Sempat ramai di media sosial soal konten yang mengangkat cerita di sekolah. Maklum, para pelajar mungkin merasa rindu atau kehilangan suasana sekolah sehingga mereka menginginkan nostalgia singkat melalui konten. Ada yang mengangkat tipe-tipe siswa, tipe-tipe guru, kenangan di organisasi dan kegiatan sekolah, dan lainnya.
Ada satu rupa konten yang aku soroti akhir-akhir ini: peserta didik yang cari perhatian. Beberapa pembuat konten mengangkat cerita tentang tipe siswa yang umumnya tidak disukai, yaitu mereka yang banyak bertanya saat pelajaran, terkesan mencari muka di hadapan guru atau dosen, sering follow up mengenai tugas, dan sebagainya. Singkatnya, mereka-mereka ini dijuluki sebagai "siswa caper".
Rangkuman dari konten-konten ini menyatakan bahwa "siswa caper" ini identik dengan hal-hal berikut:
- Berpenampilan rapih dan membosankan, kelihatan serba lengkap dengan tas ransel yang besar, yang disebut-sebut berpenampilan "culun".
- Selalu menempati kursi paling depan di kelas.
- Aktif di kelas, sering bertanya saat pelajaran, sehingga terkadang bisa mengulur waktu bagi yang lainnya.
- Sering menanyakan tugas yang pernah disebut oleh guru atau dosen sebelumnya, di saat siswa lain berharap guru atau dosen lupa akan tugas itu.
- Enggan bekerja sama saat ujian.
Sebenarnya, aku sendiri yang merasa tersindir ketika melihat konten-konten ini. Beberapa hal di atas ada pada diriku. Aku selalu berusaha berpenampilan rapih di kampus dengan menggunakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana serta selalu menyimpan pulpen di saku dada kemeja. Aku suka dengan ransel berukuran besar dengan kompartemen yang banyak karena aku hampir selalu membawa laptop dan botol minum berukuran 800 mL ke kampus. Aku selalu berusaha mendapatkan kursi depan, tepatnya di kursi yang bersebelahan dengan saklar lampu dan pintu, karena aku merasa nyaman saja. Aku selalu berusaha aktif di kelas dengan "menyeletuk" ketika dosen memancing keaktifan mahasiswa, karena mahasiswa di kelasku umumnya pasif dan aku pikir tidak etis membiarkan dosen bertanya tanpa dijawab sedikitpun. Sekalipun betul-betul tidak terpikirkan jawabnya, aku akan jawab bahwa aku tidak tahu. Aku paling benci bekerja sama dalam ujian, dan aku masih tidak bisa merelakan orang-orang yang mengintip jawabanku saat ujian.
Satu hal yang tidak ada padaku: aku benci tugas. Akupun bersyukur ketika ada tugas yang akhirnya dilupakan oleh dosen karena kemungkinan besar aku belum mengerjakannya.
Aku punya pandangan tersendiri mengenai cari perhatian:
Sebenarnya, apa salahnya mencari perhatian, atau lebih kasarnya disebut mencari muka? Aku mengakui kalau aku adalah tipe siswa yang senang mencari muka di hadapan dosen. Apa salahnya? Aku mencari muka karena aku tahu betul kemampuanku di bidang kuliahku saat ini sangat minimal. Dengan memiliki nama yang diingat baik di kalangan dosen, aku hanya berharap bahwa sekalipun nilaiku nantinya jelek, aku tidak jadi mahasiswa dengan predikat yang jelek juga. Akupun mencari muka dengan berusaha tidak mengganggu lingkungan sekitar. Misalnya, ketika jam belajar sudah akan selesai, aku tidak akan bertanya banyak ke dosen. Sekalipun aku punya pertanyaan, aku akan temui dosennya di luar kelas.
Terlebih, mengenai konten yang isinya menyinggung siswa yang tidak ingin bekerja sama saat ujian, aku kesal terhadap kontennya. Konten-konten ini umumnya memberikan gambaran bahwa siswa yang enggan bekerja sama saat ujian adalah siswa yang tidak layak ditemani. Sah saja untuk seseorang memilih dengan siapa dia berteman. Yang aku kesal adalah, konten ini bisa memberikan citra buruk terhadap kejujuran, dan kata-kata "buat konten saja" selalu jadi tameng. Entah bagaimana menjelaskannya, alasan aku kesal masih cukup abstrak, tapi aku hanya merasa konten seperti itu tidak baik dan tidak lucu sama sekali.
Ditambah, aku tahu cerita tentang temanku yang bersedih saat mendapatkan nilai yang rendah saat ujian, sementara rekan lainnya ada yang mendapatkan nilai yang lebih baik dan bahkan tinggi dengan jalan menyontek. Makin-makin aku kesal dengan kegiatan sontek-menyontek ini.
Pesanku, untuk rekan peserta didik, jadilah "siswa caper", tapi cobalah untuk tidak mengganggu sekitarmu. Pesanku, untuk rekan pendidik, kenali tipe-tipe peserta didik dan pelajari cara menanganinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar