Rabu, 05 Agustus 2020

Safar

Safar adalah bahasa serapan dari bahasa Arab. Di KBBI, kata safar memiliki 2 penggunaan: Safar yang merupakan serapan dari صَفَر (Shafar) yaitu bulan kedua dari tahun Hijriah dan safar yang diserap dari kata سَفَر (safar) yang artinya perjalanan.

Akhir-akhir ini, aku cukup banyak melalui perjalanan. Setiap hari Ahad, aku berangkat pagi dari Jatinangor ke Bandung, lalu pulang petang hari dari Bandung ke Jatinangor.

Untuk beberapa alasan, aku suka safar. Aku suka dua makna dari kata safar ini. Tapi, aku ingin cerita mengenai perjalanan. Ada beberapa hal yang aku syukuri dari perjalanan:
  1. Perjalanan adalah salah satu dari kondisi di mana doa mustajab. Artinya, doa-doa akan lebih mudah Allah kabulkan. Terlebih ketika kondisi perjalanan ini tergabung dengan kondisi doa mustajab lainnya, semisal hujan.
  2. Konon, perjalanan akan membuka sisi seseorang yang tidak kita lihat sebelumnya. Banyak yang mengatakan kalau kita ingin mengetahui sifat orang yang sebenarnya, bawalah ia ke perjalanan bersamamu. Aku pribadi kurang sepakat kalau menggunakan istilah "sifat sebenarnya", tapi aku pikir "sisi yang belum terlihat" akan lebih relevan. Aku jadi berpikir, sekiranya kelak aku mendapatkan pasangan hidup (baca: istri), pekan pertama kami ingin aku jadikan di suatu perjalanan.
  3. Bersambung dari poin sebelumnya, kalau kita bisa melihat sisi yang belum terlihat dari orang lain di perjalanan, aku mulai merasa kalau aku merasakan sisi diriku yang bahkan aku sendiri belum pernah rasakan sebelumnya di perjalanan, khususnya ketika aku melakukannya sendiri. Aku jadi lebih banyak mengenal diri sendiri.
  4. Perjalanan, khususnya ketika sendiri, memberiku waktu dan suasana untuk berpikir dan merenung. Cukup banyak ide dan pandangan yang referensinya adalah suatu peristiwa di perjalanan.
  5. Nabi Muhammad -selawat serta salam baginya- pernah mengatakan (hadis riwayat Al Bukhari dan Muslim), yang maknanya, "Safar adalah bagian dari azab." Dari hadis ini, aku selalu berharap bahwa setiap langkah dan penatku di perjalanan bisa menjadi penghapus dosa-dosaku.
Tulisan inipun aku pikirkan ketika aku di perjalanan. Khususnya mengenai sisi diriku yang belum terlihat, aku baru-baru menyadarinya ketika hari Ahad lalu aku berjalan pulang selepas mengajar di Bandung menuju Jatinangor. Ini menjadi kacamata baruku terhadap safar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar