Jumat, 20 Agustus 2021

Ucapan Adalah Doa (?)

 "Ucapan adalah doa", ungkapan yang sangat klise. Biasanya, ketika ada seseorang berkata buruk tentang sesuatu, dan ada orang yang tidak ingin hal tersebut terjadi, dia akan berucap, "hussss, ucapan itu doa lho!". Begitu.

Tapi, ada yang lebih kuat dari "ucapan adalah doa". Percaya? Tidak?

Serius. Ada. Namanya,

"Perbuatan adalah doa"

Iya. Kamu tidak salah baca. Perbuatan adalah doa.

Bagaimana itu maksudnya?

Bayangkan kamu menginginkan sesuatu, misalnya ingin suatu pekerjaan yang sudah kamu impikan, anggaplah sebagai tentara, misalnya. Kemudian, kamu sering berlaku seakan kamu sudah punya pekerjaan tersebut, misalnya, kamu sering bangun pagi karena biasanya para tentara bangun pagi. Kamu juga rajin berolahraga sembari berteriak, "LARI LARI, TIAP PAGI, BADAN SEHAT, TUBUH KUAT", karena tentara sering melakukan itu. Kamu juga latihan menembak meskipun hanya dengan ketapel, karena tentara biasanya latihan menembak. Seterusnya begitu.

Maka, perbuatan seperti ini bisa disebut doa, bahkan doa yang lebih kuat daripada ucapan. Bayangkan, atasan mana yang tidak ingin memberikan pekerjaan pada seseorang yang bersikap profesional seakan sudah bekerja di tempat tersebut. Apalagi kita bicara tentang Allah, melihat hamba-Nya menginginkan sesuatu, yang baik tentunya, bahkan sampai membayangkan dan bersikap seakan sesuatu itu sudah dicapai. Bagaimana Allah bisa mengabaikan itu, sementara Allah tidak pernah mengabaikan hamba-Nya sedetik pun, Yang Mahateliti atas hamba-Nya?

Jadi, apapun impianmu, apapun doamu, cobalah bentuk sebagai sebuah perbuatan nyata.

Bacaan tambahan: https://randomfootnotes.blogspot.com/2020/06/mengejar-setengah-impian.html

Jumat, 11 Juni 2021

Catatan Kaki Calon Pendidik: Pidato Kelulusan

Jumat, 28 Mei 2021, hari sidang kelulusan. Berada di sebuah ruangan daring, dihadapkan dengan 4 orang penguji dari 4 bidang keilmuan yang berbeda. Hari unjuk giginya mahasiswa, gigi yang telah ditumbuhkan selama hampir 5 tahun, gigi yang dilatih untuk mengunyah segala ilmu yang diberikan. Hari di mana mahasiswa itu sadar bahwa gigi yang tumbuh 5 tahun itu tidak lain hanyalah gigi susu. Saya adalah mahasiswa itu.

Senin, 31 Mei 2021, hari yudisium. Hari di mana gigi susu yang telah tumbuh selama 5 tahun akhirnya rontok seluruhnya, meninggalkan gusi yang siap menumbuhkan gigi paten. Hari itu, saya dinyatakan lulus.

Kurang lebih itulah yang saya rasakan ketika menerima kenyataan bahwa saya telah lulus: seperti baru saja mencapai usia balig; seperti gigi susu terakhir yang tanggal; seperti ada perubahan pada suara; seperti helai rambut wajah pertama.

Melalui 5 tahun perkuliahan, saya tersadar bahwa saya tidak lebih dari itu. Begitu banyak hal yang masih harus saya pelajari untuk menghadapi kehidupan nyata. Perjalanan yang cukup panjang ini tidak lebih hanyalah perjalanan dari rumah ke pasar, untuk membeli kebutuhan perjalanan yang lebih panjang.

Sekalipun begitu, saya sangat bersyukur telah ada di titik ini, titik di mana semuanya akan bermula. Saya ingin menyampaikan rasa syukur dan hormat saya pada pihak-pihak yang berperan pada proses saya ini:

  1. Allah --Yang Mahasuci dan Mahatinggi.
  2. Umi, Abi, dan Kakak selaku penyokong moral dan material.
  3. Jajaran dosen dan tenaga pendidik Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
  4. Dr. apt. Yoga Windhu Wardhana, M.Si., selaku dosen pembimbing utama yang mengenalkan saya dunia keilmuan teknologi farmasi lebih dalam.
  5. Dr. apt. Dolih Gozali, M.S., selaku dosen pembimbing pendamping yang telah berkenan membimbing saya yang sering khilaf ini.
  6. apt. Handrian Ramoko, S.Farm., yang secara tidak resmi menjadi pembimbing pendamping dalam penelitian tugas akhir saya.
  7. Jajaran penguji saat seminar usulan penelitian, seminar hasil penelitian, dan sidang sarjana, yang telah menyadarkan saya betapa ilmu saya ini hanyalah kubangan air di jalan raya.
  8. Rekan-rekan seperjuangan saat tugas akhir di laboratorium, yang telah menciptakan suasana sehingga saya bisa terus melangkah maju.
  9. Dr. apt. Ida Musfiroh, M.Si., yang telah menjadi dosen wali yang baik.
  10. Rekan-rekan seperjuangan angkatan 2016, Heroin 2016, yang menjadi salah satu alasan utama saya untuk berusaha tegar berkuliah.
  11. Rekan-rekan kelompok NPM zone, yang telah banyak saya buat repot sebab saya yang sering tidak becus dalam melakukan tugas-tugas perkuliahan (sungguh, terima kasih, ini sama sekali bukan sarkasme).
  12. Rekan-rekan kelompok proyek FHI, yang akhirnya terus menjadi support system utama saya sejak itu sampai kelulusan.
  13. Teman-teman yang telah menjadi tempat bercerita: Hanifahzin, Faisal, Yusuf, Hammam, Hira, Soleh, Gina, Felia, Ipi, Irmay, Alvin, Adham, Bima, Iyan, dan lainnya yang tidak tersebut.
  14. Teman-teman lama yang sangat saya cintai: Afifi, Hazim, Hafash, Mufti, Nara, dan lainnya yang tidak tersebut.
  15. Seluruh pihak yang terlibat dalam proses perkuliahan hingga kelulusan yang tidak tersebut.
Perjalanan yang akan saya lakukan ke depannya akan lebih berat dan lebih banyak rintangan. Maka dari itu, saya mohon untuk didoakan agar saya dikuatkan.

Saya juga ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses perkuliahan hingga kelulusan. Saya mohon maaf atas khilaf yang melibatkan rekan-rekan sekalian.

Selasa, 25 Mei 2021

Kemarahan

Aku percaya, bahwa ketika seseorang marah, sesungguhnya itu berangkat dari sesuatu yang tidak bisa dia mengerti. Aku sudah cukup sering menghadapi orang yang sedang marah, khususnya diriku sendiri. Ketika aku coba menggali alasan mereka marah, mereka selalu mengungkapkan alasannya, baik secara tersirat maupun tersurat, dengan kata-kata semacam "kenapa sih ...?", seperti ada sesuatu yang tidak bisa mereka mengerti.

Mungkin, inilah mengapa, orang yang memiliki ilmu yang luas dan dalam, atau orang yang selalu berusaha memahami apapun situasinya, cenderung mudah menahan marahnya. Justru, pikiran orang-orang seperti ini akan berputar ketika mereka marah, untuk mendapatkan jawaban dari sesuatu yang tidak mereka mengerti.

Sementara itu, orang yang dangkal pemahaman atau menolak untuk mencoba memahami keadaan, maka akan sangat mudah bagi mereka untuk marah. Mungkin, orang-orang seperti inilah yang sering dijuluki "sumbu pendek". Bagai petasan bersumbu pendek, disulut sebentar sudah meledak.

Maka dari itu, aku selalu berusaha untuk tidak reaktif ketika ada sesuatu yang tidak aku mengerti, melainkan aku diam sejenak untuk menenangkan diri dan mengambil waktu untuk berpikir. Seringkali, ketika aku marah, aku tuangkan hal-hal yang tidak aku mengerti di selembar kertas atau aku ketik di komputer, sembari mencoba melihat hal tersebut dari berbagai sudut pandang. 

Jumat, 05 Maret 2021

Catatan Kaki Calon Pendidik: Good Teach Bad Teach

Sangkalan: Tulisan ini sepenuhnya adalah opini liar yang jelas tidak populer dan tanpa pemikiran matang. Tulisan ini hanya ditujukan untuk mengeluarkan isi kepalaku dan mungkin saja bisa menjadi referensi kelak bagiku ataupun pembaca.

Hari ini, sepulang sesi mengajar les, aku terpikir tentang bagaimana seorang pelajar mengingat apa yang dikatakan oleh pendidik. Sejenak aku mencoba melakukan kilas balik untuk menemukan memori tentang bagaimana seorang pendidik yang pernah mendidikku memberikan kata-kata yang berbekas. Semulanya, aku hanya mencoba mengingat tentang pelajaran atau nasihat yang berbekas baik pada diriku.

Tiba-tiba, pikiran liarku menghantarkanku ke memori tentang perkataan yang berbekas tidak baik pada diriku. Tidak baik dalam arti bahwa aku tidak suka dengan apa yang pendidik itu katakan atau lakukan. Pikiran liarku berkata kalau cara apapun yang dapat memberi bekas pada ingatan seseorang dapat digunakan untuk mendidik.

Pada akhir kontemplasi, aku coba simpulkan bahwa ada 2 tipe pendidik yang dapat menghantarkan materi pelajaran dengan baik:

  1. Pendidik yang memposisikan dirinya sebagai pemimpin diskusi
  2. Pendidik yang luar biasa menyebalkan (?)
Pendidik sebagai pemimpin diskusi dapat mengarahkan para pelajar untuk mencoba menggali sendiri ilmu. Ada ungkapan yang cukup populer mengatakan bahwa sesuatu yang diperoleh dengan proses yang relatif sulit akan dijaga dengan baik. Hal ini juga mungkin berlaku pada ilmu, apabila diraih dengan berproses sendiri, bukan diterima jadi, maka dapat berbekas lebih baik. Tentunya, tugas pendidik selain meminta pelajar menggali ilmunya adalah mengarahkan ketika pelajar mulai menggali ke arah yang menyimpang.

Pendidik yang luar biasa menyebalkan? Iya, kamu tidak salah baca. Saat aku melakukan kilas balik, banyak sekali memori tentang pendidik yang menyebalkan lewat. Sayangnya, memori yang lewat hanya di bagian di mana pendidik itu melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyebalkan.

Tapi justru inilah potensi pendidik yang menyebalkan. Pendidik yang menyebalkan harus dapat membentuk dirinya menjadi pribadi yang paling menyebalkan di mata pelajar. Seberapa pendidik itu harus menyebalkan? Harus sampai pada tingkat di mana tiap gerakan dan tiap ucapan yang dilakukan cukup menyebalkan untuk memberikan bekas pada pelajar. Harus sampai pada titik di mana peserta didik bisa berkata, "Menyebalkan sekali si Pak/Bu Anu, ketika dia menjelaskan bahwa air itu menguap pada suhu 100 derajat Celcius!" dan serupanya.

Tapi setelah dipikir lagi, ini bukan berasal dari sikap menyebalkan. Intinya, cara menyampaikan ilmu harus cukup eksentrik dan menimbulkan kesan yang tidak biasa, bahkan menyentuh sampai ke emosi pelajar. Mungkin begitu.