Minggu, 28 Juni 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 3

28 Juni 2020

Hari ini hari ketiga aku mengajar. Hari ini sebenarnya berjalan biasa saja. Adik balita yang pekan lalu ikut duduk bersama kami masih ikut seperti pekan lalu. Tapi, hari ini membuatku menyadari hal-hal yang masih perlu aku pelajari sebagai calon pendidik profesional:
  1. Aku masih saja bicara kurang lancar dalam proses mengajar. Padahal, materi yang aku sampaikan aku pikir sudah sepenuhnya aku pahami, bahkan aku praktikkan sehari-hari. Kerangka pemikirannya pun sudah aku coba susun untuk memudahkanku menyampaikan materi secara sistematis. Setelah aku renungkan, ada beberapa hal yang menyebabkan bicara kurang lancar ketika mengajar: bisa jadi aku masih kurang yakin dengan apa yang aku sampaikan, bisa jadi aku sangat kurang latihan, bisa jadi karena memang pengalaman yang masih sedikit sehingga masih kaku. Ini tentu tidak baik bagi peserta didik secara khusus. Kalau pendidiknya saja tidak yakin dengan yang disampaikan, bagaimana peserta didiknya akan yakin?
  2. Aku masih tidak bisa tegas mengatakan kalau keilmuan dan kemampuan peserta didik dalam bidang keilmuan yang aku ajarkan masih di bawah rata-rata. Karena bentuk pengajaran yang aku berikan memiliki porsi praktik dan latihan yang banyak, kemampuan peserta didik sangat terlihat. Tapi aku selalu berpikir untuk menutupi kesan ketidakmampuan peserta didik karena khawatir peserta didiknya merasa rendah diri. Padahal, setelah aku pikir lagi, justru pendidik harus transparan akan penilaiannya terhadap peserta didik agar peserta didik bisa mengevaluasi diri. Aku harus betul-betul belajar bagaimana menyampaikan evaluasi secara netral sehingga peserta didik dapat menangkap evaluasinya. Sepertinya aku akan coba melakukan asesmen terhadap mereka tentang bagaimana mereka menerima kritik atau evaluasi. Aku juga harus banyak membaca psikologi pendidikan.
  3. Aku menyadari kalau ada suatu titik di tengah-tengah profesionalitas penuh dan keakraban sebagai keluarga untuk menjadi seorang pendidik. Aku mencoba untuk memosisikan diri sebagai "kakak" bagi peserta didikku, tapi tetap saja salah satu peserta didikku memanggil dengan panggilan "Pak". Ya sudahlah, sepertinya porsi panggilan sebagai pengaruh dalam perspektif peserta didik ke pendidik tidak sebesar itu. Pokoknya, aku akan selalu memosisikan diri sebagai "kakak" bagi mereka.
Apapun itu, demi menjadi pendidik profesional, aku harus terus menempuh jalannya. Aku jadi berpikir ulang. Awalnya, aku berniat untuk bekerja di industri farmasi setidaknya 2 tahun karena aku berniat menjadi dosen di bidang teknologi farmasi dan perindustrian farmasi. Tapi, kalau aku melakukan itu, kira-kira apakah aku masih bisa menggali lebih tentang dunia pendidikan? Aku tidak mau jadi seorang dosen yang pintar sendirian dengan berpuluh-puluh publikasi. Aku merasa lebih baik menaruh fokusku pada peserta didik. Aku juga masih bertanya-tanya, kenapa dosen seperti dituntut untuk melakukan penelitian? Maksudku, tentu untuk mengembangkan keilmuan, tetapi terkadang aku merasa sebab penelitian itulah peserta didik jadi terbengkalai. Aku tidak berasumsi apapun saat ini, hanya bertanya-tanya. Tapi, aku akan berusaha sebagai pendidik untuk menaruh peserta didik pada prioritas paling tinggi, insyaallaah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar