Senin, 20 Juli 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Mimpi dan Impian

Beberapa menit sebelum tulisan ini dibuat, aku sedang berselancar di Quora, to shower my brain and mind with thoughts. Ya, Quora adalah media sosial yang paling aku senangi saat ini karena Quora begitu kaya akan sudut pandang dan masyarakatnya sangat bertatakrama.

Muncullah suatu pertanyaan tentang hal yang kurang dari pendidikan di Indonesia. Salah satu jawaban mengatakan bahwa salah satu hal yang kurang dari pendidikan Indonesia adalah penanaman mimpi.

Kalau kita pernah mengenyam pendidikan di tingkat PAUD atau TK, mungkin ingat kalau di tingkat itu seringkali guru-gurunya menanyakan, "Apa cita-citamu?" dan sejenisnya. Mungkin bahkan di tingkat SD pun masih cukup sering muncul pelajaran yang berhubungan dengan cita-cita.

Aku sendiri mengalami proses bagaimana aku memiliki impian. Aku ingat saat masih kecil aku cukup sering bergonta-ganti cita-cita, dan biasanya alasanku memiliki suatu cita-cita pada saat itu sangat sederhana. Awalnya aku bercita-cita ingin menjadi astronot karena keren. Kemudian aku berubah, ingin jadi arsitek, karena aku ingin kelak membangunkan rumah dengan tanah yang luas dan di tanah itu aku ingin rumahku berdekatan dengan rumah orangtuaku dan rumah kakakku. Lalu berubah lagi, ingin menjadi ilmuwan, karena keren.

Kemudian, impian-impian ini pudar seiring aku mendewasa. Di masa-masa akhir SD hingga awal SMP, aku tidak ingat kalau aku punya mimpi yang jelas. Cita-cita yang aku mimpikan di masa kecil pudar begitu saja. Aku ingat mimpi itu, tapi entah mengapa tidak pernah aku bayang-bayangkan di masa-masa itu. Yang aku tahu hanya belajar, mendengarkan penjelasan guru tentang matematika, IPA, bahasa Inggris, bahasa Arab, Aqidah, Fikih, dll. Aku rasa, beberapa kita juga merasakan hal ini, pudarnya mimpi-mimpi kita.

Entah dari mana, suatu waktu di akhir SMP, aku bertemu dengan seorang guru di pesantrenku. Beliau seorang praktisi pengobatan tradisional. Aku kenal beliau karena kami sama-sama berlatih di ilmu beladiri yang ada di pesantrenku. Kemudian, beliau banyak menceritakan padaku tentang pengobatan tradisional. Entah mengapa saat itu aku terkagum dan akhirnya sering menghampiri beliau di waktu senggang untuk mendengarkan petuah beliau mengenai pengobatan tradisional.

Tidak lama sejak saat itu, aku memutuskan untuk kembali bermimpi dan bercita-cita menjadi seorang praktisi pengobatan tradisional yang kredibilitasnya diakui di tingkat internasional. Cita-cita itu bertahan sampai sekarang. Bahkan, di akhir masa SMA, aku bercita-cita untuk membuat suatu buku yang mengompilasi dan menyinkronkan pengobatan klasik dengan ilmu pengobatan modern. Bahkan, aku masih sangat ingat sampai sekarang, yang notabene sudah lebih 4 tahun sejak itu, bahwa nama buku itu dalam bahasa Inggris adalah Syncronization Between Traditional Medicine and Modern Medicine dan dalam bahasa Arab adalah Al-Muwafaqah. Walaupun mimpi tentang pembuatan buku ini mulai pudar, tapi mengingat bahwa aku pernah bermimpi seperti itu adalah hal yang gila (dan keren).

Mungkin jawaban Quora ini benar. Bahkan, aku kenal beberapa teman di masa perkuliahan yang seperti hanya tahunya bahwa ia hanya hidup di saat ini tanpa berpikir untuk punya mimpi. Awalnya aku cukup heran, karena aku memang sebelumnya tidak pernah bertanya-tanya tentang hal ini kepada orang-orang. Tapi setelah melihat jawaban Quora ini, mungkin salah satu akar dari permasalahan di Indonesia adalah masyarakatnya yang tidak memiliki mimpi yang jelas.

Mungkin bermimpi seperti ini bisa dianggap tidak realistis. Akhir-akhir ini aku sedang senang menonton anime, khususnya One Piece, di mana tokoh utamanya, Monkey D. Luffy, memiliki mimpi yang sangat tinggi, yaitu menjadi raja bajak laut. Padahal, Luffy ini hanya anak kecil yang masih berpikiran kekanak-kanakan, begitupun krunya. Kisah One Piece adalah fiksi, seperti halnya mimpi kita. Tapi, hei! Mimpi memang tidak pernah nyata sampai kita mencapainya. Lagipula, tidak ada yang melarang kita bermimpi. Walaupun mimpi itu tidak nyata, setidaknya kita akan tahu ada hal-hal yang kita bisa lakukan yang mengarah ke mimpi itu dan nantinya jalan hidup kita bisa terpetakan lebih jelas.

Jadi, ayo bermimpi, dan ajak peserta didikmu untuk bermimpi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar