Kejujuran dalam dunia pendidikan sangat kental dengan hal-hal klise.
"Saya bisa ya membedakan, mana yang menyontek, mana yang tidak. Kalau ada yang kelihatan menyontek, akan saya datangi dan langsung saya sobek!", ucap beberapa pendidik di sekolah saat ujian.
"Yang menyontek akan langsung dapat nilai 0!", ucap beberapa pendidik yang lain.
"Biar Allah yang menilai kejujuran kalian.", ujar seorang pendidik.
Memberikan hukuman seperti dua ucapan di awal berarti menunjukkan bahwa menyontek itu salah. Setuju. Menghukumnya di depan umum? Entahlah. Menurutku, dalam hal mendidik, kebaikan perlu diungkit dengan cara yang tepat, sedangkan kelalaian perlu disembunyikan dan ditindak dengan cara yang tepat pula. Memberikan sanksi tanpa teguran? Tentu tidak.
Menurutku, ada dua prinsip, yang mana ini klise, mengenai kejujuran dalam hal mendidik:
- Untuk menggali kejujuran, peserta didik perlu ditempatkan pada posisi aman, yaitu posisi di mana dia akan merasa tidak apa-apa untuk berkata jujur. Sebab, kejujuran adalah hal yang paling membutuhkan keberanian, sedangkan tidak semua orang memiliki keberanian ini. Biarlah peserta didik dengan tenang merasakan kejujuran: seringkali pahit, namun melegakan.
- Semua kelalaian, termasuk kecurangan dan kebohongan, pasti memiliki latar belakang masing-masing. Sudah sepatutnya seorang pendidik tahu lebih dulu latar belakang di balik kelalaian seorang peserta didik.
Maka, sebagai calon pendidik, saya rasa ini yang akan saya lakukan apabila peserta didik saya terlihat melakukan kecurangan atau kebohongan:
- Memanggilnya secara personal, menempatkannya di posisi aman.
- Menanyakan kembali, apakah ia benar melakukan kecurangan atau kebohongan.
- Apabila ia secara jujur menjawab bahwa ia curang atau bohong, saya akan tanyakan latar belakang peserta didik tersebut melakukannya, tentunya dengan cara yang paling membuatnya merasa aman, lalu sembari membuat ia berpikir mengenai perbuatannya, apakah salah atau tidak, kemudian mencari bersama jalan keluarnya untuk memperbaiki kesalahannya.
- Apabila ia bisa dipastikan bahwa ia tidak curang atau bohong, maka selesai, peserta didik dilepaskan.
"Bisa saja ia berbohong!"
Tentu. Di sinilah ke-klise-an memuncak. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah mengenai isi hati peserta didik. Saya akan tekankan hal tersebut sedari awal, yang mudah-mudahan tertanam di jiwa masing-masing peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar