Jumat, 28 Agustus 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Siswa Caper

Sempat ramai di media sosial soal konten yang mengangkat cerita di sekolah. Maklum, para pelajar mungkin merasa rindu atau kehilangan suasana sekolah sehingga mereka menginginkan nostalgia singkat melalui konten. Ada yang mengangkat tipe-tipe siswa, tipe-tipe guru, kenangan di organisasi dan kegiatan sekolah, dan lainnya.

Ada satu rupa konten yang aku soroti akhir-akhir ini: peserta didik yang cari perhatian. Beberapa pembuat konten mengangkat cerita tentang tipe siswa yang umumnya tidak disukai, yaitu mereka yang banyak bertanya saat pelajaran, terkesan mencari muka di hadapan guru atau dosen, sering follow up mengenai tugas, dan sebagainya. Singkatnya, mereka-mereka ini dijuluki sebagai "siswa caper".

Rangkuman dari konten-konten ini menyatakan bahwa "siswa caper" ini identik dengan hal-hal berikut:

  • Berpenampilan rapih dan membosankan, kelihatan serba lengkap dengan tas ransel yang besar, yang disebut-sebut berpenampilan "culun".
  • Selalu menempati kursi paling depan di kelas.
  • Aktif di kelas, sering bertanya saat pelajaran, sehingga terkadang bisa mengulur waktu bagi yang lainnya.
  • Sering menanyakan tugas yang pernah disebut oleh guru atau dosen sebelumnya, di saat siswa lain berharap guru atau dosen lupa akan tugas itu.
  • Enggan bekerja sama saat ujian.
Sebenarnya, aku sendiri yang merasa tersindir ketika melihat konten-konten ini. Beberapa hal di atas ada pada diriku. Aku selalu berusaha berpenampilan rapih di kampus dengan menggunakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana serta selalu menyimpan pulpen di saku dada kemeja. Aku suka dengan ransel berukuran besar dengan kompartemen yang banyak karena aku hampir selalu membawa laptop dan botol minum berukuran 800 mL ke kampus. Aku selalu berusaha mendapatkan kursi depan, tepatnya di kursi yang bersebelahan dengan saklar lampu dan pintu, karena aku merasa nyaman saja. Aku selalu berusaha aktif di kelas dengan "menyeletuk" ketika dosen memancing keaktifan mahasiswa, karena mahasiswa di kelasku umumnya pasif dan aku pikir tidak etis membiarkan dosen bertanya tanpa dijawab sedikitpun. Sekalipun betul-betul tidak terpikirkan jawabnya, aku akan jawab bahwa aku tidak tahu. Aku paling benci bekerja sama dalam ujian, dan aku masih tidak bisa merelakan orang-orang yang mengintip jawabanku saat ujian.

Satu hal yang tidak ada padaku: aku benci tugas. Akupun bersyukur ketika ada tugas yang akhirnya dilupakan oleh dosen karena kemungkinan besar aku belum mengerjakannya.

Aku punya pandangan tersendiri mengenai cari perhatian:

Sebenarnya, apa salahnya mencari perhatian, atau lebih kasarnya disebut mencari muka? Aku mengakui kalau aku adalah tipe siswa yang senang mencari muka di hadapan dosen. Apa salahnya? Aku mencari muka karena aku tahu betul kemampuanku di bidang kuliahku saat ini sangat minimal. Dengan memiliki nama yang diingat baik di kalangan dosen, aku hanya berharap bahwa sekalipun nilaiku nantinya jelek, aku tidak jadi mahasiswa dengan predikat yang jelek juga. Akupun mencari muka dengan berusaha tidak mengganggu lingkungan sekitar. Misalnya, ketika jam belajar sudah akan selesai, aku tidak akan bertanya banyak ke dosen. Sekalipun aku punya pertanyaan, aku akan temui dosennya di luar kelas.

Terlebih, mengenai konten yang isinya menyinggung siswa yang tidak ingin bekerja sama saat ujian, aku kesal terhadap kontennya. Konten-konten ini umumnya memberikan gambaran bahwa siswa yang enggan bekerja sama saat ujian adalah siswa yang tidak layak ditemani. Sah saja untuk seseorang memilih dengan siapa dia berteman. Yang aku kesal adalah, konten ini bisa memberikan citra buruk terhadap kejujuran, dan kata-kata "buat konten saja" selalu jadi tameng. Entah bagaimana menjelaskannya, alasan aku kesal masih cukup abstrak, tapi aku hanya merasa konten seperti itu tidak baik dan tidak lucu sama sekali.

Ditambah, aku tahu cerita tentang temanku yang bersedih saat mendapatkan nilai yang rendah saat ujian, sementara rekan lainnya ada yang mendapatkan nilai yang lebih baik dan bahkan tinggi dengan jalan menyontek. Makin-makin aku kesal dengan kegiatan sontek-menyontek ini.

Pesanku, untuk rekan peserta didik, jadilah "siswa caper", tapi cobalah untuk tidak mengganggu sekitarmu. Pesanku, untuk rekan pendidik, kenali tipe-tipe peserta didik dan pelajari cara menanganinya.

Rabu, 05 Agustus 2020

Safar

Safar adalah bahasa serapan dari bahasa Arab. Di KBBI, kata safar memiliki 2 penggunaan: Safar yang merupakan serapan dari صَفَر (Shafar) yaitu bulan kedua dari tahun Hijriah dan safar yang diserap dari kata سَفَر (safar) yang artinya perjalanan.

Akhir-akhir ini, aku cukup banyak melalui perjalanan. Setiap hari Ahad, aku berangkat pagi dari Jatinangor ke Bandung, lalu pulang petang hari dari Bandung ke Jatinangor.

Untuk beberapa alasan, aku suka safar. Aku suka dua makna dari kata safar ini. Tapi, aku ingin cerita mengenai perjalanan. Ada beberapa hal yang aku syukuri dari perjalanan:
  1. Perjalanan adalah salah satu dari kondisi di mana doa mustajab. Artinya, doa-doa akan lebih mudah Allah kabulkan. Terlebih ketika kondisi perjalanan ini tergabung dengan kondisi doa mustajab lainnya, semisal hujan.
  2. Konon, perjalanan akan membuka sisi seseorang yang tidak kita lihat sebelumnya. Banyak yang mengatakan kalau kita ingin mengetahui sifat orang yang sebenarnya, bawalah ia ke perjalanan bersamamu. Aku pribadi kurang sepakat kalau menggunakan istilah "sifat sebenarnya", tapi aku pikir "sisi yang belum terlihat" akan lebih relevan. Aku jadi berpikir, sekiranya kelak aku mendapatkan pasangan hidup (baca: istri), pekan pertama kami ingin aku jadikan di suatu perjalanan.
  3. Bersambung dari poin sebelumnya, kalau kita bisa melihat sisi yang belum terlihat dari orang lain di perjalanan, aku mulai merasa kalau aku merasakan sisi diriku yang bahkan aku sendiri belum pernah rasakan sebelumnya di perjalanan, khususnya ketika aku melakukannya sendiri. Aku jadi lebih banyak mengenal diri sendiri.
  4. Perjalanan, khususnya ketika sendiri, memberiku waktu dan suasana untuk berpikir dan merenung. Cukup banyak ide dan pandangan yang referensinya adalah suatu peristiwa di perjalanan.
  5. Nabi Muhammad -selawat serta salam baginya- pernah mengatakan (hadis riwayat Al Bukhari dan Muslim), yang maknanya, "Safar adalah bagian dari azab." Dari hadis ini, aku selalu berharap bahwa setiap langkah dan penatku di perjalanan bisa menjadi penghapus dosa-dosaku.
Tulisan inipun aku pikirkan ketika aku di perjalanan. Khususnya mengenai sisi diriku yang belum terlihat, aku baru-baru menyadarinya ketika hari Ahad lalu aku berjalan pulang selepas mengajar di Bandung menuju Jatinangor. Ini menjadi kacamata baruku terhadap safar.

Minggu, 02 Agustus 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Keinginan Belajar

2 Agustus 2020

Belajar karena dipaksa memanglah epic, tapi pernah gak kalian...ngajar orang yang dipaksa belajar?

Sebetulnya, aku sudah paham dari sejak pertemuan pertama aku mengajar, bahwa peserta didikku belajar bukan karena mereka ingin. Ibu merekalah yang menuntun mereka untuk belajar mengaji. Bagaimanapun, aku paham bahwa ibunya menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya. Akupun ingin bisa menyiarkan Alquran kepada mereka.

Aku percaya, yang namanya dorongan untuk melakukan sesuatu itu bisa ditumbuhkan, sekalipun di awal tidak ada bibit keinginan sama sekali. Aku sendiri merasakan bagaimana aku habiskan sekitar 3 tahun untuk mempelajari sesuatu yang aku tidak inginkan (setengah tahun belajar untuk Ujian Nasional, 2,5 tahun belajar di perkuliahan), yang pada akhirnya aku merasa hampir tidak belajar. Aku merasakan bagaimana keinginan kuat untuk belajar itu muncul setelah 3 tahun dipaksakan, sangat kuat sampai aku berharap bisa mengulang 3 tahun yang sudah berlalu. Aku akui, belajar sesuatu yang tidak diinginkan itu berat. Yang aku lakukan? Hanya meyakini kalau semua proses ini akan ada manfaatnya. Tanpa aku duga, saat ini aku bercita-cita menjadi ahli dari sesuatu yang awalnya tidak kuinginkan sama sekali.

Tapi, mengajar peserta didik yang tidak ingin belajar? Ini aku akui lebih berat. Pasalnya, sebagai pendidik, aku harus berusaha untuk tidak ikut kehilangan motivasi mendidik. Aku harus memberikan dorongan kepada peserta didikku dan terus mencari cara dan celah untuk membuka mata, pikiran, dan hati peserta didikku. Beratnya lagi, ini bukan diriku yang bisa aku paksa-paksa semauku, tapi ini orang lain.

Menahan diriku saja perlu 3 tahun. Kira-kira, bagaimana ya kelanjutan privat mengaji ini?

Pada akhirnya, memang hanya Allah yang tahu dan yang mampu membalikkan hati mereka. Ya Allah, aku mohon, balikkan hati mereka, cerahkan pikiran mereka, agar mereka lebih terbuka untuk mempelajari kitab-Mu. Ya Allah, aku mohon, kuatkan aku sebagai pendidik, tabahkan aku ketika mendapati sikap peserta didikku yang terkadang tak acuh, mudahkan jalanku. Amin.