Akhir April 2020
Aku mulai berpikir untuk melakukan eksperimen kemandirian finansial yang sudah aku coba lakukan sejak semester 2 kuliah, tapi kali ini aku ingin membawanya ke tingkat yang makin dan makin serius. Aku berpikir, bagaimana aku bisa mendapatkan pemasukan keuangan? Berjualan? Aku masih berpihak itu akan sangat sulit sekarang, dengan pengalaman dan ilmu yang masih sangat minim, ditambah dengan kondisi pembatasan fisik dan sosial sebab pandemi Covid-19.
Aku berpikir untuk beralih ke pekerjaan. Aku berpikir, pekerjaan apa yang bisa dan ingin aku geluti? Dalam taraf ekstrem, aku berpikir untuk terjun ke pekerjaan fisik, seperti kuli, buruh angkut, dan semacamnya. Tapi, aku urungkan niat itu sementara, aku coba pikirkan secara jernih.
Aku ingat, dulu aku sering berangan-angan untuk menjadi pendidik. Aku menganggap profesi di bidang edukasi sangat menyenangkan dan sangat mulia. Aku bergumam, "kenapa tidak coba jadi tutor?"
Aku mulai mencari lowongan tutor privat di internet. Aku berikhtiar dengan mendaftar di berbagai lembaga dengan bidang utama sebagai pengajar Alquran dan bidang lainnya mencakup tutor MIPA SD SMP.
Pada hari ini juga aku bertekad, kalau aku akan menjadikan dunia pendidikan sebagai passion dan profesiku ke depannya.
1 Mei 2020
Aku melakukan salah satu ikhtiarku dengan mendaftar di Hamasah Privat Bandung. Aku hubungi admin via WhatsApp.
2 Mei 2020
Admin Hamasah Privat hari itu membalas dan menggabungkan aku ke dalam grup WhatsApp Ruang Tutor Hamasah. Jadi, rupanya teknis lowongannya itu dibagikan di grup kemudian para tutor berlomba menghubungi admin untuk mengisi lowongan tersebut. Lantas aku menunggu ada lowongan yang sesuai.
4 Juni 2020.
Satu bulan ke belakang, aku ikut berlomba dengan para tutor di Hamasah Privat. Sudah satu kali aku mendapatkan lowongan yang sesuai, tapi aku kalah cepat. Hingga hari ini, ada lowongan yang kebetulan sekali muncul saat aku sedang membuka gawai. Aku sambar lowongan itu dengan semangat.
5 Juni 2020
Senang. Itu saja kata yang muncul hari ini.
14 Juni 2020
Jujur, beberapa hari ke belakang adalah hari-hari yang membuatku tidak nyaman. Mungkin karena bosan, tertekan, atau entahlah. Aku khawatir karena hari ini adalah hari pertama aku akan mengajar, sedangkan suasana hatiku sedang tidak baik. Tapi, aku sudah bertekad, aku akan ambil konsekuensinya, apapun itu.
Aku berangkat pagi dengan bus Damri, turun di Dipati Ukur, lalu berjalan ke lokasi privat. Privatnya akan dimulai pukul 16.00 tapi aku sudah di dekat lokasi dari 11.00. Akhirnya, aku menunggu di masjid terdekat sembari membaca ulang materi yang akan aku berikan.
Hingga akhirnya tiba waktunya, aku berangkat ke rumah peserta didik. Gerbang rumah dibukakan oleh salah satu peserta. Namanya Farrel. Aku dipersilakan duduk di ruang tamu, akhirnya Farrel dan saudarinya duduk di ruang tamu juga. Iya, tidak salah, itu saudarinya. Aku juga kaget ketika beberapa hari sebelum hari ini aku diberi tahu oleh pihak penanggung jawab peserta didik bahwa satu peserta lagi bukan siswa, tapi siswi. Lebih kaget lagi, aku baru tahu hari ini kalau siswi itu baru naik SMA kelas 10. Aku sudah membayangkan bagaimana suasananya akan kikuk. Tapi justru hari ini aku belajar lebih banyak mengenai profesionalitas dibandingkan mengikuti organisasi kampus 3 tahun ke belakang. Aku jadi ingin berandai tapi aku ingat Rasulullah pernah bilang kalau berandai adalah perbuatan setan. Privat berjalan 1 jam. Suasananya lumayan kikuk, tapi aku rasa masih dalam kendali dan aku dapat banyak sekali evaluasi hari ini. Terlebih, ujian yang terberat hari ini adalah aku, tanpa disangka, dilibatkan dalam urusan keluarga peserta didik ini, walaupun sangat sedikit bisa dibilang. Aku belajar dan berlatih betul tentang profesionalitas, di lapangan sesungguhnya.
Tidak aku sangka, kepenatan hari-hari kemarin, bahkan lelahnya proses aku berangkat hari ini, berjalan 1.9 km dari Dipati Ukur ke lokasi privat, semuanya terbayarkan. Aku senang dan bersyukur bukan main. Bahkan, yang semulanya aku merasa mengantuk saat siang hari, malam ini aku bahkan merasa tidak ingin tidur, lelah yang kurasa hanya pegal di kaki dan punggung akibat membawa ransel sambil berjalan 1.9 km.
Pokoknya, hari ini aku makin kuatkan tekad, bahwa pendidikan adalah passion dan profesiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar