Selasa, 26 Mei 2020

Pasangan (Kiri dan Kanan)

Menurutku, gagasan yang menjadi deskripsi paling akurat dan presisi dari sebuah pasangan adalah kiri dan kanan. Banyak sekali pasangan yang digambarkan pada posisi kanan dan kiri. Perhatikan tubuh kita: organ luar dan dalam. aku tidak bisa memikirkan organ yang berpasangan selain dengan posisi kanan dan kiri. Paling-paling, ketika mengingat gigi. Itupun selain pada posisi atas dan bawah juga pada posisi kiri dan kanan.


Posisi kiri dan kanan ini unik. Pasangan kiri dan kanan masing-masingnya memiliki posisi yang berbeda, karakter yang berbeda, bentuk yang berbeda. Tidak ada dominasi antar satu dengan yang lain; tidak ada yang di atas, tidak ada yang di bawah. Berseberangan, namun melengkapi. Berbeda, namun bersatu. Betapa indah pola kiri dan kanan.

Akupun berpikir:

Apakah ini pola pasangan sebenarnya?

Apakah pasangan yang baik pastilah berbentuk kanan dan kiri?

Sekiranya begitu, apakah aku kiri atau kanan?

Kalau aku kiri, lantas siapa kananku? Kalau aku kanan, lantas siapa kiriku?

Sabtu, 23 Mei 2020

Pasangan (Pertemuan dan Perpisahan)

Pertemuan bisa jadi sangat menyenangkan, dan perpisahan bisa jadi sangat menyedihkan. Pertemuan bisa saja tidak diinginkan, dan perpisahan seringkali dinantikan.

Ada sebuah kutipan populer mengenai pertemuan dan perpisahan:
"Hargailah setiap pertemuan, karena tidak ada yang tahu kapan terakhir kali akan bertemu"
Sehingga, sebagian orang akan berpikir untuk mencintai setiap detik pertemuan seakan tidak akan berjumpa lagi esok hari. Mengisi hari-hari bersama pertemuan, tanpa berpikir sedetik pun mengenai apa yang akan terjadi ketika tiba waktunya perpisahan.

Namun bagaimana, bagaimana jika aku memilih untuk bersikap biasa saja mengenai pertemuan? Bagaimana jika aku bersikap biasa saja mengenai pertemuan, sebab aku telah tahu pasti bahwa kelak akan berpisah? Bagaimana jika aku memilih untuk berpikir di setiap detik pertemuan, bahwa bisa saja satu detik kemudian akan ada perpisahan?

Aku sudah merasakan beberapa kali manisnya pertemuan dan sakitnya perpisahan. Setelah dipikir-pikir, itu semua karena aku tidak pernah berpikir sedetik pun tentang persiapanku menghadapi perpisahan. Yang aku lakukan hanya pertemuan dan pertemuan, bahkan di detik-detik ketika aku mulai paham bahwa perpisahan akan terjadi dalam waktu dekat, masih saja aku berpikir untuk bertemu. Kalau dipikir-pikir, seperti orang yang terus menerus memakan manisan, padahal dia tahu beberapa menit lagi dia harus meminum obat antidiabetes, seperti membalikkan jam pasir tanpa ingat untuk membalik kembali jam pasir tersebut.

Aku memutuskan, untuk bersikap adil terhadap pertemuan dan perpisahan dengan membuat sebuah kutipan baru:
"Ingatlah perpisahan di setiap menit pertemuanmu, sebab pertemuan melenakan namun perpisahan itu pasti."

Senin, 18 Mei 2020

Piramida Puisi Kontemporer

anehena
nehen
ehe
h

h
ehe
nehen
anehena


anehena
nehen
ehe
h
ehe
nehen
anehena

aneh
dibaca dari kiri ke kanan
aneh
dibaca serong
aneh
dibaca dari atas ke bawah
aneh
aneh

Hidup Adalah Komedi

Disclaimer: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan film Joker.


Ada sebuah prinsip dalam dunia komedi, yang seringkali diulang-ulang oleh seorang komedian ulung Indonesia, Raditya Dika:
"Komedi adalah tentang mematahkan ekspektasi"
Hei! Sepertinya ungkapan di atas sangat tidak asing.

Bukankah seringkali di kehidupan kita, banyak sekali hal yang tidak sesuai ekspektasi? Kita ingin memasak nasi namun lupa menekan tombol "cook". Kita ingin masuk perguruan tinggi negeri, belajar mati-matian, ternyata hasilnya kita tidak lulus seleksi. Kita melamar kerja, berakhir tidak ada kabar lanjutan mengenai hasil wawancara. Patah kan ekspektasinya?
Hidup adalah komedi.
Kalau begitu, ya sudah. Kita hadapi saja ekspektasi kita yang patah dengan tawa dan senyuman. Sesimpel itu kah?

Ah sudahlah 😃
 

Minggu, 17 Mei 2020

Hal-Hal Baru yang Aku Pelajari Selama Karantina Mandiri (2)

Sejak lebih mengenal diri saat karantina mandiri, aku memutuskan lebih banyak diam dan berpikir.

Ya, diam dan berpikir. Diam akan banyak hal, sekalipun mungkin cukup mengganggu beberapa hal yang sudah menjadi prinsip, kemudian berpikir tentang fenomena tersebut. Anggap saja kontemplasi.

Tentunya tidak akan sepenuhnya diam, karena itu bukanlah prinsipku. Tapi, ada benarnya ucapan bijak berikut:
"Diam itu emas"
Sebab, seringkali kita bertindak akan sesuatu yang pada akhirnya tindakan itu tidak sesuai, tidak semestinya, dan sebagainya.

"Mas, kan seringkali ada hal-hal yang perlu keputusan cepat."
Ah, terserah Anda, tuan. Apapun itu, saya memutuskan untuk lebih banyak diam dan berpikir.

Sekian.

Sabtu, 09 Mei 2020

Hal-Hal Baru yang Aku Pelajari Selama Karantina Mandiri (1)

Ada sebuah teori yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, seperti  ini,

"Karantina mandiri dengan keluarga akan mengungkap banyak sisi-sisi baru atau sikap sesungguhnya dari anggota keluarga."

Aku sendiri tidak bisa relate sepenuhnya kepada perkataan ini, sebab aku karantina mandiri, sendiri, di tanah rantau. Tapi, kalau dikatakan bahwa terungkapnya hal-hal yang belum diketahui sebelumnya tentang seseorang sebab meningkatnya intensitas interaksi antar orang tersebut, mungkin aku merasakannya. Ya, aku lebih banyak berinteraksi dengan diriku sendiri akhir-akhir ini.

Aku makin mengenal diriku sendiri. Aku menemukan sifat-sifat yang belum pernah aku temui pada diriku sebelumnya.

Tapi anehnya, teori di atas juga ternyata bisa salah. Selama karantina mandiri, aku justru menemukan hal-hal baru mengenai manusia lainnya, hal-hal yang akhirnya aku memutuskan untuk menjadikannya sebagai opini yang aku pegang sebagai kacamata baruku terhadap manusia lain:
  1. Aku menganggap semua orang egois. Aku pada akhirnya tidak menganggap egois sebagai suatu hal yang negatif. Pada akhirnya, semua manusia memiliki egoisnya masing-masing. Pada akhirnya, semua orang akan benar-benar hanya memikirkan dirinya sendiri kelak, di hari kiamat. Jadi, aku memutuskan untuk mempersiapkannya dengan menganggap dari sekarang bahwa semua orang egois. Sungguh, aku tetap menghargai bahwa banyak juga orang yang ikut memikirkan orang lain, tapi ini sebatas opini pribadi agar aku dapat melepas ketergantunganku terhadap orang lain dan dapat sepenuhnya menyerahkan urusanku kepada Dzat Yang Maha penyayang, yang aku anggap Maha penyayang artinya tidak ada keegoisan di dalamnya.
  2. Aku memutuskan untuk lebih banyak diam, diam akan banyak hal. Dalam hal ini, yang aku maksud adalah bahwa ucapan itu sangat berbahaya, seseorang bisa saja tersinggung dengan ucapanku. Ya, dengan aku diam juga orang bisa tersinggung karena aku diamkan. Tapi, aku rasa akan lebih aman dan tidak menyakitkan sekiranya rasa tersinggung itu muncul sebab diamku dibandingkan sebab ucapku. Akhirnya, aku benar-benar mengurangi percakapan yang tidak perlu, aku lebih banyak berpikir sebelum mengatakan apapun, aku merasa lebih nyaman menyampaikan sesuatu lewat tulisan karena aku bisa memikirkannya terlebih dulu.
Sekian dulu, sepertinya. Karantina mandiri ini mungkin masih panjang, aku sendiri berusaha menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.

Opini Tidak Populer: Budaya Sahur Ramadhan Indonesia

Ada sebuah budaya di Indonesia yang ada di bulan Ramadhan, yaitu membangunkan sahur (beduk sahur). Berbagai pihak, yang umumnya adalah pemuda-pemuda, pengurus masjid, atau pengurus setempat, mereka menginisiasi berbagai macam cara untuk membangunkan warga sahur: mulai dari menggunakan pawai serupa marching band hingga bersyair dengan pengeras suara di masjid. Sebuah inisiasi dengan niat yang baik. Namun, aku ingin mengkritisi budaya ini.

Aku bertanya-tanya, inisiasi tersebut bagaimana lahirnya?

Inisiasi sepihak kah? Hasil rembukan dengan warga kah? Permintaan warga kah? Apakah semua warga memintanya? Apakah semua warga setuju akan adanya hal tersebut?

Jujur, semua pertanyaan di atas murni berangkat dari ketidaktahuan dan pengetahuan yang terbatas mengenai lingkungan sekitar. Yang aku ketahui, sangat mungkin tiap keluarga memiliki budaya yang berbeda-beda: mungkin sebagian mereka memang tidur, mungkin sebagian mereka baru melaksanakan salat tarawih atau salat malam di waktu sahur, mungkin sebagian sesungguhnya tidak meminta dibangunkan karena terbiasa bangun sendiri, mungkin sebagian adalah kaum agama lain yang merasa terganggu dengan budaya tersebut.

Sebagai catatan, sungguh aku sangat menghargai niat mereka-mereka yang baik untuk membangunkan sahur. Tapi, bukankah hal tersebut tentunya perlu memperhatikan kebutuhan sekitar? Ini bisa jadi ibarat menjual es batu di Alaska (sebuah perumpamaan yang kubuat-buat), ketika seseorang menawarkan sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Kalau umpama aku tergabung di dalam kelompok yang berwenang, semisal pengurus masjid, kelompok pemuda kerohanian Islam, atau sejenisnya, aku ingin sekali bertanya sebelum rekan-rekanku menginisiasi budaya membangunkan sahur tersebut: sungguhkah masyarakat butuh? Sungguhkah masyarakat tidak terganggu? Sudahkah melakukan survei kebutuhan masyarakat akan hal tersebut? Maksudku, jangan sampai niat baik berakhir dengan eksekusi yang buruk, berujung kepada imbalan yang buruk pula (katakanlah, berdosa--Semoga Allah lindungi kita dari hal tersebut.)


Semoga bermanfaat. Mohon pencerahan dari rekan-rekan sekalian yang kiranya berpengalaman dalam hal ini.


Sumber gambar:

Jumat, 08 Mei 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Role Model

Menurut saya, seorang pendidik adalah layaknya seorang Nabi. Jangan katakan saya berlebihan. Orang yang mengatakan demikian pun adalah seorang Nabi, utusan Allah yang terakhir bagi umat manusia: Rasulullah -shalawat dan salam baginya-. Beliau bersabda, yang artinya, "Ulama (cendekiawan) adalah pewaris Nabi." Katakanlah perkataan ini serupa dengan ucapan saya di awal.

Lantas, seorang pendidik harus merasa bahwa tindak-tanduknya diperhatikan oleh para peserta didiknya: cara menyampaikan pelajaran, cara menjawab pertanyaan, cara menegur kesalahan peseta didik, cara membimbing peserta didik, kelakuan di luar ruang kelas, sikap terhadap sesamanya, sikap terhadap peserta didik, sikap terhadap orang di sekitarnya, bahkan hingga kedisiplinan seorang pendidik. Segala hal yang dilakukan seorang pendidik akan diperhatikan oleh peserta didiknya. Sekalipun nyatanya tidak, tapi merasalah! Peserta didik akan bersikap sesuai dengan bagaimana kita bersikap, bahkan, mereka akan meniru, bak kaum seorang Nabi.

Sepengalaman saya sebagai seorang peserta didik, saya dan kawan-kawan akan cenderung menilai pendidik-pendidik kami dari tingkah lakunya di kelas, sikapnya saat dihubungi via media apapun itu, komitmennya dalam menghantarkan ilmunya kepada kami, dan kedisiplinannya. Hal-hal tersebut akan memengaruhi rasa hormat kami kepada pendidik tersebut.

Kamis, 07 Mei 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Kejujuran

Kejujuran dalam dunia pendidikan sangat kental dengan hal-hal klise.

"Saya bisa ya membedakan, mana yang menyontek, mana yang tidak. Kalau ada yang kelihatan menyontek, akan saya datangi dan langsung saya sobek!", ucap beberapa pendidik di sekolah saat ujian.

"Yang menyontek akan langsung dapat nilai 0!", ucap beberapa pendidik yang lain.

"Biar Allah yang menilai kejujuran kalian.", ujar seorang pendidik.

Memberikan hukuman seperti dua ucapan di awal berarti menunjukkan bahwa menyontek itu salah. Setuju. Menghukumnya di depan umum? Entahlah. Menurutku, dalam hal mendidik, kebaikan perlu diungkit dengan cara yang tepat, sedangkan kelalaian perlu disembunyikan dan ditindak dengan cara yang tepat pula. Memberikan sanksi tanpa teguran? Tentu tidak.

Menurutku, ada dua prinsip, yang mana ini klise, mengenai kejujuran dalam hal mendidik:

  1. Untuk menggali kejujuran, peserta didik perlu ditempatkan pada posisi aman, yaitu posisi di mana dia akan merasa tidak apa-apa untuk berkata jujur. Sebab, kejujuran adalah hal yang paling membutuhkan keberanian, sedangkan tidak semua orang memiliki keberanian ini. Biarlah peserta didik dengan tenang merasakan kejujuran: seringkali pahit, namun melegakan.
  2. Semua kelalaian, termasuk kecurangan dan kebohongan, pasti memiliki latar belakang masing-masing. Sudah sepatutnya seorang pendidik tahu lebih dulu latar belakang di balik kelalaian seorang peserta didik.
Maka, sebagai calon pendidik, saya rasa ini yang akan saya lakukan apabila peserta didik saya terlihat melakukan kecurangan atau kebohongan:

  1. Memanggilnya secara personal, menempatkannya di posisi aman.
  2. Menanyakan kembali, apakah ia benar melakukan kecurangan atau kebohongan.
  3. Apabila ia secara jujur menjawab bahwa ia curang atau bohong, saya akan tanyakan latar belakang peserta didik tersebut melakukannya, tentunya dengan cara yang paling membuatnya merasa aman, lalu sembari membuat ia berpikir mengenai perbuatannya, apakah salah atau tidak, kemudian mencari bersama jalan keluarnya untuk memperbaiki kesalahannya.
  4. Apabila ia bisa dipastikan bahwa ia tidak curang atau bohong, maka selesai, peserta didik dilepaskan.
"Bisa saja ia berbohong!"

Tentu. Di sinilah ke-klise-an memuncak. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah mengenai isi hati peserta didik. Saya akan tekankan hal tersebut sedari awal, yang mudah-mudahan tertanam di jiwa masing-masing peserta didik.

Rabu, 06 Mei 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Prolog

Saya selalu menanamkan ke diri saya untuk menjadi seorang pendidik kelak. Saya belum menentukan saya akan ada di pendidik lini mana, di bidang ilmu apa, pokoknya saya mau jadi pendidik. Kenapa? Karena saya ingin investasi pahala, sebab ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan yang tidak akan terputus sekalipun telah meninggal dunia.
Pertanyaan: Apakah dengan menyandang status sebagai pendidik saja cukup untuk investasi pahala?

Tentu tidak! Saya bercita-cita menjadi pendidik yang kompeten dan komprehensif: menjadikan ilmu yang diajarkan bermanfaat, berusaha memahamkan peserta didik dengan segenap kemampuan, merasa sebagai role model, dan merasa punya tanggungjawab terhadap pemahaman peserta didik. Saya tidak mau menjadi pendidik yang buruk (buruk dalam opiniku): merasa tugasnya hanya menyampaikan ilmu tanpa memperhatikan kondisi peserta didik, memperlakukan peserta didik seperti kaset rekaman yang mampu menyimpan apapun yang disampaikan secara presisi.

Sebagai peserta didik saat ini, saya mencoba memahami 2 komponen dalam pendidikan: pendidik dan peserta didik. Dengan berusaha sekomprehensif mungkin, saya coba amati poin-poin mengenai seperti apa seorang peserta didik dan seperti apa seorang pendidik. Saat ini, sembari saya berusaha menjadi peserta didik yang ideal, saya juga mencatat apa-apa yang saya bisa terima dan tidak bisa terima dari sikap pendidik terhadap peserta didiknya.

Semuanya akan saya rangkum dalam tulisan bertajuk: Catatan Kaki Calon Pendidik.