini. Akhirnya, selepas mengajar, aku coba ajak mengobrol balita itu. Dia adalah adik dari peserta didikku. Dia masih berusia 3 tahun. Dia bahkan belum bisa membaca atau berbicara dengan jelas. Yang membuatku kagum adalah, selepas itu aku berbicara dengan ibu peserta didik dan beliau bilang, "iya itu adiknya bilang mau ikut ngaji, takut ngeganggu." Aku kagum sekaligus tidak mengerti, apa motivasi seorang anak kecil yang bahkan belum bisa membaca, untuk ikut pelajaran mengaji. Mungkin, motivasinya sesederhana ingin ikut kakaknya. Tapi melihat di prosesnya dia selalu mengikuti apa yang aku bicarakan, aku rasa justru akan baik ketika aku biarkan dia ikut. Ke depannya, kata-kataku bisa jadi terukir di memorinya, sehingga kelak anak ini akan betul-betul termotivasi mempelajari Alquran.

Ah, ingin sekali aku tetap berjiwa anak kecil: berani mengambil risiko, inisiatif meskipun bahkan belum tahu persis apa yang dilakukan, bersemangat. Ini menjadi pelajaran baru buatku: 
"Stay childish!"

Jumat, 19 Juni 2020

Cerita Tentang Rasa dan Kepercayaan

Aku mulai merasa kalau sifat bawaanku adalah tidak bisa memendam cerita tentang rasa: cerita senang, sedih, cinta, marah, dan rasa lainnya. Maka, aku pasti akan bercerita ketika aku sedang memendam perasaan.

Dulu, aku dengan mudah akan menceritakan ke orang-orang yang aku rasa termasuk teman dekatku mengenai perasaanku. Entah apa yang kuharapkan dari itu, tapi rasanya tidak tenang saja ketika ada cerita tentang rasa.

Kemudian, aku mulai mengenal bahwa ada media-media yang bisa kugunakan untuk menceritakan perasaanku. Aku mulai mencoba menceritakan perasaanku dengan cara dan media yang beragam.

Tapi, akhir-akhir ini aku disadarkan, kalau aku tidak bisa sepenuhnya percaya untuk menceritakan perasaanku ke orang. Aku mengalami hal yang entah mengapa, pada akhirnya seperti mereset kepercayaanku. Hari-hari ini, aku rasa kepercayaanku terhadap semua orang telah dimulai dari nol lagi. Aku tidak bisa menceritakan perasaanku pada orang dengan cara sembarang.

Akhirnya, cerita tentang rasaku berhenti di sini, tertuang dalam tulisan-tulisan dan mungkin gambar-gambar. Aku rasa dengan begini, hatiku cukup merasa tenang karena aku sudah menceritakan rasaku, setidaknya kepada diriku sendiri, satu-satunya orang yang masih bisa kupercaya saat ini. Entah kalau ada temanku yang nantinya bisa kupercaya akan membaca ini.

Pokoknya, jangan kaget kalau aku akan menjadi sosok yang berbeda dari yang kalian kenal sebelumnya.

Rabu, 17 Juni 2020

Mengejar Setengah Impian

Suatu hari, aku membeli kanebo motor untuk digunakan sebagai lap serbaguna. Umiku mengetahuinya sampai akhirnya ia bilang padaku,
"Beli kanebonya dulu aja ya, nanti motornya nyusul? Hahaha."
Akupun ikut tertawa.

Aku paham betul maksudnya adalah bercanda. Akupun memang saat itu sangat menginginkan motor tapi belum sampai. Tapi aku suka menanggapi hal bercanda secara serius. Aku coba terjemahkan lawakan umiku menjadi seperti ini,
Berarti bisa ya, untuk hal-hal yang kita impikan, kita coba capai sebagiannya dulu, walaupun hanya hal sederhana atau sepele.
Setelah aku ingat-ingat, aku sudah banyak melakukan hal ini sejak SMA. Aku ingat sekali menamai berbagai akun di media sosial dengan menambahkan kata "Sinshe" di depannya, dengan berharap di masa depan nama "Sinshe" itu betul-betul melekat di namaku secara resmi, sampai-sampai abiku menegurku karena aku menamai akun surelku dengan imbuhan tersebut karena khawatir orang-orang akan salah mengira. Banyak orangtua juga melakukan hal ini, yaitu dengan menamai anaknya dengan hal yang diharapkan menjadi masa depan anaknya.

Setelah aku pikir-pikir, ini menjadi dekat dengan suatu kaidah dalam ilmu fikih,
"Apa-apa yang tidak bisa dilakukan seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya!"
Punya impian tetapi belum sampai? Jangan ditinggalkan! Coba lakukan hal kecil dari impian tersebut. Punya impian membangun usaha perdagangan? Coba ciptakan namanya dulu. Punya impian menyandang gelar tertentu? Coba tuliskan dulu di buku-buku bacaanmu, di buku tulismu, atau di tempelan-tempelan yang menjadi tanda kepemilikanmu.

Tulisan ini ditulis oleh (calon) Sinshe Prof. apt. Ziyad Aslam Ghatafan, S.Farm.,, Ph.D., (calon) dosen dan pakar teknologi farmasi, (calon) konsultan industri farmasi, (calon) praktisi pengobatan tradisional, dan (calon) praktisi profesional pendidikan

Minggu, 14 Juni 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 1

Akhir April 2020
Aku mulai berpikir untuk melakukan eksperimen kemandirian finansial yang sudah aku coba lakukan sejak semester 2 kuliah, tapi kali ini aku ingin membawanya ke tingkat yang makin dan makin serius. Aku berpikir, bagaimana aku bisa mendapatkan pemasukan keuangan? Berjualan? Aku masih berpihak itu akan sangat sulit sekarang, dengan pengalaman dan ilmu yang masih sangat minim, ditambah dengan kondisi pembatasan fisik dan sosial sebab pandemi Covid-19.

Aku berpikir untuk beralih ke pekerjaan. Aku berpikir, pekerjaan apa yang bisa dan ingin aku geluti? Dalam taraf ekstrem, aku berpikir untuk terjun ke pekerjaan fisik, seperti kuli, buruh angkut, dan semacamnya. Tapi, aku urungkan niat itu sementara, aku coba pikirkan secara jernih.

Aku ingat, dulu aku sering berangan-angan untuk menjadi pendidik. Aku menganggap profesi di bidang edukasi sangat menyenangkan dan sangat mulia. Aku bergumam, "kenapa tidak coba jadi tutor?"

Aku mulai mencari lowongan tutor privat di internet. Aku berikhtiar dengan mendaftar di berbagai lembaga dengan bidang utama sebagai pengajar Alquran dan bidang lainnya mencakup tutor MIPA SD SMP.

Pada hari ini juga aku bertekad, kalau aku akan menjadikan dunia pendidikan sebagai passion dan profesiku ke depannya.

1 Mei 2020
Aku melakukan salah satu ikhtiarku dengan mendaftar di Hamasah Privat Bandung. Aku hubungi admin via WhatsApp.

2 Mei 2020
Admin Hamasah Privat hari itu membalas dan menggabungkan aku ke dalam grup WhatsApp Ruang Tutor Hamasah. Jadi, rupanya teknis lowongannya itu dibagikan di grup kemudian para tutor berlomba menghubungi admin untuk mengisi lowongan tersebut. Lantas aku menunggu ada lowongan yang sesuai.

4 Juni 2020.
Satu bulan ke belakang, aku ikut berlomba dengan para tutor di Hamasah Privat. Sudah satu kali aku mendapatkan lowongan yang sesuai, tapi aku kalah cepat. Hingga hari ini, ada lowongan yang kebetulan sekali muncul saat aku sedang membuka gawai. Aku sambar lowongan itu dengan semangat.
Jantungku berdegup cukup kencang saat itu, berharap kali ini peruntunganku berhasil.

5 Juni 2020
Senang. Itu saja kata yang muncul hari ini.
Alhamdulillaah.

14 Juni 2020
Jujur, beberapa hari ke belakang adalah hari-hari yang membuatku tidak nyaman. Mungkin karena bosan, tertekan, atau entahlah. Aku khawatir karena hari ini adalah hari pertama aku akan mengajar, sedangkan suasana hatiku sedang tidak baik. Tapi, aku sudah bertekad, aku akan ambil konsekuensinya, apapun itu.

Aku berangkat pagi dengan bus Damri, turun di Dipati Ukur, lalu berjalan ke lokasi privat. Privatnya akan dimulai pukul 16.00 tapi aku sudah di dekat lokasi dari 11.00. Akhirnya, aku menunggu di masjid terdekat sembari membaca ulang materi yang akan aku berikan.

Hingga akhirnya tiba waktunya, aku berangkat ke rumah peserta didik. Gerbang rumah dibukakan oleh salah satu peserta. Namanya Farrel. Aku dipersilakan duduk di ruang tamu, akhirnya Farrel dan saudarinya duduk di ruang tamu juga. Iya, tidak salah, itu saudarinya. Aku juga kaget ketika beberapa hari sebelum hari ini aku diberi tahu oleh pihak penanggung jawab peserta didik bahwa satu peserta lagi bukan siswa, tapi siswi. Lebih kaget lagi, aku baru tahu hari ini kalau siswi itu baru naik SMA kelas 10. Aku sudah membayangkan bagaimana suasananya akan kikuk. Tapi justru hari ini aku belajar lebih banyak mengenai profesionalitas dibandingkan mengikuti organisasi kampus 3 tahun ke belakang. Aku jadi ingin berandai tapi aku ingat Rasulullah pernah bilang kalau berandai adalah perbuatan setan. Privat berjalan 1 jam. Suasananya lumayan kikuk, tapi aku rasa masih dalam kendali dan aku dapat banyak sekali evaluasi hari ini. Terlebih, ujian yang terberat hari ini adalah aku, tanpa disangka, dilibatkan dalam urusan keluarga peserta didik ini, walaupun sangat sedikit bisa dibilang. Aku belajar dan berlatih betul tentang profesionalitas, di lapangan sesungguhnya.

Tidak aku sangka, kepenatan hari-hari kemarin, bahkan lelahnya proses aku berangkat hari ini, berjalan 1.9 km dari Dipati Ukur ke lokasi privat, semuanya terbayarkan. Aku senang dan bersyukur bukan main. Bahkan, yang semulanya aku merasa mengantuk saat siang hari, malam ini aku bahkan merasa tidak ingin tidur, lelah yang kurasa hanya pegal di kaki dan punggung akibat membawa ransel sambil berjalan 1.9 km.

Pokoknya, hari ini aku makin kuatkan tekad, bahwa pendidikan adalah passion dan profesiku.

Jumat, 12 Juni 2020

Aku mulai mengerti.

Aku mulai mengerti mengapa ada orang yang berkata, "Tolong ngertiin aku!", tapi dia bahkan tidak menjelaskan apapun.

Sangat mungkin, sesungguhnya dia terpengaruh pengalaman. Sangat mungkin, suatu waktu dia pernah mencoba menjelaskan. Tapi, sangat mungkin, dia berpikir, "Apa iya aku harus menjelaskan ke setiap orang setiap kali? Capek!" Akhirnya, ia hanya bisa mengeluh dan marah tidak jelas.

Tapi, aku juga tahu.

Aku tahu kalau manusia itu tidak tahu perkara gaib. Setidaknya, tidak semua manusia. Tidak bisa seseorang memahami kalau tidak diberi penjelasan. Kepekaan manusia terhadap sesuatu yang bahkan tidak dijelaskan adalah murni keberuntungan, menurutku. Bahkan, fenomena alam pun memerlukan eksperimen-eksperimen yang tidak luput dari kesalahan untuk menjelaskannya.

Jadi, apa jalan tengahnya?

Akhirnya, Aku Lelah.

Belum pernah rasanya aku mengatakan ini. Tapi, akhirnya, aku lelah.


Aku lelah, lelah berpura-pura bisa menanggung urusan orang lain hanya karena aku punya dorongan kuat untuk ingin bisa membantu, sedangkan sebenarnya urusanku sendiripun belum tuntas.

Aku lelah, lelah mengorbankan urusan pribadiku untuk mengurus kepentingan orang lain yang bahkan sesungguhnya bisa mereka lakukan tanpaku dan tidak sedikitpun memengaruhiku.

Aku lelah, lelah memikirkan kondisi orang lain sebelum aku berani mengganggu waktunya, sedangkan ternyata orang lain itu tidak ragu sedikit pun untuk menggangguku, sekalipun sebenarnya aku tidak bisa atau tidak mau. Bodohnya aku, sudah mengerti kalau semua orang itu dasarnya egois, masih saja bersikap altruistik.

Aku lelah, lelah menahan amarah yang selama ini hampir tidak pernah terlampiaskan kecuali hanya kecamuk dalam pikiran. Bukan tidak bisa, tapi aku hanya selalu terpikir mengenai hal-hal yang bahkan belum terjadi dan belum tentu terjadi, sehingga hal itu akhirnya membelenggu amarahku bak sapi gila yang diikat.

Aku lelah, lelah menjelaskan bahwa aku sudah lelah. Lelah berpikir bagaimana aku bisa menjelaskan kepada semua orang bahwa aku sedang lelah.

Sekarang, katanya kalau lelah itu jangan berhenti, tapi istirahatlah. Kalau begitu, aku ingin istirahat sekarang, boleh ya?

Catatan Kaki Calon Pendidik: Mempermalukan Peserta Didik

Satu-satunya media sosial yang mendapatkan hak istimewa dariku adalah Quora. Hak istimewa itu yaitu waktu yang aku alokasikan khusus untuk membukanya. Kenapa? Kebanyakan isi Quora yang muncul di linimasaku adalah konten yang disusun secara serius, baik itu pengalaman pribadi ataupun pengetahuan yang didasarkan pada kredibilitas penulis dan sumber yang bereputasi.

Hal yang aku khususkan untuk membaca dari Quora adalah mengenai dunia pendidikan. Aku ingin terus menambah perspektif baru sebagai calon pendidik, baik dari sudut pandang pendidik atau dari sudut pandang peserta didik. Maka, aku banyak membaca topik mengenai edukasi di Quora, yang umumnya diisi pengalaman-pengalaman pendidik dan peserta didik, enak dan tidak enaknya.

Aku menemukan sebuah keluhan yang kelihatannya menjadi keluhan banyak peserta didik: dipermalukan pendidik.

Aku berusaha tidak reaktif dan mengolah lebih dulu, kira-kira apa tujuan seorang pendidik dari mempermalukan peserta didik. Setelah membaca banyak tulisan dari Quora tentang pengalaman peserta didik dipermalukan pendidiknya, aku masih tidak menemukan adanya tujuan dalam koridor pendidikan di sini. Satu hal yang aku temukan dari perbuatan ini: kekuatan. Ya, menurutku pendidik yang melakukan ini sudah di luar koridor pendidikan, melainkan ia menunjukkan sifat buruk yang dasarnya ada pada tiap manusia, yaitu tamak akan kekuatan. Ia pikir dengan mempermalukan orang dengan "tingkat yang lebih rendah darinya" akan membuat ia kelihatan memiliki kekuasaan sehingga ia akan mendapatkan rasa hormat dari orang-orang di sekitarnya.

Menurutku, area pendidikan bukan tempat untuk mendapatkan rasa hormat. Oke, mungkin seringkali ada pepatah mengatakan, "hormatilah gurumu". Itu bukan berarti rasa hormat itu harus diminta oleh seorang pendidik kepada peserta didiknya. Bahkan, menurutku wajar apabila seorang guru direndahkan oleh peserta didiknya, dan itu harus jadi bahan evaluasi dari sang pendidik juga. Semuanya tentunya dengan batasan yang wajar.

Jadi apakah berarti kita tidak boleh mengajarkan peserta didik untuk menghormati pendidiknya? Bukan, bukan begitu. Yang tidak tepat adalah mengajarkan rasa hormat dengan mengatakan, "hormati saya!", tapi yang tepat adalah tunjukkan dengan sikap yang patut dihormati sehingga peserta didik paham bagaimana harusnya bersikap.

Jadi, untuk para pendidik di luar sana yang masih punya kebiasaan mempermalukan peserta didiknya, saya masih punya satu pertanyaan yang belum terjawab: Apa tujuan Anda mempermalukan peserta didik?

Sabtu, 06 Juni 2020

Penyesalan dan Kesia-siaan

"Sikap menyesal dan merasa sia-sia sepatutnya tidak dilakukan."
Mari aku tunjukkan mengapa:
se.sal /sêsal/
  • n perasaan tidak senang (susah, kecewa, dan sebagainya) karena telah berbuat kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya)
Penyesalan hanya muncul karena berbuat hal yang tidak baik. Tentunya kita harus pantang berbuat yang tidak baik.

Oke. Oke. Mungkin gambaran menyesal di benak kalian bukan seperti pengertian sesal di KBBI. Aku coba rangkum arti penyesalan menurut penggunaan umum:
se.sal /sêsal/
  • n perasaan kesal dengan konsekuensi suatu perbuatan sehingga merasa perbuatan tersebut sia-sia.
Seperti itu penyesalan yang kalian maksud? Oke. Tapi, aku tetap pada pendapatku, bahwa
"Sikap menyesal dan merasa sia-sia sepatutnya tidak dilakukan."
Penyesalan sangat erat dengan perasaan sia-sia. Jadi, untuk menunjukkan mengapa penyesalan itu tidak patut, aku akan tunjukkan apa itu sia-sia.
si.a-sia
  1. a terbuang-buang saja; tidak ada gunanya (harganya, manfaatnya, hasilnya); percuma: sudah minum obat ini, tetapi -- belakajerih payahnya -- saja-- berbuat baik kepada orang yang tidak berbudi
  2. a omong kosong; nonsens: pada pendapatnya kepercayaan kita ini -- belaka
  3. a gagal; tidak berhasil; tidak mendapat apa-apa: segala usahanya --harapanku -- belaka
  4. a dengan sembarangan saja; tidak dipikirkan baik-baik: kritik itu dilancarkan dengan -- saja
Sudah dibaca?

Oke. Sekarang, coba tanyakan hal ini tiap kali kalian mulai merasa sia-sia:
"Apa betul hal ini sia-sia? Apa betul tidak ada gunanya? Apa betul ini hanya omong kosong?"
Sebagai referensi, aku hanya merasakan satu penyesalan saat ini, yaitu menyesal karena pernah menyesali sesuatu dan merasa sesuatu itu sia-sia. Padahal, setelah aku lalui beberapa waktu kemudian, aku mulai merasa hal tersebut tidak sia-sia, bahkan sangat berharga. Bahkan hal paling salah sekalipun, buatku bukan suatu untuk disesali, minimal ada hikmahnya.

Dan sebagai referensi juga, di dalam Alquran kata-kata penyesalan dan sia-sia hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang terlena dengan dunia dan melupakan akhirat sehingga mendapatkan penyesalan tiada akhir. Penyesalan ini muncul sebab tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki dan mengambil hikmah. Jadi, penyesalan dan perasaan sia-sia itu tidaklah muncul kecuali di akhir dari segala sesuatu, yaitu kehidupan setelah kematian. Semoga kita termasuk golongan yang tidak menyesal kelak. Amin.

Selasa, 26 Mei 2020

Pasangan (Kiri dan Kanan)

Menurutku, gagasan yang menjadi deskripsi paling akurat dan presisi dari sebuah pasangan adalah kiri dan kanan. Banyak sekali pasangan yang digambarkan pada posisi kanan dan kiri. Perhatikan tubuh kita: organ luar dan dalam. aku tidak bisa memikirkan organ yang berpasangan selain dengan posisi kanan dan kiri. Paling-paling, ketika mengingat gigi. Itupun selain pada posisi atas dan bawah juga pada posisi kiri dan kanan.


Posisi kiri dan kanan ini unik. Pasangan kiri dan kanan masing-masingnya memiliki posisi yang berbeda, karakter yang berbeda, bentuk yang berbeda. Tidak ada dominasi antar satu dengan yang lain; tidak ada yang di atas, tidak ada yang di bawah. Berseberangan, namun melengkapi. Berbeda, namun bersatu. Betapa indah pola kiri dan kanan.

Akupun berpikir:

Apakah ini pola pasangan sebenarnya?

Apakah pasangan yang baik pastilah berbentuk kanan dan kiri?

Sekiranya begitu, apakah aku kiri atau kanan?

Kalau aku kiri, lantas siapa kananku? Kalau aku kanan, lantas siapa kiriku?

Sabtu, 23 Mei 2020

Pasangan (Pertemuan dan Perpisahan)

Pertemuan bisa jadi sangat menyenangkan, dan perpisahan bisa jadi sangat menyedihkan. Pertemuan bisa saja tidak diinginkan, dan perpisahan seringkali dinantikan.

Ada sebuah kutipan populer mengenai pertemuan dan perpisahan:
"Hargailah setiap pertemuan, karena tidak ada yang tahu kapan terakhir kali akan bertemu"
Sehingga, sebagian orang akan berpikir untuk mencintai setiap detik pertemuan seakan tidak akan berjumpa lagi esok hari. Mengisi hari-hari bersama pertemuan, tanpa berpikir sedetik pun mengenai apa yang akan terjadi ketika tiba waktunya perpisahan.

Namun bagaimana, bagaimana jika aku memilih untuk bersikap biasa saja mengenai pertemuan? Bagaimana jika aku bersikap biasa saja mengenai pertemuan, sebab aku telah tahu pasti bahwa kelak akan berpisah? Bagaimana jika aku memilih untuk berpikir di setiap detik pertemuan, bahwa bisa saja satu detik kemudian akan ada perpisahan?

Aku sudah merasakan beberapa kali manisnya pertemuan dan sakitnya perpisahan. Setelah dipikir-pikir, itu semua karena aku tidak pernah berpikir sedetik pun tentang persiapanku menghadapi perpisahan. Yang aku lakukan hanya pertemuan dan pertemuan, bahkan di detik-detik ketika aku mulai paham bahwa perpisahan akan terjadi dalam waktu dekat, masih saja aku berpikir untuk bertemu. Kalau dipikir-pikir, seperti orang yang terus menerus memakan manisan, padahal dia tahu beberapa menit lagi dia harus meminum obat antidiabetes, seperti membalikkan jam pasir tanpa ingat untuk membalik kembali jam pasir tersebut.

Aku memutuskan, untuk bersikap adil terhadap pertemuan dan perpisahan dengan membuat sebuah kutipan baru:
"Ingatlah perpisahan di setiap menit pertemuanmu, sebab pertemuan melenakan namun perpisahan itu pasti."

Senin, 18 Mei 2020

Piramida Puisi Kontemporer

anehena
nehen
ehe
h

h
ehe
nehen
anehena


anehena
nehen
ehe
h
ehe
nehen
anehena

aneh
dibaca dari kiri ke kanan
aneh
dibaca serong
aneh
dibaca dari atas ke bawah
aneh
aneh

Hidup Adalah Komedi

Disclaimer: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan film Joker.


Ada sebuah prinsip dalam dunia komedi, yang seringkali diulang-ulang oleh seorang komedian ulung Indonesia, Raditya Dika:
"Komedi adalah tentang mematahkan ekspektasi"
Hei! Sepertinya ungkapan di atas sangat tidak asing.

Bukankah seringkali di kehidupan kita, banyak sekali hal yang tidak sesuai ekspektasi? Kita ingin memasak nasi namun lupa menekan tombol "cook". Kita ingin masuk perguruan tinggi negeri, belajar mati-matian, ternyata hasilnya kita tidak lulus seleksi. Kita melamar kerja, berakhir tidak ada kabar lanjutan mengenai hasil wawancara. Patah kan ekspektasinya?
Hidup adalah komedi.
Kalau begitu, ya sudah. Kita hadapi saja ekspektasi kita yang patah dengan tawa dan senyuman. Sesimpel itu kah?

Ah sudahlah 😃
 

Minggu, 17 Mei 2020

Hal-Hal Baru yang Aku Pelajari Selama Karantina Mandiri (2)

Sejak lebih mengenal diri saat karantina mandiri, aku memutuskan lebih banyak diam dan berpikir.

Ya, diam dan berpikir. Diam akan banyak hal, sekalipun mungkin cukup mengganggu beberapa hal yang sudah menjadi prinsip, kemudian berpikir tentang fenomena tersebut. Anggap saja kontemplasi.

Tentunya tidak akan sepenuhnya diam, karena itu bukanlah prinsipku. Tapi, ada benarnya ucapan bijak berikut:
"Diam itu emas"
Sebab, seringkali kita bertindak akan sesuatu yang pada akhirnya tindakan itu tidak sesuai, tidak semestinya, dan sebagainya.

"Mas, kan seringkali ada hal-hal yang perlu keputusan cepat."
Ah, terserah Anda, tuan. Apapun itu, saya memutuskan untuk lebih banyak diam dan berpikir.

Sekian.

Sabtu, 09 Mei 2020

Hal-Hal Baru yang Aku Pelajari Selama Karantina Mandiri (1)

Ada sebuah teori yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, seperti  ini,

"Karantina mandiri dengan keluarga akan mengungkap banyak sisi-sisi baru atau sikap sesungguhnya dari anggota keluarga."

Aku sendiri tidak bisa relate sepenuhnya kepada perkataan ini, sebab aku karantina mandiri, sendiri, di tanah rantau. Tapi, kalau dikatakan bahwa terungkapnya hal-hal yang belum diketahui sebelumnya tentang seseorang sebab meningkatnya intensitas interaksi antar orang tersebut, mungkin aku merasakannya. Ya, aku lebih banyak berinteraksi dengan diriku sendiri akhir-akhir ini.

Aku makin mengenal diriku sendiri. Aku menemukan sifat-sifat yang belum pernah aku temui pada diriku sebelumnya.

Tapi anehnya, teori di atas juga ternyata bisa salah. Selama karantina mandiri, aku justru menemukan hal-hal baru mengenai manusia lainnya, hal-hal yang akhirnya aku memutuskan untuk menjadikannya sebagai opini yang aku pegang sebagai kacamata baruku terhadap manusia lain:
  1. Aku menganggap semua orang egois. Aku pada akhirnya tidak menganggap egois sebagai suatu hal yang negatif. Pada akhirnya, semua manusia memiliki egoisnya masing-masing. Pada akhirnya, semua orang akan benar-benar hanya memikirkan dirinya sendiri kelak, di hari kiamat. Jadi, aku memutuskan untuk mempersiapkannya dengan menganggap dari sekarang bahwa semua orang egois. Sungguh, aku tetap menghargai bahwa banyak juga orang yang ikut memikirkan orang lain, tapi ini sebatas opini pribadi agar aku dapat melepas ketergantunganku terhadap orang lain dan dapat sepenuhnya menyerahkan urusanku kepada Dzat Yang Maha penyayang, yang aku anggap Maha penyayang artinya tidak ada keegoisan di dalamnya.
  2. Aku memutuskan untuk lebih banyak diam, diam akan banyak hal. Dalam hal ini, yang aku maksud adalah bahwa ucapan itu sangat berbahaya, seseorang bisa saja tersinggung dengan ucapanku. Ya, dengan aku diam juga orang bisa tersinggung karena aku diamkan. Tapi, aku rasa akan lebih aman dan tidak menyakitkan sekiranya rasa tersinggung itu muncul sebab diamku dibandingkan sebab ucapku. Akhirnya, aku benar-benar mengurangi percakapan yang tidak perlu, aku lebih banyak berpikir sebelum mengatakan apapun, aku merasa lebih nyaman menyampaikan sesuatu lewat tulisan karena aku bisa memikirkannya terlebih dulu.
Sekian dulu, sepertinya. Karantina mandiri ini mungkin masih panjang, aku sendiri berusaha menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.

Opini Tidak Populer: Budaya Sahur Ramadhan Indonesia

Ada sebuah budaya di Indonesia yang ada di bulan Ramadhan, yaitu membangunkan sahur (beduk sahur). Berbagai pihak, yang umumnya adalah pemuda-pemuda, pengurus masjid, atau pengurus setempat, mereka menginisiasi berbagai macam cara untuk membangunkan warga sahur: mulai dari menggunakan pawai serupa marching band hingga bersyair dengan pengeras suara di masjid. Sebuah inisiasi dengan niat yang baik. Namun, aku ingin mengkritisi budaya ini.

Aku bertanya-tanya, inisiasi tersebut bagaimana lahirnya?

Inisiasi sepihak kah? Hasil rembukan dengan warga kah? Permintaan warga kah? Apakah semua warga memintanya? Apakah semua warga setuju akan adanya hal tersebut?

Jujur, semua pertanyaan di atas murni berangkat dari ketidaktahuan dan pengetahuan yang terbatas mengenai lingkungan sekitar. Yang aku ketahui, sangat mungkin tiap keluarga memiliki budaya yang berbeda-beda: mungkin sebagian mereka memang tidur, mungkin sebagian mereka baru melaksanakan salat tarawih atau salat malam di waktu sahur, mungkin sebagian sesungguhnya tidak meminta dibangunkan karena terbiasa bangun sendiri, mungkin sebagian adalah kaum agama lain yang merasa terganggu dengan budaya tersebut.

Sebagai catatan, sungguh aku sangat menghargai niat mereka-mereka yang baik untuk membangunkan sahur. Tapi, bukankah hal tersebut tentunya perlu memperhatikan kebutuhan sekitar? Ini bisa jadi ibarat menjual es batu di Alaska (sebuah perumpamaan yang kubuat-buat), ketika seseorang menawarkan sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Kalau umpama aku tergabung di dalam kelompok yang berwenang, semisal pengurus masjid, kelompok pemuda kerohanian Islam, atau sejenisnya, aku ingin sekali bertanya sebelum rekan-rekanku menginisiasi budaya membangunkan sahur tersebut: sungguhkah masyarakat butuh? Sungguhkah masyarakat tidak terganggu? Sudahkah melakukan survei kebutuhan masyarakat akan hal tersebut? Maksudku, jangan sampai niat baik berakhir dengan eksekusi yang buruk, berujung kepada imbalan yang buruk pula (katakanlah, berdosa--Semoga Allah lindungi kita dari hal tersebut.)


Semoga bermanfaat. Mohon pencerahan dari rekan-rekan sekalian yang kiranya berpengalaman dalam hal ini.


Sumber gambar: