Selasa, 28 Juli 2020

Keresahan: Relativitas Waktu

TULISAN INI TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN TEORI FISIKA KUANTUM, TEORI EINSTEIN, DAN SEBANGSANYA.

Iya, bukan tulisan ilmiah ya. Hanya opini yang lahir dari pengalaman 😊

Ada ungkapan yang cukup akrab di telingaku:
"Waktu terasa lebih cepat kalau dinikmati, lebih lambat kalau tidak dinikmati."
Mungkin ungkapan di atas juga tidak asing bagi kalian.

Ceritanya, saat itu aku sedang libur. Aku lupa cerita ini terjadi setelah aku menulis "Menghargai Waktu Libur" atau belum, tapi ini sangat terkait. Aku ingat saat itu aku niatkan liburku untuk menjadi ajang menjadi lebih dekat dan lebih banyak membantu orangtua.

Saat itu, aku merasa waktu terasa sangat lambat. Sekitar 2 pekan aku berlibur di rumah, tapi rasanya seperti mungkin 3 pekan atau 1 bulan. Aku rasa-rasa, padahal saat itu aku menikmati hari libur itu, dengan sebisa mungkin lebih banyak dekat dengan orangtua.

Suatu waktu saat itu, ada sebuah diskusi yang dimulai dari ibuku yang berkata,

"Kalau kita nikmatin waktu, biasanya akan terasa cepet yah..." kurang lebih begitu kata ibuku.

Aku yang sudah menyadari sebaliknya, menjawab, "Nggak tuh, sekarang Jiyad ngerasa lebih lambat." Iya, panggilanku di rumah di antaranya adalah Jiyad.

Langsung ibuku menimpali, "Berarti kamu nggak nikmatin dong?" Ya tentu langsung kujawab, "Nggak gitu, ummiii." Aku takut jawabanku sebelumnya menyinggung perasaaan ibuku, tapi aku tidak ingin berdebat dengan ibuku. Ya sudah, aku diamkan saja, berharap bahasan itu tidak berlanjut.

Kejadian itu cukup mengganggu pikiranku. Bahkan, setiap aku teringat kejadian itu, itu selalu mengganggu dan membuatku resah. Ingatan itu selalu membuatku berpikir, "Apa iya aku tidak menikmati waktu itu? Apa benar perasaan cepat lambatnya waktu pasti terkait dengan perasaan kita yang menikmati waktu itu atau tidak? Lalu, apa perasaan yang muncul waktu liburan itu? Kenapa aku merasa senang dan waktu terasa lambat?" Ah, mengganggu sekali!

Hingga akhirnya, setelah cukup lama berpikir dan mengumpulkan pandangan, aku menyimpulkan suatu hipotesis, mungkin itu istilahnya ya, hehe 😐

Begini:
"Waktu terasa lambat ketika berkah, dan terasa cepat ketika tidak berkah"
Dari mana hipotesis ini?

Begini.

Berkah sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya "terus bertambah", "kebaikan" dan makna yang tidak jauh dari dua kata tersebut. Artinya, sesuatu yang berkah akan terasa cukup, bahkan terasa banyak.

Ada sebuah kisah tentang Nabi Muhammad -Sholawat dan salam baginya- dan sahabatnya, Abu Huroiroh -Ridho Allah baginya-, yang bisa mendefinisikan arti berkah. Kala itu, Abu Huroiroh sangat kelaparan, hingga akhirnya beliau mendatangi Nabi dan Nabi mengajak beliau dan beberapa sahabat lain untuk disuguhkan susu. Ketika itu, Nabi yang sudah tahu bahwa Abu Huroiroh kelaparan, terlebih dulu menjamu sahabat lain sampai kenyang, hingga tersisa Nabi dan Abu Huroiroh. Terlintas di pikiran Abu Huroiroh,

"Mengapa tidak saya dulu yang dijamu? Kalau begini, susunya akan habis duluan. Tapi ini tidak jadi halangan bagiku untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya."

https://www.freepik.com/photos/background'>Background photo created by freepik - www.freepik.com

Lantas, ketika tersisa Nabi dan Abu Huroiroh, Nabi menyuguhkan susu yang tersisa kepada Abu Huroiroh terlebih dulu hingga Abu Huroiroh kenyang, sebelum akhirnya Nabi minum susu tersebut.

Oke. Apakah Abu Huroiroh menikmati rasa lapar yang ia rasakan sebelum akhirnya disuguhkan susu? Sahabat juga manusia, tentunya rasa lapar bukanlah hal yang dinikmati. Tapi, ketaatan dan ketundukan beliau kepada Nabi melahirkan keberkahan pada suguhan yang beliau minum. Susu yang mulanya beliau pikir tidak cukup, menjadi terasa mengenyangkan.

Oke. Sekarang, think about it this way:

Mungkin kalian pernah merasa waktu lebih lambat dari biasanya. Coba ingat-ingat, saat apa itu? Apakah saat salat Jumat dan sedang mendengarkan khatib berceramah di atas mimbar, lalu kalian menahan kantuk yang berat? Apakah saat salat tarawih dan imam membaca surat yang tidak biasa dibaca sehingga terasa seperti bacaan panjang? Ketika berpuasa di bulan Ramadhan dan hari sedang panas terik? Ataukah ketika sedang membaca Alquran? Atau apa?

Cocokologi? Iya. Tidak ada bukti valid? Iya. Tidak sesuai dengan perhitungan matematis? Mungkin iya. Makanya aku sebut hipotesis. Percaya atau tidak? Silakan buktikan.

Minggu, 26 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Persiapan Mentah

26 Juli 2020

Seperti biasa, hari ini aku mengajar mengaji untuk dua peserta didikku. Pagi ini aku merasa lebih siap dari biasanya. Materi sudah selesai kusiapkan dari kemarin siang. Aku berpikir hari ini akan menjadi proses belajar yang baik.

Sampai...

Di tengah jalan, aku baru teringat kalau aku lupa bawa logbook dan buku catatan yang biasa aku pakai untuk peganganku. Tapi, ah sudahlah. Itu bukan hal yang esensial. Aku masih bisa merangkum di buku catatan kecil yang selalu aku bawa ke mana-mana. Logbook juga tidak seurgen itu.

Aku biasanya menggunakan media laptop untuk menampilkan presentasi di Powerpoint. Ternyata, lagi-lagi ada kendala. Di tengah proses mengajar, listrik di lokasi tiba-tiba mati, berdampak pada laptopku yang akhirnya tiba-tiba mati karena kehabisan baterai. Aku tidak menyiapkan media lain, jadilah aku hanya menerangkan. Untungnya, bahan presentasiku aku cetak dua buah dan masing-masing peserta didik memegangnya. Tapi, tetap saja aku jadi kaku dan gagap, mungkin karena cukup kaget dan tidak menyiapkan untuk kondisi ini.

Kejadian hari ini menyadarkanku, bahwa seorang pendidik perlu mempersiapkan semaksimal mungkin unutk semua kemungkinan yang bisa terjadi, baik-baiknya dan buruk-buruknya. Atau, mungkin memang begini proses untuk menjadi pendidik: melewati beberapa kejadian yang akhirnya harus dipelajari dan dijadikan patok-patok.

Sabtu, 25 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Gaya Belajar

Aku punya pengalaman tidak mengenakkan sebagai peserta didik.

Aku mengenali diriku sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan multitasking yang baik, sehingga aku merasa harus melakukan hal satu persatu. Begitupun dalam hal belajar, aku merasa tidak nyaman ketika harus menggabungkan lebih dari 1 kegiatan, misalnya mendengarkan sembari menulis, apalagi mendengarkan sembari menulis sesuatu yang terpampang di papan tulis atau proyektor. Dua kegiatan saja sudah membuatku tidak fokus, apalagi tiga.

Kejadian tidak mengenakkan itu terjadi saat perkuliahan semester 2. Aku mengikuti kuliah yang memiliki banyak detail. Aku ingat sekali saat itu bahasannya adalah tentang kandungan kimia dalam tumbuhan. Pengisinya adalah seorang ibu dosen.

Sebetulnya, rekan-rekan dari kelas lain yang sudah mengikuti perkuliahan beliau sudah mewanti-wanti untuk tidak melakukan hal-hal tidak baik di kelas beliau, karena jika demikian, beliau akan mengganti bahasan kuliah hari itu menjadi bahasan tentang kelakuan mahasiswa. Akupun mengusahakan yang biasa aku lakukan (dan menurutku sudah cukup baik sebagai seorang pelajar): duduk di barisan depan dan menyimak secara saksama materi yang disampaikan. Ada yang kurang? Ya, yaitu mencatat.

Aku akui, ada satu kesalahan yang aku lakukan: tidak menyiapkan alat tulis di atas meja. Tapi, sekalipun aku siapkan, aku bisa jamin saat itu aku tidak akan menyentuh satupun alat tulis itu, kecuali bolpoin untuk dimainkan karena aku butuh distraksi kecil. Kenapa aku tidak menyentuh alat tulis? Karena sepanjang perkuliahan, yang ibu dosen ini lakukan adalah terus menjelaskan sembari menunjukkan Powerpoint, otomatis aku hanya akan sibuk mendengarkan dan sedikitnya akan terbagi dengan melihat. Andaikata ibu dosen ini memberikan jeda di tiap halaman Powerpoint-nya, aku mungkin akan mencatat, mungkin.

Otomatis, posisi dudukku yang paling depan, lebih tepatnya di depan beliau berdiri, terlihat oleh beliau. Jadilah 30 menit setelahnya adalah beliau menegurku dan memberi wejangan. Terlebih lagi, beliau ini aku kenali sebagai sosok yang memiliki kata-kata yang to the point, bahkan terkadang menembus point itu sendiri. Jadilah pengalaman ini sebagai pengalaman paling tidak mengenakkan buatku selama perkuliahan. Sungguh, telingaku saat itu literally terasa panas.

Sebagai catatan, hal itu tidak menghilangkan rasa hormatku terhadap beliau. Sekalipun cara beliau menyampaikan teguran itu tidak mengenakkan, aku berusaha menangkap maksud beliau dan aku tetap mengakui beliau sebagai pendidik yang niat, bahkan cenderung bersikap mengayomi. Bahkan, tahun lalu aku bekerja sebagai asisten laboratorium di bawah bimbingan beliau.

Aku hanya tidak pernah mengerti sikap beliau hingga saat ini, yaitu sikap beliau yang seperti menuntut bahwa cara orang belajar haruslah sama. Jujur, setelah kejadian itu, aku mencoba untuk memperbaikinya, bahkan sekalipun bukan di kelas beliau. Aku menyiapkan catatan di tiap perkuliahan, hanya untuk mendapati pada akhirnya tidak ada catatan yang kudapat kecuali dosen terkait memberikan jeda khusus untuk menulis. Akhirnya, setiap kelas beliau, aku keluarkan catatan hanya untuk berpura-pura mencatat.

Ini menjadi poin penting yang aku masih percayai saat ini, bahwa tiap peserta didik memiliki gaya belajarnya masing-masing. Bahkan, kalau berbicara pendidikan formal, tidak semua peserta berniat untuk mengikuti kelas tertentu. Beberapa peserta didik hanya mengikuti alur yang disediakan orangtuanya tanpa berpikir sedikitpun sebelumnya untuk mengikuti kelas itu.

Solusinya?
Seorang pendidik, mau tidak mau, perlu memutar otak untuk menyiapkan metode pembelajaran yang semaksimal mungkin mengakomodasi berbagai bentuk dan karakteristik peserta didik.
 Aku tahu, ini akan jadi jalan yang panjang. Mempelajari karakteristik peserta didik mungkin seperti mempelajari susunan DNA: sepertinya tidak akan ada ujungnya. Sepertinya, begitulah takdir seorang pendidik: memulai sebagai peserta didik dan tetap menyandang gelar seorang peserta didik, sekalipun sudah menjadi pendidik.

Jumat, 24 Juli 2020

Keresahan: Harga Waktu

I will try to write this in English, because this writing iS nOt InDonEsiAn cUltURe, LOL.

Just kidding. I just want to hone my English writing skill. FYI (for your intermezzo), I spent most of my watch time watching videos in English, most of them are from Khan Academy, Nas Daily, and Pewdiepie. One day, I felt like I almost forgot how to speak Indonesian, maybe due to an excessive time spent on watching English videos LOL.

Now, speaking of time, I have something makes me anxious all the time, and it is about time.

I have a thought about time. I consider time as a precious thing. I value time more than I value wealth. I always try not to waste time, neither my time nor other's. I will feel angry if someone ruined time. Being late is a sin for me, like a big one. I hate when I am involved in something and then something comes all of a sudden without warning, because it will ruin my time.

Somehow, this thought about time is "not compatible" in Indonesia, THEY SAID. People just straightly say that "jam karet" is how Indonesian treat time.


Sometimes I understand that someone say this as a form of sarcasm, but I feel like I hate this kind of sarcasm, or maybe I actually don't like any kind of sarcasm. I don't want to be labelled as a person that cannot commit on time. So, I always try my best not to ruin time, not to be late at anything. No matter how much time I have to waste just to wait the others being late, I will not let that to ruin my commitment about time.

Unfortunately, I still have issues about this. I deal with procrastination all the time and still try to fight it. Everytime I lose a fight against procrastination, I will feel kind of stressed and angry to myself. I experienced a lot and lot of losing against procrastination, especially when it comes about assignment. Damn, I hate assignments.

Well, that's not important. The thing is, let's start to demolish this "jam karet" culture, starting by ourselves.

nb. Pardon my English, aight? ✌ Any kind of comments are welcome.

Senin, 20 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Mimpi dan Impian

Beberapa menit sebelum tulisan ini dibuat, aku sedang berselancar di Quora, to shower my brain and mind with thoughts. Ya, Quora adalah media sosial yang paling aku senangi saat ini karena Quora begitu kaya akan sudut pandang dan masyarakatnya sangat bertatakrama.

Muncullah suatu pertanyaan tentang hal yang kurang dari pendidikan di Indonesia. Salah satu jawaban mengatakan bahwa salah satu hal yang kurang dari pendidikan Indonesia adalah penanaman mimpi.

Kalau kita pernah mengenyam pendidikan di tingkat PAUD atau TK, mungkin ingat kalau di tingkat itu seringkali guru-gurunya menanyakan, "Apa cita-citamu?" dan sejenisnya. Mungkin bahkan di tingkat SD pun masih cukup sering muncul pelajaran yang berhubungan dengan cita-cita.

Aku sendiri mengalami proses bagaimana aku memiliki impian. Aku ingat saat masih kecil aku cukup sering bergonta-ganti cita-cita, dan biasanya alasanku memiliki suatu cita-cita pada saat itu sangat sederhana. Awalnya aku bercita-cita ingin menjadi astronot karena keren. Kemudian aku berubah, ingin jadi arsitek, karena aku ingin kelak membangunkan rumah dengan tanah yang luas dan di tanah itu aku ingin rumahku berdekatan dengan rumah orangtuaku dan rumah kakakku. Lalu berubah lagi, ingin menjadi ilmuwan, karena keren.

Kemudian, impian-impian ini pudar seiring aku mendewasa. Di masa-masa akhir SD hingga awal SMP, aku tidak ingat kalau aku punya mimpi yang jelas. Cita-cita yang aku mimpikan di masa kecil pudar begitu saja. Aku ingat mimpi itu, tapi entah mengapa tidak pernah aku bayang-bayangkan di masa-masa itu. Yang aku tahu hanya belajar, mendengarkan penjelasan guru tentang matematika, IPA, bahasa Inggris, bahasa Arab, Aqidah, Fikih, dll. Aku rasa, beberapa kita juga merasakan hal ini, pudarnya mimpi-mimpi kita.

Entah dari mana, suatu waktu di akhir SMP, aku bertemu dengan seorang guru di pesantrenku. Beliau seorang praktisi pengobatan tradisional. Aku kenal beliau karena kami sama-sama berlatih di ilmu beladiri yang ada di pesantrenku. Kemudian, beliau banyak menceritakan padaku tentang pengobatan tradisional. Entah mengapa saat itu aku terkagum dan akhirnya sering menghampiri beliau di waktu senggang untuk mendengarkan petuah beliau mengenai pengobatan tradisional.

Tidak lama sejak saat itu, aku memutuskan untuk kembali bermimpi dan bercita-cita menjadi seorang praktisi pengobatan tradisional yang kredibilitasnya diakui di tingkat internasional. Cita-cita itu bertahan sampai sekarang. Bahkan, di akhir masa SMA, aku bercita-cita untuk membuat suatu buku yang mengompilasi dan menyinkronkan pengobatan klasik dengan ilmu pengobatan modern. Bahkan, aku masih sangat ingat sampai sekarang, yang notabene sudah lebih 4 tahun sejak itu, bahwa nama buku itu dalam bahasa Inggris adalah Syncronization Between Traditional Medicine and Modern Medicine dan dalam bahasa Arab adalah Al-Muwafaqah. Walaupun mimpi tentang pembuatan buku ini mulai pudar, tapi mengingat bahwa aku pernah bermimpi seperti itu adalah hal yang gila (dan keren).

Mungkin jawaban Quora ini benar. Bahkan, aku kenal beberapa teman di masa perkuliahan yang seperti hanya tahunya bahwa ia hanya hidup di saat ini tanpa berpikir untuk punya mimpi. Awalnya aku cukup heran, karena aku memang sebelumnya tidak pernah bertanya-tanya tentang hal ini kepada orang-orang. Tapi setelah melihat jawaban Quora ini, mungkin salah satu akar dari permasalahan di Indonesia adalah masyarakatnya yang tidak memiliki mimpi yang jelas.

Mungkin bermimpi seperti ini bisa dianggap tidak realistis. Akhir-akhir ini aku sedang senang menonton anime, khususnya One Piece, di mana tokoh utamanya, Monkey D. Luffy, memiliki mimpi yang sangat tinggi, yaitu menjadi raja bajak laut. Padahal, Luffy ini hanya anak kecil yang masih berpikiran kekanak-kanakan, begitupun krunya. Kisah One Piece adalah fiksi, seperti halnya mimpi kita. Tapi, hei! Mimpi memang tidak pernah nyata sampai kita mencapainya. Lagipula, tidak ada yang melarang kita bermimpi. Walaupun mimpi itu tidak nyata, setidaknya kita akan tahu ada hal-hal yang kita bisa lakukan yang mengarah ke mimpi itu dan nantinya jalan hidup kita bisa terpetakan lebih jelas.

Jadi, ayo bermimpi, dan ajak peserta didikmu untuk bermimpi!

Minggu, 12 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Bersikap Sportif

Sebelum ini, aku pernah menyampaikan tentang pentingnya seorang pendidik menjadi role model untuk peserta didiknya. Jadi, apakah sewajib itu seorang pendidik menunjukkan sikap sempuran ke peserta didiknya?

Setelah dipikir-pikir, sebetulnya seorang pendidik juga manusia. Tidak mungkin ia menunjukkan kesempurnaan. Setiap pendidik pasti akan jatuh pada kesalahan tertentu, yang tentunya tidak patut ditiru oleh peserta didiknya.

Setelah dipikir-pikir, menjadi role model bukan soal menunjukkan segala hal dengan baik. Menjadi role model bukan soal menjadi sosok yang sempurna tanpa celah sedikitpun. Menjadi role model adalah tentang bersikap sportif.

Aku tidak yakin diksinya tepat, tapi kalau diibaratkan sebuah permainan, maka pemain yang baik adalah pemain yang sportif. Lebih kurang seperti itu maksudnya.

Seorang pendidik sangat mungkin salah. Seorang pendidik sangat mungkin menunjukkan sikap tidak baik. Seorang pendidik sangat mungkin keliru. Kembali lagi, ini soal sportivitas. Ada baiknya seorang pendidik mengakui ini dan tidak merasa benar saat ia memang salah. Sudah berakhir masa di mana aturan pertama adalah pendidik selalu benar dan aturan kedua adalah apabila pendidik salah maka kembali ke peraturan pertama.

Kamis, 09 Juli 2020

Keresahan: Persepsi Terhadap Media Komunikasi Daring

Media komunikasi daring sering disebut sebagai hal yang mendekatkan yang jauh. Aku akui, dalam berbagai konteks, media sosial sangat memudahkan komunikasi dengan orang yang jaraknya sangat jauh sekalipun.

Namun, sampai sekarang, aku masih tidak percaya dengan media komunikasi daring sebagai media pengantar emosi seseorang. Aku tidak bisa membaca emosi seseorang dari teks, dari suara telepon, bahkan video call sekalipun. Bukan tidak bisa, lebih tepatnya tidak percaya. Sampai saat ini, aku menganggap semua pembicaraan via media komunikasi daring adalah bentuk pembicaraan yang netral. Aku tidak ingin menyampaikan pesan-pesan yang bersifat emosional melalui media sosial, baik itu pesan semangat maupun belasungkawa.

Aku juga menganggap semua media komunikasi daring tak ubahnya surat. Aku seringkali heran, ketika ada orang menghubungi dengan hanya memanggil, "yad", kemudian sepertinya menunggu balasan dariku untuk melanjutkan pesannya. Aku lebih memilih untuk memperhatikan pesan yang bisa aku baca isinya terlebih dulu (semacam preview). Dengan itu, setidaknya aku bisa siapkan jawaban atau aku perkirakan sekiranya percakapan itu akan panjang, jadi aku akan siapkan waktu, atau sebaliknya, percakapan itu hanya membutuhkan jawaban pendek sehingga aku langsung jawab saja saat ada waktu, atau aku jadi tahu seberapa penting percakapan itu, atau banyak lagi guna dari preview itu. Aku sendiri berusaha agar kira-kira poin penting dari teksku kepada orang lain bisa dilihat via preview.

Entah kenapa, aku juga cepat merasa lelah dengan komunikasi via media daring. Aku lebih kuat mengobrol dengan seseorang selama 1 jam penuh sekalipun topiknya tidak begitu menarik, dibandingkan aku harus berkomunikasi via media daring selama 10 menit.

Pada akhirnya, slogan "jarak tidak lagi memisahkan" tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, jarak tetap memiliki pengaruh terhadap kualitas komunikasi.

Disclaimer: Tulisan ini adalah keresahan dari pengalaman pribadi tanpa mengetahui ilmu komunikasi.

Tujuan Bersama vs Sama Tujuannya

"Ayo, kita lulus bareng-bareng!" kata sekelompok mahasiswa baru.

Pernyataan di atas berarti mereka punya tujuan bersama, kan?

Belum tentu.

Memiliki tujuan bersama dan memiliki tujuan yang sama belum tentu sama. Ketika suatu kelompok memiliki tujuan bersama, mereka akan mencapai tujuan itu bersama dan tidak meninggalkan satupun anggota kelompoknya. Ketika sekelompok orang memiliki tujuan yang sama, ada kemungkinan tujuan mereka hanya kebetulan sama, namun pada akhirnya mereka akan mencapai tujuan itu sendiri-sendiri tanpa begitu peduli bagaimana kondisi rekannya yang sama tujuannya itu.

-Hasil diskusi malam ini dengan rekan yang sama tujuannya-

Senin, 06 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 4

5 Juni 2020

Hari ini aku tidak mempersiapkan bahan ajar secara maksimal. Takdir Allah, aku sakit diare 2 hari ke belakang. Ya, mau bagaimanapun, pendidik juga manusia. Akhirnya, aku hanya melakukan latihan lebih lanjut dari ilmu yang sudah kuajarkan di pertemuan sebelumnya. Aku baru ingat, kalau pertemuan sebelumnya aku tidak mengajak peserta didikku untuk mempraktikkan contoh dari tiap bahan satu per satu. Ternyata, setelah dicoba hari ini, mereka masih belum lancar bahkan dengan contoh-contoh yang sudah diberikan sebelumnya. Aku jadi bersyukur karena tidak memberikan materi baru hari ini. Seharusnya, setiap materi diberikan, peserta didikku harus aku pastikan mampu mempraktikkannya, setidaknya dengan contoh-contoh yang aku berikan.

Sabtu, 04 Juli 2020

Keresahan: Prolog

Setiap kita pasti pernah merasa resah. Rasanya seperti ada hal yang mengganjal, seperti ada yang salah, seperti tidak menenangkan hati.

Setiap kita mungkin pernah berpikir bahwa setiap hal yang kita resahkan itu artinya ada yang salah pada hal tersebut. Keresahan tersebut akhirnya akan mengeluarkan respons yang berbeda-beda dari tiap orang: sebagian orang akan langsung tergerak untuk mengubahnya dengan rasa yakin bahwa hal tersebut salah, sebagian lagi akan berpikir lebih lama atau bahkan berdiskusi untuk meyakinkan adanya galat pada hal itu, dan sebagian lainnya hanya akan memendam keresahan itu karena sama sekali tidak yakin atau sebab lainnya.

Apakah salah untuk resah? Tidak. Keresahan lahir ketika kita melihat peristiwa tertentu, lantas peristiwa tersebut berlainan dengan prinsip atau pendapat pribadi kita. Sebagaimana wajar seseorang punya prinsip tersendiri, merasa resah juga wajar.

Apakah salah untuk merespons keresahan? Belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Aku ulangi, keresahan lahir dari pendapat pribadi. Tentunya, tidak semua pendapat pribadi bisa kita wujudkan, apalagi ketika sangkut pautnya dengan sesuatu yang bersifat publik. Juga, belum tentu hal yang kita resahkan adalah hal yang salah. Bahkan, mungkin saja pendapat kita yang justru salah. Bentuk-bentuk respons yang aku sebutkan sebelumnya bisa jadi tepat ketika diberikan pada situasi yang sesuai, dan bisa jadi tidak tepat ketika diberikan pada situasi yang tidak sesuai.

Aku? Aku memilih untuk menceritakan keresahan, lalu berpikir, hingga akhirnya memilih respons. Aku menceritakan keresahan agar setidaknya aku merasa lebih lega, karena menyimpan keresahan membuat hati tidak nyaman. Aku berpikir untuk meninjau dari sebanyak mungkin sudut pandang, yang barangkali aku akhirnya menemukan bahwa keresahanku salah atau tidak ada artinya. Ketika aku sudah merasa yakin akan posisi keresahanku di lain mata, aku akan memilih; aku tindaklanjuti keresahanku atau aku akhiri keresahan itu di hatiku.

Inilah salah satu sebabnya aku merasa tidak akan cocok berada di posisi pengambil keputusan ketika keputusan itu dibutuhkan cepat. Aku merasa lebih tenang ketika aku diminta berpikir dengan waktu yang cukup (ini adalah bagian dari keresahanku).

Selanjutnya, aku akan menjadikan tulisan ini sebagai wadah penampung keresahanku. Hatiku seperti sudah tidak cukup untuk menampung keresahan-keresahanku. Jadi, aku akan bagi saja ke wadah ini.