Selasa, 28 Juli 2020

Keresahan: Relativitas Waktu

TULISAN INI TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN TEORI FISIKA KUANTUM, TEORI EINSTEIN, DAN SEBANGSANYA.

Iya, bukan tulisan ilmiah ya. Hanya opini yang lahir dari pengalaman 😊

Ada ungkapan yang cukup akrab di telingaku:
"Waktu terasa lebih cepat kalau dinikmati, lebih lambat kalau tidak dinikmati."
Mungkin ungkapan di atas juga tidak asing bagi kalian.

Ceritanya, saat itu aku sedang libur. Aku lupa cerita ini terjadi setelah aku menulis "Menghargai Waktu Libur" atau belum, tapi ini sangat terkait. Aku ingat saat itu aku niatkan liburku untuk menjadi ajang menjadi lebih dekat dan lebih banyak membantu orangtua.

Saat itu, aku merasa waktu terasa sangat lambat. Sekitar 2 pekan aku berlibur di rumah, tapi rasanya seperti mungkin 3 pekan atau 1 bulan. Aku rasa-rasa, padahal saat itu aku menikmati hari libur itu, dengan sebisa mungkin lebih banyak dekat dengan orangtua.

Suatu waktu saat itu, ada sebuah diskusi yang dimulai dari ibuku yang berkata,

"Kalau kita nikmatin waktu, biasanya akan terasa cepet yah..." kurang lebih begitu kata ibuku.

Aku yang sudah menyadari sebaliknya, menjawab, "Nggak tuh, sekarang Jiyad ngerasa lebih lambat." Iya, panggilanku di rumah di antaranya adalah Jiyad.

Langsung ibuku menimpali, "Berarti kamu nggak nikmatin dong?" Ya tentu langsung kujawab, "Nggak gitu, ummiii." Aku takut jawabanku sebelumnya menyinggung perasaaan ibuku, tapi aku tidak ingin berdebat dengan ibuku. Ya sudah, aku diamkan saja, berharap bahasan itu tidak berlanjut.

Kejadian itu cukup mengganggu pikiranku. Bahkan, setiap aku teringat kejadian itu, itu selalu mengganggu dan membuatku resah. Ingatan itu selalu membuatku berpikir, "Apa iya aku tidak menikmati waktu itu? Apa benar perasaan cepat lambatnya waktu pasti terkait dengan perasaan kita yang menikmati waktu itu atau tidak? Lalu, apa perasaan yang muncul waktu liburan itu? Kenapa aku merasa senang dan waktu terasa lambat?" Ah, mengganggu sekali!

Hingga akhirnya, setelah cukup lama berpikir dan mengumpulkan pandangan, aku menyimpulkan suatu hipotesis, mungkin itu istilahnya ya, hehe 😐

Begini:
"Waktu terasa lambat ketika berkah, dan terasa cepat ketika tidak berkah"
Dari mana hipotesis ini?

Begini.

Berkah sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya "terus bertambah", "kebaikan" dan makna yang tidak jauh dari dua kata tersebut. Artinya, sesuatu yang berkah akan terasa cukup, bahkan terasa banyak.

Ada sebuah kisah tentang Nabi Muhammad -Sholawat dan salam baginya- dan sahabatnya, Abu Huroiroh -Ridho Allah baginya-, yang bisa mendefinisikan arti berkah. Kala itu, Abu Huroiroh sangat kelaparan, hingga akhirnya beliau mendatangi Nabi dan Nabi mengajak beliau dan beberapa sahabat lain untuk disuguhkan susu. Ketika itu, Nabi yang sudah tahu bahwa Abu Huroiroh kelaparan, terlebih dulu menjamu sahabat lain sampai kenyang, hingga tersisa Nabi dan Abu Huroiroh. Terlintas di pikiran Abu Huroiroh,

"Mengapa tidak saya dulu yang dijamu? Kalau begini, susunya akan habis duluan. Tapi ini tidak jadi halangan bagiku untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya."

https://www.freepik.com/photos/background'>Background photo created by freepik - www.freepik.com

Lantas, ketika tersisa Nabi dan Abu Huroiroh, Nabi menyuguhkan susu yang tersisa kepada Abu Huroiroh terlebih dulu hingga Abu Huroiroh kenyang, sebelum akhirnya Nabi minum susu tersebut.

Oke. Apakah Abu Huroiroh menikmati rasa lapar yang ia rasakan sebelum akhirnya disuguhkan susu? Sahabat juga manusia, tentunya rasa lapar bukanlah hal yang dinikmati. Tapi, ketaatan dan ketundukan beliau kepada Nabi melahirkan keberkahan pada suguhan yang beliau minum. Susu yang mulanya beliau pikir tidak cukup, menjadi terasa mengenyangkan.

Oke. Sekarang, think about it this way:

Mungkin kalian pernah merasa waktu lebih lambat dari biasanya. Coba ingat-ingat, saat apa itu? Apakah saat salat Jumat dan sedang mendengarkan khatib berceramah di atas mimbar, lalu kalian menahan kantuk yang berat? Apakah saat salat tarawih dan imam membaca surat yang tidak biasa dibaca sehingga terasa seperti bacaan panjang? Ketika berpuasa di bulan Ramadhan dan hari sedang panas terik? Ataukah ketika sedang membaca Alquran? Atau apa?

Cocokologi? Iya. Tidak ada bukti valid? Iya. Tidak sesuai dengan perhitungan matematis? Mungkin iya. Makanya aku sebut hipotesis. Percaya atau tidak? Silakan buktikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar