Setiap kita pasti pernah merasa resah. Rasanya seperti ada hal yang mengganjal, seperti ada yang salah, seperti tidak menenangkan hati.
Setiap kita mungkin pernah berpikir bahwa setiap hal yang kita resahkan itu artinya ada yang salah pada hal tersebut. Keresahan tersebut akhirnya akan mengeluarkan respons yang berbeda-beda dari tiap orang: sebagian orang akan langsung tergerak untuk mengubahnya dengan rasa yakin bahwa hal tersebut salah, sebagian lagi akan berpikir lebih lama atau bahkan berdiskusi untuk meyakinkan adanya galat pada hal itu, dan sebagian lainnya hanya akan memendam keresahan itu karena sama sekali tidak yakin atau sebab lainnya.
Apakah salah untuk resah? Tidak. Keresahan lahir ketika kita melihat peristiwa tertentu, lantas peristiwa tersebut berlainan dengan prinsip atau pendapat pribadi kita. Sebagaimana wajar seseorang punya prinsip tersendiri, merasa resah juga wajar.
Apakah salah untuk merespons keresahan? Belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Aku ulangi, keresahan lahir dari pendapat pribadi. Tentunya, tidak semua pendapat pribadi bisa kita wujudkan, apalagi ketika sangkut pautnya dengan sesuatu yang bersifat publik. Juga, belum tentu hal yang kita resahkan adalah hal yang salah. Bahkan, mungkin saja pendapat kita yang justru salah. Bentuk-bentuk respons yang aku sebutkan sebelumnya bisa jadi tepat ketika diberikan pada situasi yang sesuai, dan bisa jadi tidak tepat ketika diberikan pada situasi yang tidak sesuai.
Aku? Aku memilih untuk menceritakan keresahan, lalu berpikir, hingga akhirnya memilih respons. Aku menceritakan keresahan agar setidaknya aku merasa lebih lega, karena menyimpan keresahan membuat hati tidak nyaman. Aku berpikir untuk meninjau dari sebanyak mungkin sudut pandang, yang barangkali aku akhirnya menemukan bahwa keresahanku salah atau tidak ada artinya. Ketika aku sudah merasa yakin akan posisi keresahanku di lain mata, aku akan memilih; aku tindaklanjuti keresahanku atau aku akhiri keresahan itu di hatiku.
Inilah salah satu sebabnya aku merasa tidak akan cocok berada di posisi pengambil keputusan ketika keputusan itu dibutuhkan cepat. Aku merasa lebih tenang ketika aku diminta berpikir dengan waktu yang cukup (ini adalah bagian dari keresahanku).
Selanjutnya, aku akan menjadikan tulisan ini sebagai wadah penampung keresahanku. Hatiku seperti sudah tidak cukup untuk menampung keresahan-keresahanku. Jadi, aku akan bagi saja ke wadah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar