Aku punya pengalaman tidak mengenakkan sebagai peserta didik.
Aku mengenali diriku sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan multitasking yang baik, sehingga aku merasa harus melakukan hal satu persatu. Begitupun dalam hal belajar, aku merasa tidak nyaman ketika harus menggabungkan lebih dari 1 kegiatan, misalnya mendengarkan sembari menulis, apalagi mendengarkan sembari menulis sesuatu yang terpampang di papan tulis atau proyektor. Dua kegiatan saja sudah membuatku tidak fokus, apalagi tiga.
Kejadian tidak mengenakkan itu terjadi saat perkuliahan semester 2. Aku mengikuti kuliah yang memiliki banyak detail. Aku ingat sekali saat itu bahasannya adalah tentang kandungan kimia dalam tumbuhan. Pengisinya adalah seorang ibu dosen.
Sebetulnya, rekan-rekan dari kelas lain yang sudah mengikuti perkuliahan beliau sudah mewanti-wanti untuk tidak melakukan hal-hal tidak baik di kelas beliau, karena jika demikian, beliau akan mengganti bahasan kuliah hari itu menjadi bahasan tentang kelakuan mahasiswa. Akupun mengusahakan yang biasa aku lakukan (dan menurutku sudah cukup baik sebagai seorang pelajar): duduk di barisan depan dan menyimak secara saksama materi yang disampaikan. Ada yang kurang? Ya, yaitu mencatat.
Aku akui, ada satu kesalahan yang aku lakukan: tidak menyiapkan alat tulis di atas meja. Tapi, sekalipun aku siapkan, aku bisa jamin saat itu aku tidak akan menyentuh satupun alat tulis itu, kecuali bolpoin untuk dimainkan karena aku butuh distraksi kecil. Kenapa aku tidak menyentuh alat tulis? Karena sepanjang perkuliahan, yang ibu dosen ini lakukan adalah terus menjelaskan sembari menunjukkan Powerpoint, otomatis aku hanya akan sibuk mendengarkan dan sedikitnya akan terbagi dengan melihat. Andaikata ibu dosen ini memberikan jeda di tiap halaman Powerpoint-nya, aku mungkin akan mencatat, mungkin.
Otomatis, posisi dudukku yang paling depan, lebih tepatnya di depan beliau berdiri, terlihat oleh beliau. Jadilah 30 menit setelahnya adalah beliau menegurku dan memberi wejangan. Terlebih lagi, beliau ini aku kenali sebagai sosok yang memiliki kata-kata yang to the point, bahkan terkadang menembus point itu sendiri. Jadilah pengalaman ini sebagai pengalaman paling tidak mengenakkan buatku selama perkuliahan. Sungguh, telingaku saat itu literally terasa panas.
Sebagai catatan, hal itu tidak menghilangkan rasa hormatku terhadap beliau. Sekalipun cara beliau menyampaikan teguran itu tidak mengenakkan, aku berusaha menangkap maksud beliau dan aku tetap mengakui beliau sebagai pendidik yang niat, bahkan cenderung bersikap mengayomi. Bahkan, tahun lalu aku bekerja sebagai asisten laboratorium di bawah bimbingan beliau.
Aku hanya tidak pernah mengerti sikap beliau hingga saat ini, yaitu sikap beliau yang seperti menuntut bahwa cara orang belajar haruslah sama. Jujur, setelah kejadian itu, aku mencoba untuk memperbaikinya, bahkan sekalipun bukan di kelas beliau. Aku menyiapkan catatan di tiap perkuliahan, hanya untuk mendapati pada akhirnya tidak ada catatan yang kudapat kecuali dosen terkait memberikan jeda khusus untuk menulis. Akhirnya, setiap kelas beliau, aku keluarkan catatan hanya untuk berpura-pura mencatat.
Ini menjadi poin penting yang aku masih percayai saat ini, bahwa tiap peserta didik memiliki gaya belajarnya masing-masing. Bahkan, kalau berbicara pendidikan formal, tidak semua peserta berniat untuk mengikuti kelas tertentu. Beberapa peserta didik hanya mengikuti alur yang disediakan orangtuanya tanpa berpikir sedikitpun sebelumnya untuk mengikuti kelas itu.
Solusinya?
Seorang pendidik, mau tidak mau, perlu memutar otak untuk menyiapkan metode pembelajaran yang semaksimal mungkin mengakomodasi berbagai bentuk dan karakteristik peserta didik.
Aku tahu, ini akan jadi jalan yang panjang. Mempelajari karakteristik peserta didik mungkin seperti mempelajari susunan DNA: sepertinya tidak akan ada ujungnya. Sepertinya, begitulah takdir seorang pendidik: memulai sebagai peserta didik dan tetap menyandang gelar seorang peserta didik, sekalipun sudah menjadi pendidik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar