Jumat, 12 Juni 2020

Catatan Kaki Calon Pendidik: Mempermalukan Peserta Didik

Satu-satunya media sosial yang mendapatkan hak istimewa dariku adalah Quora. Hak istimewa itu yaitu waktu yang aku alokasikan khusus untuk membukanya. Kenapa? Kebanyakan isi Quora yang muncul di linimasaku adalah konten yang disusun secara serius, baik itu pengalaman pribadi ataupun pengetahuan yang didasarkan pada kredibilitas penulis dan sumber yang bereputasi.

Hal yang aku khususkan untuk membaca dari Quora adalah mengenai dunia pendidikan. Aku ingin terus menambah perspektif baru sebagai calon pendidik, baik dari sudut pandang pendidik atau dari sudut pandang peserta didik. Maka, aku banyak membaca topik mengenai edukasi di Quora, yang umumnya diisi pengalaman-pengalaman pendidik dan peserta didik, enak dan tidak enaknya.

Aku menemukan sebuah keluhan yang kelihatannya menjadi keluhan banyak peserta didik: dipermalukan pendidik.

Aku berusaha tidak reaktif dan mengolah lebih dulu, kira-kira apa tujuan seorang pendidik dari mempermalukan peserta didik. Setelah membaca banyak tulisan dari Quora tentang pengalaman peserta didik dipermalukan pendidiknya, aku masih tidak menemukan adanya tujuan dalam koridor pendidikan di sini. Satu hal yang aku temukan dari perbuatan ini: kekuatan. Ya, menurutku pendidik yang melakukan ini sudah di luar koridor pendidikan, melainkan ia menunjukkan sifat buruk yang dasarnya ada pada tiap manusia, yaitu tamak akan kekuatan. Ia pikir dengan mempermalukan orang dengan "tingkat yang lebih rendah darinya" akan membuat ia kelihatan memiliki kekuasaan sehingga ia akan mendapatkan rasa hormat dari orang-orang di sekitarnya.

Menurutku, area pendidikan bukan tempat untuk mendapatkan rasa hormat. Oke, mungkin seringkali ada pepatah mengatakan, "hormatilah gurumu". Itu bukan berarti rasa hormat itu harus diminta oleh seorang pendidik kepada peserta didiknya. Bahkan, menurutku wajar apabila seorang guru direndahkan oleh peserta didiknya, dan itu harus jadi bahan evaluasi dari sang pendidik juga. Semuanya tentunya dengan batasan yang wajar.

Jadi apakah berarti kita tidak boleh mengajarkan peserta didik untuk menghormati pendidiknya? Bukan, bukan begitu. Yang tidak tepat adalah mengajarkan rasa hormat dengan mengatakan, "hormati saya!", tapi yang tepat adalah tunjukkan dengan sikap yang patut dihormati sehingga peserta didik paham bagaimana harusnya bersikap.

Jadi, untuk para pendidik di luar sana yang masih punya kebiasaan mempermalukan peserta didiknya, saya masih punya satu pertanyaan yang belum terjawab: Apa tujuan Anda mempermalukan peserta didik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar