Minggu, 28 Juni 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 3

28 Juni 2020

Hari ini hari ketiga aku mengajar. Hari ini sebenarnya berjalan biasa saja. Adik balita yang pekan lalu ikut duduk bersama kami masih ikut seperti pekan lalu. Tapi, hari ini membuatku menyadari hal-hal yang masih perlu aku pelajari sebagai calon pendidik profesional:
  1. Aku masih saja bicara kurang lancar dalam proses mengajar. Padahal, materi yang aku sampaikan aku pikir sudah sepenuhnya aku pahami, bahkan aku praktikkan sehari-hari. Kerangka pemikirannya pun sudah aku coba susun untuk memudahkanku menyampaikan materi secara sistematis. Setelah aku renungkan, ada beberapa hal yang menyebabkan bicara kurang lancar ketika mengajar: bisa jadi aku masih kurang yakin dengan apa yang aku sampaikan, bisa jadi aku sangat kurang latihan, bisa jadi karena memang pengalaman yang masih sedikit sehingga masih kaku. Ini tentu tidak baik bagi peserta didik secara khusus. Kalau pendidiknya saja tidak yakin dengan yang disampaikan, bagaimana peserta didiknya akan yakin?
  2. Aku masih tidak bisa tegas mengatakan kalau keilmuan dan kemampuan peserta didik dalam bidang keilmuan yang aku ajarkan masih di bawah rata-rata. Karena bentuk pengajaran yang aku berikan memiliki porsi praktik dan latihan yang banyak, kemampuan peserta didik sangat terlihat. Tapi aku selalu berpikir untuk menutupi kesan ketidakmampuan peserta didik karena khawatir peserta didiknya merasa rendah diri. Padahal, setelah aku pikir lagi, justru pendidik harus transparan akan penilaiannya terhadap peserta didik agar peserta didik bisa mengevaluasi diri. Aku harus betul-betul belajar bagaimana menyampaikan evaluasi secara netral sehingga peserta didik dapat menangkap evaluasinya. Sepertinya aku akan coba melakukan asesmen terhadap mereka tentang bagaimana mereka menerima kritik atau evaluasi. Aku juga harus banyak membaca psikologi pendidikan.
  3. Aku menyadari kalau ada suatu titik di tengah-tengah profesionalitas penuh dan keakraban sebagai keluarga untuk menjadi seorang pendidik. Aku mencoba untuk memosisikan diri sebagai "kakak" bagi peserta didikku, tapi tetap saja salah satu peserta didikku memanggil dengan panggilan "Pak". Ya sudahlah, sepertinya porsi panggilan sebagai pengaruh dalam perspektif peserta didik ke pendidik tidak sebesar itu. Pokoknya, aku akan selalu memosisikan diri sebagai "kakak" bagi mereka.
Apapun itu, demi menjadi pendidik profesional, aku harus terus menempuh jalannya. Aku jadi berpikir ulang. Awalnya, aku berniat untuk bekerja di industri farmasi setidaknya 2 tahun karena aku berniat menjadi dosen di bidang teknologi farmasi dan perindustrian farmasi. Tapi, kalau aku melakukan itu, kira-kira apakah aku masih bisa menggali lebih tentang dunia pendidikan? Aku tidak mau jadi seorang dosen yang pintar sendirian dengan berpuluh-puluh publikasi. Aku merasa lebih baik menaruh fokusku pada peserta didik. Aku juga masih bertanya-tanya, kenapa dosen seperti dituntut untuk melakukan penelitian? Maksudku, tentu untuk mengembangkan keilmuan, tetapi terkadang aku merasa sebab penelitian itulah peserta didik jadi terbengkalai. Aku tidak berasumsi apapun saat ini, hanya bertanya-tanya. Tapi, aku akan berusaha sebagai pendidik untuk menaruh peserta didik pada prioritas paling tinggi, insyaallaah.

Rabu, 24 Juni 2020

Banyak Jalan Menuju Roma (?)

Ini adalah sebuah pepatah yang sangat populer.
"Banyak jalan menuju Roma."
Maknanya, jalan untuk mencapai suatu tujuan itu ada banyak, maka jangan merasa gagal ketika suatu cara tidak berhasil. Lebih kurang seperti itu maknanya.

Setelah dipikir-pikir, kalau mengibaratkan kita akan menuju Roma, yang mana adalah suatu tempat, tentu kita akan membutuhkan peta. Walaupun kiranya benar bahwa banyak jalan ke sana, kalau kita tidak tahu jalannya, bagaimana kita akan ke sana?

Sebelumnya, aku memahami pepatah ini secara kurang dalam. Awalnya, aku pikir pepatah ini maknanya hanya sampai "jangan merasa gagal." Ternyata, ada makna tersirat lainnya, yaitu "kalau ingin ke suatu tujuan, petakanlah sebanyak mungkin jalan menujunya."

Senin, 22 Juni 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 2

21 Juni 2020
\
Hari ini hari kedua aku mengajar. Awalnya berjalan seperti biasa, berangkat pagi, menunggu siang, dan mengajar sore. Hari ini, aku berinisiatif menggunakan laptop untuk memutarkan beberapa video motivasi.

Di tengah-tengah proses mengajar, ada balita datang ke tempat kami belajar. Seperti balita pada umumnya, dia bermain-main ketika kami sedang belajar. Awalnya, jujur, cukup mengganggu. Dia terus mencoba mengikuti setiap yang aku katakan sehingga agak berisik. Bahkan, dia sempat tersandung layar laptopku. Untung saja laptopku masih baik-baik saja.

Tapi, setelah aku pikir-pikir, aku jadi kagum dengan balita ini. Akhirnya, selepas mengajar, aku coba ajak mengobrol balita itu. Dia adalah adik dari peserta didikku. Dia masih berusia 3 tahun. Dia bahkan belum bisa membaca atau berbicara dengan jelas. Yang membuatku kagum adalah, selepas itu aku berbicara dengan ibu peserta didik dan beliau bilang, "iya itu adiknya bilang mau ikut ngaji, takut ngeganggu." Aku kagum sekaligus tidak mengerti, apa motivasi seorang anak kecil yang bahkan belum bisa membaca, untuk ikut pelajaran mengaji. Mungkin, motivasinya sesederhana ingin ikut kakaknya. Tapi melihat di prosesnya dia selalu mengikuti apa yang aku bicarakan, aku rasa justru akan baik ketika aku biarkan dia ikut. Ke depannya, kata-kataku bisa jadi terukir di memorinya, sehingga kelak anak ini akan betul-betul termotivasi mempelajari Alquran.

Ah, ingin sekali aku tetap berjiwa anak kecil: berani mengambil risiko, inisiatif meskipun bahkan belum tahu persis apa yang dilakukan, bersemangat. Ini menjadi pelajaran baru buatku: 
"Stay childish!"

Jumat, 19 Juni 2020

Cerita Tentang Rasa dan Kepercayaan

Aku mulai merasa kalau sifat bawaanku adalah tidak bisa memendam cerita tentang rasa: cerita senang, sedih, cinta, marah, dan rasa lainnya. Maka, aku pasti akan bercerita ketika aku sedang memendam perasaan.

Dulu, aku dengan mudah akan menceritakan ke orang-orang yang aku rasa termasuk teman dekatku mengenai perasaanku. Entah apa yang kuharapkan dari itu, tapi rasanya tidak tenang saja ketika ada cerita tentang rasa.

Kemudian, aku mulai mengenal bahwa ada media-media yang bisa kugunakan untuk menceritakan perasaanku. Aku mulai mencoba menceritakan perasaanku dengan cara dan media yang beragam.

Tapi, akhir-akhir ini aku disadarkan, kalau aku tidak bisa sepenuhnya percaya untuk menceritakan perasaanku ke orang. Aku mengalami hal yang entah mengapa, pada akhirnya seperti mereset kepercayaanku. Hari-hari ini, aku rasa kepercayaanku terhadap semua orang telah dimulai dari nol lagi. Aku tidak bisa menceritakan perasaanku pada orang dengan cara sembarang.

Akhirnya, cerita tentang rasaku berhenti di sini, tertuang dalam tulisan-tulisan dan mungkin gambar-gambar. Aku rasa dengan begini, hatiku cukup merasa tenang karena aku sudah menceritakan rasaku, setidaknya kepada diriku sendiri, satu-satunya orang yang masih bisa kupercaya saat ini. Entah kalau ada temanku yang nantinya bisa kupercaya akan membaca ini.

Pokoknya, jangan kaget kalau aku akan menjadi sosok yang berbeda dari yang kalian kenal sebelumnya.

Rabu, 17 Juni 2020

Mengejar Setengah Impian

Suatu hari, aku membeli kanebo motor untuk digunakan sebagai lap serbaguna. Umiku mengetahuinya sampai akhirnya ia bilang padaku,
"Beli kanebonya dulu aja ya, nanti motornya nyusul? Hahaha."
Akupun ikut tertawa.

Aku paham betul maksudnya adalah bercanda. Akupun memang saat itu sangat menginginkan motor tapi belum sampai. Tapi aku suka menanggapi hal bercanda secara serius. Aku coba terjemahkan lawakan umiku menjadi seperti ini,
Berarti bisa ya, untuk hal-hal yang kita impikan, kita coba capai sebagiannya dulu, walaupun hanya hal sederhana atau sepele.
Setelah aku ingat-ingat, aku sudah banyak melakukan hal ini sejak SMA. Aku ingat sekali menamai berbagai akun di media sosial dengan menambahkan kata "Sinshe" di depannya, dengan berharap di masa depan nama "Sinshe" itu betul-betul melekat di namaku secara resmi, sampai-sampai abiku menegurku karena aku menamai akun surelku dengan imbuhan tersebut karena khawatir orang-orang akan salah mengira. Banyak orangtua juga melakukan hal ini, yaitu dengan menamai anaknya dengan hal yang diharapkan menjadi masa depan anaknya.

Setelah aku pikir-pikir, ini menjadi dekat dengan suatu kaidah dalam ilmu fikih,
"Apa-apa yang tidak bisa dilakukan seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya!"
Punya impian tetapi belum sampai? Jangan ditinggalkan! Coba lakukan hal kecil dari impian tersebut. Punya impian membangun usaha perdagangan? Coba ciptakan namanya dulu. Punya impian menyandang gelar tertentu? Coba tuliskan dulu di buku-buku bacaanmu, di buku tulismu, atau di tempelan-tempelan yang menjadi tanda kepemilikanmu.

Tulisan ini ditulis oleh (calon) Sinshe Prof. apt. Ziyad Aslam Ghatafan, S.Farm.,, Ph.D., (calon) dosen dan pakar teknologi farmasi, (calon) konsultan industri farmasi, (calon) praktisi pengobatan tradisional, dan (calon) praktisi profesional pendidikan

Minggu, 14 Juni 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Diari Pengalaman 1

Akhir April 2020
Aku mulai berpikir untuk melakukan eksperimen kemandirian finansial yang sudah aku coba lakukan sejak semester 2 kuliah, tapi kali ini aku ingin membawanya ke tingkat yang makin dan makin serius. Aku berpikir, bagaimana aku bisa mendapatkan pemasukan keuangan? Berjualan? Aku masih berpihak itu akan sangat sulit sekarang, dengan pengalaman dan ilmu yang masih sangat minim, ditambah dengan kondisi pembatasan fisik dan sosial sebab pandemi Covid-19.

Aku berpikir untuk beralih ke pekerjaan. Aku berpikir, pekerjaan apa yang bisa dan ingin aku geluti? Dalam taraf ekstrem, aku berpikir untuk terjun ke pekerjaan fisik, seperti kuli, buruh angkut, dan semacamnya. Tapi, aku urungkan niat itu sementara, aku coba pikirkan secara jernih.

Aku ingat, dulu aku sering berangan-angan untuk menjadi pendidik. Aku menganggap profesi di bidang edukasi sangat menyenangkan dan sangat mulia. Aku bergumam, "kenapa tidak coba jadi tutor?"

Aku mulai mencari lowongan tutor privat di internet. Aku berikhtiar dengan mendaftar di berbagai lembaga dengan bidang utama sebagai pengajar Alquran dan bidang lainnya mencakup tutor MIPA SD SMP.

Pada hari ini juga aku bertekad, kalau aku akan menjadikan dunia pendidikan sebagai passion dan profesiku ke depannya.

1 Mei 2020
Aku melakukan salah satu ikhtiarku dengan mendaftar di Hamasah Privat Bandung. Aku hubungi admin via WhatsApp.

2 Mei 2020
Admin Hamasah Privat hari itu membalas dan menggabungkan aku ke dalam grup WhatsApp Ruang Tutor Hamasah. Jadi, rupanya teknis lowongannya itu dibagikan di grup kemudian para tutor berlomba menghubungi admin untuk mengisi lowongan tersebut. Lantas aku menunggu ada lowongan yang sesuai.

4 Juni 2020.
Satu bulan ke belakang, aku ikut berlomba dengan para tutor di Hamasah Privat. Sudah satu kali aku mendapatkan lowongan yang sesuai, tapi aku kalah cepat. Hingga hari ini, ada lowongan yang kebetulan sekali muncul saat aku sedang membuka gawai. Aku sambar lowongan itu dengan semangat.
Jantungku berdegup cukup kencang saat itu, berharap kali ini peruntunganku berhasil.

5 Juni 2020
Senang. Itu saja kata yang muncul hari ini.
Alhamdulillaah.

14 Juni 2020
Jujur, beberapa hari ke belakang adalah hari-hari yang membuatku tidak nyaman. Mungkin karena bosan, tertekan, atau entahlah. Aku khawatir karena hari ini adalah hari pertama aku akan mengajar, sedangkan suasana hatiku sedang tidak baik. Tapi, aku sudah bertekad, aku akan ambil konsekuensinya, apapun itu.

Aku berangkat pagi dengan bus Damri, turun di Dipati Ukur, lalu berjalan ke lokasi privat. Privatnya akan dimulai pukul 16.00 tapi aku sudah di dekat lokasi dari 11.00. Akhirnya, aku menunggu di masjid terdekat sembari membaca ulang materi yang akan aku berikan.

Hingga akhirnya tiba waktunya, aku berangkat ke rumah peserta didik. Gerbang rumah dibukakan oleh salah satu peserta. Namanya Farrel. Aku dipersilakan duduk di ruang tamu, akhirnya Farrel dan saudarinya duduk di ruang tamu juga. Iya, tidak salah, itu saudarinya. Aku juga kaget ketika beberapa hari sebelum hari ini aku diberi tahu oleh pihak penanggung jawab peserta didik bahwa satu peserta lagi bukan siswa, tapi siswi. Lebih kaget lagi, aku baru tahu hari ini kalau siswi itu baru naik SMA kelas 10. Aku sudah membayangkan bagaimana suasananya akan kikuk. Tapi justru hari ini aku belajar lebih banyak mengenai profesionalitas dibandingkan mengikuti organisasi kampus 3 tahun ke belakang. Aku jadi ingin berandai tapi aku ingat Rasulullah pernah bilang kalau berandai adalah perbuatan setan. Privat berjalan 1 jam. Suasananya lumayan kikuk, tapi aku rasa masih dalam kendali dan aku dapat banyak sekali evaluasi hari ini. Terlebih, ujian yang terberat hari ini adalah aku, tanpa disangka, dilibatkan dalam urusan keluarga peserta didik ini, walaupun sangat sedikit bisa dibilang. Aku belajar dan berlatih betul tentang profesionalitas, di lapangan sesungguhnya.

Tidak aku sangka, kepenatan hari-hari kemarin, bahkan lelahnya proses aku berangkat hari ini, berjalan 1.9 km dari Dipati Ukur ke lokasi privat, semuanya terbayarkan. Aku senang dan bersyukur bukan main. Bahkan, yang semulanya aku merasa mengantuk saat siang hari, malam ini aku bahkan merasa tidak ingin tidur, lelah yang kurasa hanya pegal di kaki dan punggung akibat membawa ransel sambil berjalan 1.9 km.

Pokoknya, hari ini aku makin kuatkan tekad, bahwa pendidikan adalah passion dan profesiku.

Jumat, 12 Juni 2020

Aku mulai mengerti.

Aku mulai mengerti mengapa ada orang yang berkata, "Tolong ngertiin aku!", tapi dia bahkan tidak menjelaskan apapun.

Sangat mungkin, sesungguhnya dia terpengaruh pengalaman. Sangat mungkin, suatu waktu dia pernah mencoba menjelaskan. Tapi, sangat mungkin, dia berpikir, "Apa iya aku harus menjelaskan ke setiap orang setiap kali? Capek!" Akhirnya, ia hanya bisa mengeluh dan marah tidak jelas.

Tapi, aku juga tahu.

Aku tahu kalau manusia itu tidak tahu perkara gaib. Setidaknya, tidak semua manusia. Tidak bisa seseorang memahami kalau tidak diberi penjelasan. Kepekaan manusia terhadap sesuatu yang bahkan tidak dijelaskan adalah murni keberuntungan, menurutku. Bahkan, fenomena alam pun memerlukan eksperimen-eksperimen yang tidak luput dari kesalahan untuk menjelaskannya.

Jadi, apa jalan tengahnya?

Akhirnya, Aku Lelah.

Belum pernah rasanya aku mengatakan ini. Tapi, akhirnya, aku lelah.


Aku lelah, lelah berpura-pura bisa menanggung urusan orang lain hanya karena aku punya dorongan kuat untuk ingin bisa membantu, sedangkan sebenarnya urusanku sendiripun belum tuntas.

Aku lelah, lelah mengorbankan urusan pribadiku untuk mengurus kepentingan orang lain yang bahkan sesungguhnya bisa mereka lakukan tanpaku dan tidak sedikitpun memengaruhiku.

Aku lelah, lelah memikirkan kondisi orang lain sebelum aku berani mengganggu waktunya, sedangkan ternyata orang lain itu tidak ragu sedikit pun untuk menggangguku, sekalipun sebenarnya aku tidak bisa atau tidak mau. Bodohnya aku, sudah mengerti kalau semua orang itu dasarnya egois, masih saja bersikap altruistik.

Aku lelah, lelah menahan amarah yang selama ini hampir tidak pernah terlampiaskan kecuali hanya kecamuk dalam pikiran. Bukan tidak bisa, tapi aku hanya selalu terpikir mengenai hal-hal yang bahkan belum terjadi dan belum tentu terjadi, sehingga hal itu akhirnya membelenggu amarahku bak sapi gila yang diikat.

Aku lelah, lelah menjelaskan bahwa aku sudah lelah. Lelah berpikir bagaimana aku bisa menjelaskan kepada semua orang bahwa aku sedang lelah.

Sekarang, katanya kalau lelah itu jangan berhenti, tapi istirahatlah. Kalau begitu, aku ingin istirahat sekarang, boleh ya?

Catatan Kaki Calon Pendidik: Mempermalukan Peserta Didik

Satu-satunya media sosial yang mendapatkan hak istimewa dariku adalah Quora. Hak istimewa itu yaitu waktu yang aku alokasikan khusus untuk membukanya. Kenapa? Kebanyakan isi Quora yang muncul di linimasaku adalah konten yang disusun secara serius, baik itu pengalaman pribadi ataupun pengetahuan yang didasarkan pada kredibilitas penulis dan sumber yang bereputasi.

Hal yang aku khususkan untuk membaca dari Quora adalah mengenai dunia pendidikan. Aku ingin terus menambah perspektif baru sebagai calon pendidik, baik dari sudut pandang pendidik atau dari sudut pandang peserta didik. Maka, aku banyak membaca topik mengenai edukasi di Quora, yang umumnya diisi pengalaman-pengalaman pendidik dan peserta didik, enak dan tidak enaknya.

Aku menemukan sebuah keluhan yang kelihatannya menjadi keluhan banyak peserta didik: dipermalukan pendidik.

Aku berusaha tidak reaktif dan mengolah lebih dulu, kira-kira apa tujuan seorang pendidik dari mempermalukan peserta didik. Setelah membaca banyak tulisan dari Quora tentang pengalaman peserta didik dipermalukan pendidiknya, aku masih tidak menemukan adanya tujuan dalam koridor pendidikan di sini. Satu hal yang aku temukan dari perbuatan ini: kekuatan. Ya, menurutku pendidik yang melakukan ini sudah di luar koridor pendidikan, melainkan ia menunjukkan sifat buruk yang dasarnya ada pada tiap manusia, yaitu tamak akan kekuatan. Ia pikir dengan mempermalukan orang dengan "tingkat yang lebih rendah darinya" akan membuat ia kelihatan memiliki kekuasaan sehingga ia akan mendapatkan rasa hormat dari orang-orang di sekitarnya.

Menurutku, area pendidikan bukan tempat untuk mendapatkan rasa hormat. Oke, mungkin seringkali ada pepatah mengatakan, "hormatilah gurumu". Itu bukan berarti rasa hormat itu harus diminta oleh seorang pendidik kepada peserta didiknya. Bahkan, menurutku wajar apabila seorang guru direndahkan oleh peserta didiknya, dan itu harus jadi bahan evaluasi dari sang pendidik juga. Semuanya tentunya dengan batasan yang wajar.

Jadi apakah berarti kita tidak boleh mengajarkan peserta didik untuk menghormati pendidiknya? Bukan, bukan begitu. Yang tidak tepat adalah mengajarkan rasa hormat dengan mengatakan, "hormati saya!", tapi yang tepat adalah tunjukkan dengan sikap yang patut dihormati sehingga peserta didik paham bagaimana harusnya bersikap.

Jadi, untuk para pendidik di luar sana yang masih punya kebiasaan mempermalukan peserta didiknya, saya masih punya satu pertanyaan yang belum terjawab: Apa tujuan Anda mempermalukan peserta didik?

Sabtu, 06 Juni 2020

Penyesalan dan Kesia-siaan

"Sikap menyesal dan merasa sia-sia sepatutnya tidak dilakukan."
Mari aku tunjukkan mengapa:
se.sal /sêsal/
  • n perasaan tidak senang (susah, kecewa, dan sebagainya) karena telah berbuat kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya)
Penyesalan hanya muncul karena berbuat hal yang tidak baik. Tentunya kita harus pantang berbuat yang tidak baik.

Oke. Oke. Mungkin gambaran menyesal di benak kalian bukan seperti pengertian sesal di KBBI. Aku coba rangkum arti penyesalan menurut penggunaan umum:
se.sal /sêsal/
  • n perasaan kesal dengan konsekuensi suatu perbuatan sehingga merasa perbuatan tersebut sia-sia.
Seperti itu penyesalan yang kalian maksud? Oke. Tapi, aku tetap pada pendapatku, bahwa
"Sikap menyesal dan merasa sia-sia sepatutnya tidak dilakukan."
Penyesalan sangat erat dengan perasaan sia-sia. Jadi, untuk menunjukkan mengapa penyesalan itu tidak patut, aku akan tunjukkan apa itu sia-sia.
si.a-sia
  1. a terbuang-buang saja; tidak ada gunanya (harganya, manfaatnya, hasilnya); percuma: sudah minum obat ini, tetapi -- belakajerih payahnya -- saja-- berbuat baik kepada orang yang tidak berbudi
  2. a omong kosong; nonsens: pada pendapatnya kepercayaan kita ini -- belaka
  3. a gagal; tidak berhasil; tidak mendapat apa-apa: segala usahanya --harapanku -- belaka
  4. a dengan sembarangan saja; tidak dipikirkan baik-baik: kritik itu dilancarkan dengan -- saja
Sudah dibaca?

Oke. Sekarang, coba tanyakan hal ini tiap kali kalian mulai merasa sia-sia:
"Apa betul hal ini sia-sia? Apa betul tidak ada gunanya? Apa betul ini hanya omong kosong?"
Sebagai referensi, aku hanya merasakan satu penyesalan saat ini, yaitu menyesal karena pernah menyesali sesuatu dan merasa sesuatu itu sia-sia. Padahal, setelah aku lalui beberapa waktu kemudian, aku mulai merasa hal tersebut tidak sia-sia, bahkan sangat berharga. Bahkan hal paling salah sekalipun, buatku bukan suatu untuk disesali, minimal ada hikmahnya.

Dan sebagai referensi juga, di dalam Alquran kata-kata penyesalan dan sia-sia hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang terlena dengan dunia dan melupakan akhirat sehingga mendapatkan penyesalan tiada akhir. Penyesalan ini muncul sebab tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki dan mengambil hikmah. Jadi, penyesalan dan perasaan sia-sia itu tidaklah muncul kecuali di akhir dari segala sesuatu, yaitu kehidupan setelah kematian. Semoga kita termasuk golongan yang tidak menyesal kelak. Amin.