Sabtu, 09 Mei 2020

Hal-Hal Baru yang Aku Pelajari Selama Karantina Mandiri (1)

Ada sebuah teori yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, seperti  ini,

"Karantina mandiri dengan keluarga akan mengungkap banyak sisi-sisi baru atau sikap sesungguhnya dari anggota keluarga."

Aku sendiri tidak bisa relate sepenuhnya kepada perkataan ini, sebab aku karantina mandiri, sendiri, di tanah rantau. Tapi, kalau dikatakan bahwa terungkapnya hal-hal yang belum diketahui sebelumnya tentang seseorang sebab meningkatnya intensitas interaksi antar orang tersebut, mungkin aku merasakannya. Ya, aku lebih banyak berinteraksi dengan diriku sendiri akhir-akhir ini.

Aku makin mengenal diriku sendiri. Aku menemukan sifat-sifat yang belum pernah aku temui pada diriku sebelumnya.

Tapi anehnya, teori di atas juga ternyata bisa salah. Selama karantina mandiri, aku justru menemukan hal-hal baru mengenai manusia lainnya, hal-hal yang akhirnya aku memutuskan untuk menjadikannya sebagai opini yang aku pegang sebagai kacamata baruku terhadap manusia lain:
  1. Aku menganggap semua orang egois. Aku pada akhirnya tidak menganggap egois sebagai suatu hal yang negatif. Pada akhirnya, semua manusia memiliki egoisnya masing-masing. Pada akhirnya, semua orang akan benar-benar hanya memikirkan dirinya sendiri kelak, di hari kiamat. Jadi, aku memutuskan untuk mempersiapkannya dengan menganggap dari sekarang bahwa semua orang egois. Sungguh, aku tetap menghargai bahwa banyak juga orang yang ikut memikirkan orang lain, tapi ini sebatas opini pribadi agar aku dapat melepas ketergantunganku terhadap orang lain dan dapat sepenuhnya menyerahkan urusanku kepada Dzat Yang Maha penyayang, yang aku anggap Maha penyayang artinya tidak ada keegoisan di dalamnya.
  2. Aku memutuskan untuk lebih banyak diam, diam akan banyak hal. Dalam hal ini, yang aku maksud adalah bahwa ucapan itu sangat berbahaya, seseorang bisa saja tersinggung dengan ucapanku. Ya, dengan aku diam juga orang bisa tersinggung karena aku diamkan. Tapi, aku rasa akan lebih aman dan tidak menyakitkan sekiranya rasa tersinggung itu muncul sebab diamku dibandingkan sebab ucapku. Akhirnya, aku benar-benar mengurangi percakapan yang tidak perlu, aku lebih banyak berpikir sebelum mengatakan apapun, aku merasa lebih nyaman menyampaikan sesuatu lewat tulisan karena aku bisa memikirkannya terlebih dulu.
Sekian dulu, sepertinya. Karantina mandiri ini mungkin masih panjang, aku sendiri berusaha menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar