Kamis, 09 Juli 2020

Keresahan: Persepsi Terhadap Media Komunikasi Daring

Media komunikasi daring sering disebut sebagai hal yang mendekatkan yang jauh. Aku akui, dalam berbagai konteks, media sosial sangat memudahkan komunikasi dengan orang yang jaraknya sangat jauh sekalipun.

Namun, sampai sekarang, aku masih tidak percaya dengan media komunikasi daring sebagai media pengantar emosi seseorang. Aku tidak bisa membaca emosi seseorang dari teks, dari suara telepon, bahkan video call sekalipun. Bukan tidak bisa, lebih tepatnya tidak percaya. Sampai saat ini, aku menganggap semua pembicaraan via media komunikasi daring adalah bentuk pembicaraan yang netral. Aku tidak ingin menyampaikan pesan-pesan yang bersifat emosional melalui media sosial, baik itu pesan semangat maupun belasungkawa.

Aku juga menganggap semua media komunikasi daring tak ubahnya surat. Aku seringkali heran, ketika ada orang menghubungi dengan hanya memanggil, "yad", kemudian sepertinya menunggu balasan dariku untuk melanjutkan pesannya. Aku lebih memilih untuk memperhatikan pesan yang bisa aku baca isinya terlebih dulu (semacam preview). Dengan itu, setidaknya aku bisa siapkan jawaban atau aku perkirakan sekiranya percakapan itu akan panjang, jadi aku akan siapkan waktu, atau sebaliknya, percakapan itu hanya membutuhkan jawaban pendek sehingga aku langsung jawab saja saat ada waktu, atau aku jadi tahu seberapa penting percakapan itu, atau banyak lagi guna dari preview itu. Aku sendiri berusaha agar kira-kira poin penting dari teksku kepada orang lain bisa dilihat via preview.

Entah kenapa, aku juga cepat merasa lelah dengan komunikasi via media daring. Aku lebih kuat mengobrol dengan seseorang selama 1 jam penuh sekalipun topiknya tidak begitu menarik, dibandingkan aku harus berkomunikasi via media daring selama 10 menit.

Pada akhirnya, slogan "jarak tidak lagi memisahkan" tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, jarak tetap memiliki pengaruh terhadap kualitas komunikasi.

Disclaimer: Tulisan ini adalah keresahan dari pengalaman pribadi tanpa mengetahui ilmu komunikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar